Perjuangan Hidup Seorang Nadira
Cari Berita

Advertisement

Perjuangan Hidup Seorang Nadira

Minggu, 18 Maret 2018

Foto : penulis
Indikatorbima.com - Novel Laila S. Chudori yang berjudul Nadira ini bertemakan perjuangan hidup seorang Nadira yang berliku-liku. Alur dalam novel ini menggunakan alur maju mundur karena di awal bab novel ini menceritakan kematian ibunya (Jakarta, Desember 1991) lalu pada bab kedua menceritakan kisah cinta ibunya (Kemala) bersama ayahnya (Bram) di Amsterdam (April, 1957) dan pada bab ketiga menceritakan kehidupan Nadira setelah kematian ibunya tahun 1991. Sudut pandang yang digunakan Leila dalam Novel yang berjudul Nadira ini menggunakan sudut pandang Author Participant karena pengarang menggunakan nama tokoh atau kata ganti “dia”.

Novel ini menceritakan kisah perjuangan hidup yang dilakukan oleh seorang gadis bernama Nadira, anak ketiga dari pasangan yang bernama Kemala yang lahir dari keluarga Lampung-Palembang dan Bram yang lahir dari keluarga Sunda-Jawa. Penulis menggunakan pendekatan Parafastis untuk mengkritisi novel Nadira melalui perjuangan hidupnya. Perjuangan hidup Nadira meliputi aspek ekonomi dan aspek sosial.

Perjuangan Nadira dalam perekonomian berupa pekerjaan, dimana saat dia ditinggal oleh ibunda tercinta untuk selama-lamanya, akhirnya dia menyadari bahwa perjalanan hidup yang harus dia tempuh masih panjang dan dia pun bangkit dari keterpurukannya untuk melangsungkan hidupnya dan menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang wartawan yang terkenal seperti ayahnya. 

Nadira mencari pekerjaan bermodalkan ijazah S1 dengan nilai yang memuaskan di dalamnya. Gagasan tersebut diperkuat dengan kutipan yang terdapat dalam bab empat (Tasbih): “Nadira adalah anak yang pintar dan cerdas. Dia adalah lulusan terbaik di salah satu Universitas bergengsi di Kanada” (Nadira, 2015: 95). Bermodalkan ijazah S1 nya itu, dia memberanikan diri untuk mencari lowongan pekerjaan di Majalah Tera, dia pun mengikuti tes dan berbagai macam persyaratan yang diajukan oleh perusahaan tersebut. Akhirnya, dia pun lolos dan diterima bekerja sebagai wartawan di perusahaan tersebut.

Perjuangan Nadira dalam perekonomian tak berhenti disitu saja, dia harus bekerja keras untuk meliput berita setiap hari bahkan sampai larut malam dan harus bersaing dengan karyawan-karyawan lainnya demi untuk menjadi yang terbaik, serta kematian ibunya yang masih menghantui pikirannya dan masih menyayat hatinya terpaksa membuat Nadira pergi dari rumahnya dan tidur berhari-hari di bawah kolong meja kerjanya, hal tersebut terdapat dalam kutipan: “Tara memegang bahu Nadira dengan lembut agar Nadira tak terkejut. Perlahan-lahan Nadira membuka matanya. Begitu dia menyadari pemilik tangan yang membangunkannya, Nadira segera bangun dari tidurnya dan duduk tegak serta menggosok-gosok matanya. Dia keluar dari kolong meja; menyambar handuk dari salah satu lacinya” (Nadira, 2015: 96). 

Kehidupan sosial dalam perjuangan hidup seorang Nadira dibagi menjadi dua yaitu perceraian dan kematian. Dalam hidupnya, dia harus menghadapi cobaan hidup yang sangat berat. Dia harus merasakan perihnya perceraian dalam hidupnya. Suaminya, yang bernama Niko seorang pemuda aktivis dan kaya raya yang mampu mengalihkan perhatian Nadira ternyata berselingkuh dengan bosnya sendiri. Sebenarnya, Kang Arya melarang Nadira untuk menikah dengan Niko, karena Kang Arya mengetahui bahwa Niko adalah laki-laki yang tidak baik untuk adiknya.

Niko adalah orang yang licik, kasar, dan pemain perempuan. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan: “Sosok Niko ini baru kau kenal selama enam bulan, tiba-tiba kamu sudah dilamar. Ada baiknya kalian saling mengenal dulu lebih jauh. Pernikahan kan kalau bisa sekali. Kamu sudah lihat bagaimana rumah tangga Yu Nina dan Mas Gilang bukan?” (Nadira, 2015: 148). Apalah daya cinta mengalahkan segalanya. Nadira tetap bersikukuh ingin menikahi Niko, karena hanya Niko yang dapat membuat Nadira bangkit dan tersenyum lagi, baginya Niko adalah cahaya kehidupan dalam hidupnya.

Nadira dan Niko telah dikaruniai satu anak laki-laki yang bernama Jodi, namun setelah perceraian Jodi pun ikut dengan ibunya. Perceraian memang peristiwa yang sangat menyakitkan dan perkara yang dibenci oleh Nabi Muhammad, namun apalah daya, jika suatu masalah tersebut susah untuk diselesaikan maka jalan satu-satunya adalah perceraian. Nadira melanjutkan studi S2 nya bersama dengan kakak sulungnya di New York. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan: “Aku rindu dengan aroma hutan pinus di New York, kalau aku bertahan terus di Jakarta aku akan gila. Aku jadi ingin bereksperimen dengan banyak hal. Aku harus pergi, Mas” (Nadira, 2015: 258).

Perjuangan hidup Nadira dalam menghadapi kematian ibunya sangatlah pedih karena setelah kematian ibunya, dia harus tetap tegar dan berjuang untuk terus melanjutkan hidup tanpa dukungan dan kasih sayang seorang ibu.

Di pagi hari yang suram Nadira menemukan ibunya tewas bunuh diri di kamarnya dengan posisi terbentang dan mulut berbusa serta terdapat obat tidur di sampingnya. 

Kematian ibunya mengejutkan semua orang yang tinggal di dalam rumah tersebut. Kang Arya, Yu Nina, Bram, dan Nadira langsung menjerit dan menangis tersedu-sedu melihat ibunya meninggal bunuh diri. Ibu yang dikenalnya sangat ekspresif, berpikiran bebas, dan selalu bertarung mencari jati diri mengapa tiba-tiba melakukan hal sekeji ini. Tidak ada yang tahu apa penyebab kematiannya. Hal tersebut dijelaskan dalam kutipan: “Kami menemui Ibu yang sudah membiru. Wajah yang membiru, bibir biru keunguan yang mengeluarkan busa putih. Dia atas lantai yang licin itu, aku tak yakin apakah Ibu terlihat lega karena bisa mengatupkan matanya atau karena dia kedinginan. Kami menemukan sebuah sosok yang terlentang bukan karena sakit atau terjatuh, tetapi karena dia memutuskan: hari ini, aku bisa mati” (Nadira, 2015: 3).

Kematian ibunya tersebut membuat kehidupan Nadira menjadi suram dan gelap. Semenjak kepergian ibunya, Nadira hanya mengurung diri di kamar, dia masih terbayang-bayang wajah ibunya, dia masih sangat terpuruk untuk menerima keadaan itu semua.

Nadira merasa bahwa hidupnya sudah tidak berarti lagi, seperti sudah tidak memiliki cahaya, tidak ada semangat untuk hidup. Namun, ketika Nadira membereskan semua barang milik ibunya, Nadira menemukan buku harian milik ibunya kemudian dibacanya buku tersebut dengan air mata yang bercucuran. Seketika itu, setelah dia membaca buku tersebut, Nadira sadar bahwa jalan hidupnya masih panjang, masih banyak yang harus dilakukan olehnya, dia harus mengejar cita-citanya dan mengejar semua impiannnya. Hal tersebut dijelaskan dalam kutipan: “Mataku terhenti pada sebuah buku bersampul kulit hitam. Nafasku terhenti. Ini kelihatan seperti buku harian milik ibu, lembar-perlembar kubaca dan tak terasa air mataku mengalir deras membasahi pipiku” (Nadira, 2015: 21).

Novel ini sangat menarik karena pengarang mengemas semua aspek secara rinci dan lugas. Dalam novel ini pula banyak pelajaran yang bisa kita petik hikmahnya. Novel ini mengajarkan kita bahwa kita harus tetap optimis dalam menjalani hidup, tidak mudah mempercayai dan menilai orang lain, dan harus selalu bersabar, ikhlas, serta bekerja keras karena semua itu adalah kunci dari sebuah kesuksesan. 

Novel ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya, dengan membaca novel Nadira karya Leila S. Chudori ini, pembaca mendapat banyak pengetahuan baru, karena pengarang mengajak pembaca untuk masuk dan menikmati budaya dan suasana New York, Kanada, serta Amsterdam. Pembaca dapat termotivasi setelah membacanya, karena novel ini memberikan banyak inspirasi dan membuka mata para pembaca bahwa dibutuhkan kegigihan, kesabaran, dan kerja keras untuk dapat bertahan hidup. Isi dalam novel ini sangat penting, karena membahas tentang perjuangan hidup seorang gadis bernama Nadira.

Perjuangan hidup Nadira tidaklah mudah dan sangat berliku-liku. Masalah yang dihadapi oleh Nadira adalah masalah yang mungkin dihadapi oleh orang lain. Dalam perjuangan hidupnya, Nadira mengajari kita bahwa dibalik sebuah masalah pasti ada solusi, dan dibalik semua kesedihan pasti ada kebahagiaan. Semua itu harus kita hadapi dengan lapang dada, selalu bersyukur, dan terus berpikir positif, serta selalu optimis dalam menjalani hidup. Bekerja keras dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa meminta pertolongan kepadanya adalah merupakan suatu kunci untuk menuju kesuksesan.

Penulis : Ruddat Ilaina R. A. (mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra indonesia, universitas muhammadiyah malang).