Motivasi Perjuangan Ibu dan Ayah Sekolahkan Anak
Cari Berita

Advertisement

Motivasi Perjuangan Ibu dan Ayah Sekolahkan Anak

Senin, 19 Maret 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Perjuangan Ayah dan Ibu senantiasa tidak sia-sia mampu menyekolahkan semua anaknya dengan kondisi hidup yang sangat terbatas. Bagaimana mungkin Ayahku merupakan sosok seorang petani biasa. Bisa dikatakan petani tidak sukses karena setiap hasil panennya tidak mampu membayar Spp Sekolah, kuliah anak-anaknya dan kebutuhan rumah tangga lainnya. 

Bagaimana dengan sosok Ibuku tercinta yang setiap selesai sholat shubuh mulai semangat beraktifitas mengumpulkan dedaunan dan mahkota sayur-sayuran di pinggiran sawah untuk setiap harinya membawa hasil panennya bisa dikatakan tidak bervariasi.

Karena hanya satu model sayuran yang diandalkan yaitu daun kelor yang ciri khasnya sayur spesial orang Bima dan selera anak perantau di seluruh nusantara. Cuman itu yang diandalkan untuk dibawa ke pasar dengan semangatnya duduk ditengah-tengah kerumunan orang menunggu pelanggannya yang setia dengan penuh sabar dan berkeringat diseluruh tubuhnya demi kebutuhan hidup rumah tangga yang tidak berkecukupan. Betapa berat beban yang ibu pikul karena keterbatasan hidup.

Kesabaran dan ketabahanmu adalah pelita yang akan terus menyala menyinari ruang kalbu anakmu ini hingga akhir nanti. Ibu dirimu adalah inspirasi terbesar bagi anakmu ini, penyemangat yang terus mendorong untuk tidak menyerah dalam ketiadaan secara material.

Tiap tetes keringatmu yang jatuh di atas kain jualanmu adalah tetesan cinta yang menjadi cercahan cahaya kehidupan bagiku. Saya tahu Ibu tidak pernah sekolah tapi ibu telah memberikan gelora semangat padaku untuk terus bersekolah. Semoga Allah menganugerahimu dengan balasan terindah. Sungguhlah beruntung saudara-saudaraku yang hidupnya selalu terpenuhi.

Allah swt sudah takdirkan hambanya untuk hidup seperti itu. Karena yang terpenting adalah selalu bersyukur atas nikmat-Nya yang diberikan. Itu adalah salah satu modal utama dalam hidup rumah tangga untuk mencapai keharmonisan dan ketenangan dalam jiwa. 

Alam semesta yang kita sanjung-sanjung ini berbagai macam raga kekayaan Alam dan bermiliaran manusia. Itu semua kembali kepada Sang Kholik. Sebagaimana Allah meperingatkan kita di dalam Q. S. Al-Imran Ayat 14 Allah Swt berfirman :

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kencintaan apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik"

Menurut Prof. Dr. Imam Supriyogo, M.Si. mantan Rektor UIN Malang dalam bukunya yang berjudul Masyarakat Tanpa Rangking Membangun Bangsa Bersendi Agama menyatakan "Kesuksesan hidup itu apabila kita mampu berada dalam posisi empat kompetensi yaitu spiritual, ekonomi, intelektual dan Kesehatan". Tapi ada satu yang kurang menurutku yaitu hubungan horizontal. Karena itu adalah penting. Sebagaima kehidupan Nabi Adam yang setiap harinya gelisah tidak ada satu orang pun yang hidup bersamanya.

Seperti kata bijak Arab menyatakan Al Insan Alambiyum bi al fadliun. Secara naluri manusia adalah hidup bersosial. Maka terciptalah Siti Hawa yang merupakan Ibu pertama dan sekaligus nenek moyang kita. Inilah sosok Ayah pejuang dan petaruh nasib dan Ibuku merupakan madrasyah pertama untuk kami. Anak-anaknya mulai masa dini sudah terdidik dengan konsep militer untuk mengejewantahkan jiwa semangat dalam hidup. Semoga Allah SWT. memberikan yang terbaik kepada Ayah dan Ibuku tercinta mendapatkan kenikmatan JANNATUL FIRDAUS. amin Allahuma amin. 

Tulisan ini mungkin bisa mengejewantahkan semangat hidup kita untuk menuju perubahan dikala kita terombak-ambik oleh hirup pikuk dunia yang merupakan fatamorgana ini dengan kata islamnya kehidupan khoyalik. Kenapa kita tidak bisa. Uang bukanlah segala-galanya. Yang kitah butuhkan adalah kedamaian hati dan ketengan jiwa.

Banyak orang-orang kaya anaknya tidak sukses dan tidak menutut ilmu karena selalu berfoya-foya hasil dari keringat kedua orang tuanya. Marilah kita menjadi insan terbaik untuk keluarga kita dan selalu tetap istiqomah menjalankan perintah dan menjauhi segala lalarangan-Nya.

Penulis : Irfan (mahasiswa pascasarjan unnes jurusan bahasa indonesia)