Klarifikasi Ahmadin dan Permintaan Maaf Pihak Indikator Bima
Cari Berita

Advertisement

Klarifikasi Ahmadin dan Permintaan Maaf Pihak Indikator Bima

Rabu, 21 Maret 2018

Foto : Ahmadin Ketua KPUM IAIM Bima
Indikatorbima.com - Pemberitaan tentang kericuhan proses pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) Bima yang diberitakan oleh media Indikator Bima sebelumnya yang diberi judul "Pemilihan Ketua BEM di IAIM Bima, Berujung Kericuhan" mendapatkan tanggapan dan klarifikasi (Hak Jawab) dari Ahmadin selaku narasumber dalam pemberitaan tersebut. Ahmadin mengungkapkan, bahwa dirinya tidak pernah diwawancarai dan memberikan pernyataan kepada Indikator Bima, Rabu (21/03/18).

Baca : Pemilihan Ketua BEM di IAIM Bima Berujung Kericuhan

"Saya tidak pernah diwawancarai oleh reporter Indikator Bima, yang jelas isi berita itu salah," tutur Ahmadin kepada Indikator Bima.

Seperti yang diketahui, bahwa Ahmadin adalah ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM). Pada pemberitaan sebelumnya, nama Ahmadin tertera sebagai narasumber dan memberikan beberapa pernyataan kepada Indikator Bima. Sekali lagi Ahmadin menegaskan bahwa dirinya tidak pernah diwawancarai atau mengeluarkan pernyataan kepada media Indikator Bima.

"Saya minta Indikator Bima memulihkan nama baik saya. Saya tidak terima dengan pemberitaan tersebut," tegasnya ketika dikonfirmasi oleh reporter Indikator Bima. 

Menanggapi hak jawab dari Ahmadin tersebut, Ketua komunitas Indikator Bima sekaligus reporter yang menulis berita tentang kericuhan pemilihan ketua BEM IAIM Bima menyampaikan permohonan maaf kepada Ahmadain dan publik atas kekeliruan dan kekhilafan yang dilakukan oleh reporter Indikator Bima.

"Saya mewakili teman-teman Komunutas Indikator Bima menyampaikan permohonan maaf kepada Ahmadin dan publik atas kekeliruan dan kekhilafan yang terjadi," tutur Furkan.

Lebih lanjut Furkan menjelaskan bahwa, pihak indikator bima dan Ahmadin sudah melakukan komunikasi melalui via telpon dan menyampaikan permohonan maaf kepada Ahmadin.

"Tadi saya sudah melakukan komunikasi dengan Ahmadin, saya menyampaikan permohonan maaf kepada beliau. Beliau pun memaklumi kekeliruan itu, tapi biar bagaimana pun kami harus bertanggungjawab atas apa yang sudah terjadi. Dan kami siap menerima sanksi, baik sanksi hukum maupun sanksi moral dari masyarakat," jelasnya.

Furkan pun menceritakan kronologis peliputan berita yang ia lakukan. Awalnya Ia mendapatkan informasi dari warga yang bernama kiliman yang diketahui juga seorang mahasiswa, bahwa ada kericuhan dalam proses pemilihan ketua BEM IAIM Bima. Mendapat informasi itu, Furkan meminta nomor telepon ketua KPUM untuk diwawancarai dan melakukan wawancara dengan beberapa pihak melalui WhatsApp milik Kiliman, yaitu Asmudiyanto dari pihak yang melakukan aksi protes dan Farhan yang mengaku sebagai Ahmadin. Keduanya sudah di wawancarai Indikator Bima sesuai dengan pernyataannya yang dimuat pada pemberitaan sebelumnya. Dan nomor telepon yang diberikan oleh Kiliman kepada Furkan diketahui berbeda dengan nomor telepon asli Ahmadin.
Foto : Screenshot percakapan Kiliman dan Furkan terkait pemberitahuan tentang adanya peristiwa kericuhan.
"Awalnya saya mendapatkan informasi peristiwa tersebut dari Kiliman. Kemudian saya melakukan wawancara kepada dua narasumber yang saya anggap sebagai pihak-pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut. Namun, ternyata orang yang saya wawancarai bukanlah Ahmadin yang sebenarnya, melainkan orang yang mengaku sebagai Ahmadin, yaitu Farhan," jelasnya.

"Ini kesalahan saya sebagai reporter yang mudah percaya dan tidak teliti dalam menulis berita," lanjutnya.
Foto : Screenshot percakapan ketika Furkan meminta nomor telepon ketua KPUM kepada kiliman untuk diwawancarai.
Lanjutnya lagi, setelah mendapatkan tanggapan dan klarifikasi dari Ahmadin melalui telepon. Furkan kemudian melakukan konfirmasi kembali kepada Kiliman. Dan nyatanya Kiliman mengaku tidak tahu dan tidak kenal dengan Ahmadin. Kiliman pun meminta maaf atas kesalahannya. Ia mengakui bahwa, memang benar Farhan dan Asmudiyanto telah memberikan informasi yang salah dan telah berbohong.

"Farhan nama yang ita wawancara tadi bang. Nama yang ita wawancara kande Farhan nggahi la Asmudianto bang," ungkap Kiliman menjelaskan kepada Furkan bahwa telah terjadi kekeliruan dan kesalahan.

"Mohon maaf poda atas kekeliruan yang dilakukan oleh Asmudianto bang," kata Kiliman menyampaikan permintaan maafnya.
Foto : Screenshot percakapan klarifikasi dan permohonan maaf Kiliman kepada Furkan atas kesalahan dan kekeliruannya memberikan informasi.
Furkan pun berharap, dengan adanya pemberitaan klarifikasi ini dapat menjelaskan kepada publik bahwa, pemberitaan sebelumnya telah terjadi kesalahan dan kekeliruan. Diharapkan pemberitaan ini dapat memulihkan nama baik Ahmadin dan kesalahpahaman yang terjadi ditengah publik. Furkan pun mengaku siap menerima konsekuensi baik secara hukum maupun secara moral atas kekeliruan dan kesalahan yang terjadi. 

"Sekali lagi saya minta maaf, saya pun bersedia menerima konsekuensi atas kekeliruan dan kesalahan yang telah terjadi," ucapnya.

Reporter : Taufiqurrahman
Editor      : Fuad D Fu