MCA Family dan Narasi Jokowi Anti Islam
Cari Berita

Advertisement

MCA Family dan Narasi Jokowi Anti Islam

Minggu, 04 Maret 2018

Presiden Joko Widodo (foto : Rimanews.com)
Indikatorbima.com - "Jokowi anti Islam" itu narasi yang hendak dibangun oleh sebagian kelompok yang mengaku sebagai MCA untuk menjatuhkan Jokowi segera terguling. Maka cara apapun dilakukan. Berbagai isu diangkat terutama bersangkut dengan urusan agama dan SARA sebab isu lain sudah tak menarik.

Hoax jauh lebih dahsyat ketimbang letusan Merapi atau Sinabung. Implikasi hoax bukan saja memecah belah, tapi juga bakal meluluh-lantakkan fundamen sebuah bangsa, hoax hidup dan tinggal di pikiran. Meracuni. Membangun mainstream buruk. Tak habis pikir jika anak-anak kita dan generasi ini tumbuh pada era hoax. Yang mereka dapati bukan pengetahuan yang sehat. Prilaku hoax biasanya merasa dirinya sebagai 'hero', merasa melakukan banyak hal dengan informasi hoax yang diterima. Merasa paling pertama tahu dari anggota grup lainnya. Kemudian dengan bangga sebarkan hoax.

Hoax tentang jutaan tenaga asing setara dengan penduduk satu propinsi. Hoax tentang kebangkitan PKI. Kriminalisasi ulama. Hoax tentang radikalisasi dan fundamentalisme Islam. Hoax tentang Wahaby. Intoleran, dan masih banyak lagi. Memang tak dipungkiri tidak semua berita hoax yang barus dibantah tapi juga tidak semua berita bisa di nafikkan sesuai fakta. Pada ruang inilah penyebar hoax pandai bermain.

Awalnya bertujuan baik ingin meluruskan berita hoax tentang Islam. Tapi akhirnya tetap saja dibalas dengan hoax juga. Ibarat wudhu dengan air kencing, inginnya mensucikan tapi berbalik membuat semua kotor dan najis. Wajah belepotan penuh kotoran dan dicela banyak orang. Siapa yang rela agamanya direndahkan. Imannya diganggu dan dihalangi Sayapun juga ingin syahid bila Allah taala memberi kesempatan. Tapi dengan cara yang patut dan sesuai akhlaq karimah bukan dengan menghalalkan semua cara untuk mendapat surga.

Konon Sayidina Ali ra urung membunuh musuh yang sudah menjepit leher dan kaki. Tinggal menusukkan pedang matilah sudah. Tapi orang kafer itu justru meludahi wajah Ali yang mulia. Ia bermaksud menyulut emosi dan kemarahan Ali. Dan Ali tahu. Ali pun melepas si kafer yang sudah kepepet itu, dilepas tak jadi dibunuh. Wahai Ali kenapa tak kau bunuh aku ? Katanya pendek. Karena kamu telah membuat aku marah sehingga aku takut membunuhmu bukan karena lillah tapi karena marahku yang bakal menghapus pahalaku".

Ketidak sukaan terhadap seseorang atau kelompok sering membuat tidak adil dalam bersikap, apapun yang dilakukan nya selalu salah dan tak ada baiknya. Bukankah Allah sudah peringatkan:"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu bersikap tidak adil". Saya tak habis mengerti kenapa ada upaya membenturkan Presiden dengan Islam. 

Pertama: Ada upaya membuat situasi di internal Islam seolah Presiden adalah musuh Islam. Seakan berada di bawah rezim komunis yang korup. Menghormati Bendera merah putih adalah musyrik. Dan haram menyanyikan lagu Indonesia raya. Pancasila thaghut yang harus dibuang. Polri adalah musuh bersama. Bahkan TNI. Umat Islam sedang digiring pada wilayah marah dan membenci siapapun.

Kedua: Ada narasi yang sengaja dibuat agar ada alasan penguasa untuk memisahkan umat Islam dari negerinya sendiri dengan cara membangun opini bahwa Islam tidak mencintai tanah airnya. Islam adalah musuh berbahaya karena cenderung radikal dan malawan. Lantas dijadikan public enemy. Kondisi inilah yang dibangun agar Islam berhadapan dengan penguasa. 

Dua skenario sengaja dibuat agar Islam dan kekuasaan saling berbenturan, saling curiga dan bermusuhan. Kita tak tahu siapa pemegang 'grand-disign' maha dahsyat ini. Bahkan saat tertangkap-pun MCA masih meninggalkan jejak hoax, satu cara klasik untuk bisa tetap saling mengadu domba. Berkelamin dua alias agen ganda. Tapi siapa percaya. Apapun situasi, umat Islam diharap tetap berpikir jernih dan dewasa berfikir. Wallahu a'lam.

Penulis : @Nurbaniyusuf (Komunitas Padhang Makhsyar).