Perguruan Tinggi Perlu Rombak Orientasi
Cari Berita

Advertisement

Perguruan Tinggi Perlu Rombak Orientasi

Selasa, 27 Maret 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Dibalik pergolakan pertarungan sengit dalam abad 21 ini tersirat suatu kisah menawan tentang lahirnya sebuah bangsa. Bangsa yang kemudian mendeklarasikan dirinya menjadi sebuah negara. Negara ini lahir dari isi kepala kaum mudah setelah ribuan korban jiwa runtuh dalam penindasan tanpa ampun. Berawal dari perguruan tinggi pulalah muncul para otak ataupun aktor daripada kemerdekaan.

Tahun 1901 ketika tampuh kepemimpinan Hindia Belanda jatuh kedalam genggaman Ratu Wilhelmina, Belanda membungkus Politik Etisnya dengan Paradoks demi Missi panggilan jiwa dan kemanusiaan (een eerschuld) membuka lembaga pendidikan dan membuka peluang kepada para pribumi untuk melanjutkan jenjang pendidikannya hingga Perguruan tinggi. Disana pulalah pemuda-pemudi Indonesia yang menjadi otak dari berjayanya Indonesia lahir. Yakni dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. Soetomo, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta serta beberapa pentolan penggagas Sumpah Pemuda lainnya. Sungguh kita patut berterimakasih kepada perguruan tinggi dan Mahasiswa pada masa itu.

Hari ini, diantara hiruk pikuk kerasnya terjangan arus globalisasi, masih saja dapat kita jumpai para kandidat pemimpin (Benih-benih penerus Estafet kepemimpinan bangsa kita meskipun jumlahnya semakin berkurang) tetap ber- tengger disetiap markas Organisasi atau lingkup dunia organisasi mahasiswa. Baik di tataran Lembaga kemahasiswaan Intra Kampus Senat Mahasiswa, Organisasi Mahasiswa Otonom hingga Organisasi Mahasiswa Ekstra. Disanalah mereka digodok, disinilah mereka berjuang mencari bekal bagi dirinya sebelum terjun ke dunia masyarakat setelah tamat dari perguruan tinggi kelak. Mereka adalah para kandidat pemimpin besar, para calon penegak hukum serta calon akuntan. 

Namun, Hampir disetiap kampus baik swasta maupun negeri di Negara ini, sistem pendidikan yang dijalankan semakin kehilangan arah. Dengan dilandasi oleh kurikulum sistem pembelajaran di perguruan tinggi tampak semakin berkurang kepedulian mahasiswa akan nama besarnya serta tanggungjawab morilnya sebagai Agen Of Change, Agen Of Social Control, Iron Stock serta Moral Force. 

Perubahan memang ada, tapi perubahan yang kini terjadi semakin memiriskan. Perampasan Tanah rakyat kecil oleh pemilik modal yang dilicinkan oleh penguasa terjadi dengan luwes tanpa ada perlawanan sedikitpun. Kontrol sosial yang dilakukan oleh mahasiswapun semakin hari semakin menyurut. Kebijakan yang diambil oleh pemangku kekuasaan tidaklah mampu dikontrol dengan baik sehingga rakyat makin tertindas, penguasa yang mengekor pada investor semakin kembung dompetnya. Stok Mahasiswa kritis semakin hari semakin berkurang lantaran berorganisasi dan bersyarikat kini dianggap sebagai hal yang dapat menghambat masa depannya. Moralitas mahasiswapun semakin bobrok mereka yang menyandang gelar pejuang moral malah mengalami kehancuran moral. Etika dan tatakrama kini hanya sebagai dongeng belaka.

Inilah fenomena yang menggelitik. Kampus hari ini hanya sebagai pencetak pekerja, lantaran kurikulum yang dikeluarkan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja? Jika demikian darimana kemana kita harus mencari pemimpin? Apakah Pemimpinpun harus kita Import seperti Garam, Pupuk dan Beras? "Wajarlah ketika Buya Syafii Maarif Mengeluarkan Statement bahwa pendidikan kita bukanlah pendidikan yang pantas buat generasi Merdeka.

Hari ini, Politisi muda dan penegak hukum, umumnya merupakan produk dari perguruan tinggi. Karenanya, fenomena yang terjadi, politisi muda yang terlibat korupsi dan penegak hukum yang terlibat suap, tidak bisa dilepaskan dari perguruan tinggi yang memproduknya. Orientasi keberpihakan kepada yang lemah kurang diperhatikan dengan serius oleh perguruan tinggi dalam mendidik mahasiswanya. Akibatnya etos perjuangan mereka dalam membela yang lemah sangatlah minim. Memang tidak salah ketika ada yang berpendapat bahwa perguruan tinggi telah gagal dalam mendidik mahasiswanya. Sehingga para mahasiswa-mahasiswa ini lahir sebagai generasi-generasi yang nantinya ketika tamat dari perguruan tinggi akan menjadi para sarjana Individualis atau lebih mementingkan kepentingan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat dan bangsa secara keseluruhan. Oleh karena itu, perguruan tinggi sebagai yang mengorbitkan, melahirkan dan yang mengader para calon pemimpin bangsa ini harus melakukan perombakan sistem didikan ataupun orientasi pendidikannya menjadi pro rakyat.

Harapannya, politisi-politisi muda, Praktisi-Praktisi Hukum yang lahir dari rahim kampus akan melahirkan sebuah perundang-undangan yang benar-benar pro rakyat yang bisa melindungi yang lemah. Penegak hukum produk kampus juga mampu menegakkan hukum dari perundang-undangan yang pro rakyat tersebut. Jika hal ini berhasil dilakukan maka keadilan akan segera terwujud dan kesejahteraan rakyat akan menyusul. 

Penulis : Damanhury Jab