Perempuan; Sejarah dan Budaya Patriarki
Cari Berita

Advertisement

Perempuan; Sejarah dan Budaya Patriarki

Kamis, 15 Maret 2018

Gerakan feminisme (foto : berdakwah.net)
Indikatorbima.com - Orpheus (Orfeus) dalam mitologi Yunani adalah seorang penyair, pelukis, penyanyi, dan pemusik yang handal. Michael Ryan, menuliskan kisah kematian Orpheus disebabkan oleh belati seorang perempuan yang menjadi model dalam karya seni yang ia ciptakan. Malang nasib Orpheus, dia alpa bahwasanya di balik kelemahlembutan yang dibalut paras cantik tanpa busana itu tersimpan gelembung emosi yang siap meledak kapan saja.

Penggalan kisah Orpheus menjadi pegangan para pejuang feminis sebagai bukti perlawanan perempuan atas dominasi kaum lelaki kala itu, karena masa kejayaan Yunani Kuno adalah masa kejayaan kaum lelaki, sedangkan perempuan hanya menjadi sarana pelunasan berahi, objek kesenian, dan sarana penerus keturunan.

Baca juga : Inilah Suka dan Duka 7 Perempuan Asal Bima Ketika Berhijab

Budaya patriarki juga dapat ditemui dalam dogma gereja Protestan maupun Katolik (klasik) yang memandang rendah kaum perempuan. Hal ini dapat dijumpai pada pemikiran Martin Luther dan John Calvin, walaupun perempuan dan laki-laki dapat berhubungan langsung dengan Tuhan, namun perempuan hanya boleh berada dalam ruang gereja dan rumah sebagai pengurus keluarga (wilayah domestik). 

Dogma gereja Katolik (klasik) lebih memandang rendah perempuan. Perempuan dianggap sebagai perwakilan iblis di muka bumi, perempuan dipandang sebagai laki-laki yang terlahir cacat, dan sumber segala petaka adalah perempuan (setiap dosa yang dilakukan seorang laki-laki, selalu ada campur tangan perempuan).

Kisah terusirnya Adam dah Hawan dari Surga menjadi alasan untuk mendiskreditkan perempuan. Adam memakan buah terlarang karena adanya bujukan dari Hawa.

Dominasi kaum lelaki diperkokoh dengan adanya deklarasi "All man are created equal" (Semua laki-laki diciptakan sama) pascakemeredekaan Amerika tahun 1776 yang dikumandangkan kaum laki-laki. Tentu saja hal ini mengundang reaksi kaum perempuan yang merasa dideskriminasi karena dianggap tidak sederajat.

Akhir dari reaksi ini adalah lahirnya deklarasi kaum perempuan tahun 1848 yang berisi "All man and women are created equal" (Semua laki-laki dan perempuan diciptakan sama).

Era ini, tentunya sezaman dengan Karl Marx yang hadir sebagai pembawa angin segar dalam menjelaskan masyarakat impiannya – masyarakat tanpa kelas, tanpa diskriminasi, dan adil dalam oikos & nomos – sebagai penentangan atas fakta yang telah tertanam dalam kelompok masyarakat bahwa perempuan berada pada kelas rendahan di bawah dominasi kaum laki-laki (perempuan yang vakum, pasif, dan ruang gerak hanya di wilayah domestik). 

Baca lagi : Inilah Semangat dan Motivasi Berhijab 10 Ukhti Asal Bima, Mengharuhkan!

Perjuangan kaum perempuan yang terus digaungkan dari zaman ke zaman memang menuai hasil positif. Budaya patriarki yang tumbuh sejak era Yunani Kuno hingga Abad Pencerahan sedikit demi sedikit dapat terkikis. Kehadiran perempuan di pelbagai ranah kehidupan menjadi bukti kesuksesan perjuangan kaum Feminis.

Penulis : Nissa Khairunisa
Editor   : Sirsulk