Kita Pada Islam yang Mana
Cari Berita

Advertisement

Kita Pada Islam yang Mana

Kamis, 29 Maret 2018

Soekarno (foto : Padebook).
Indikatorbima.com - Di negeri dengan penduduk mayoritas Islam terbesar ke dua di dunia semua Presiden selalu dimusuhi karena dianggap tidak mewakili umat Islam. Kenapa ... sebut saja Soekarno dan Soeharto dua Presiden yang berkuasa lama tapi tak pernah dianggap sebagai bagian dari umat Islam.

Pengetahuan Soekarno tentang Islam menurut saya lebih dari cukup bahkan boleh saya bilang setingkat ulama dikalangan umat Islam bahkan jauh lebih baik pemahamannya daripada saya. Pun dengan orang-orang yang memusuhi-nya. 

Tulisan-tulisan Soekarno yang tersebar di berbagai media: Soeloeh, Api Islam dan perdebatan sengitnya dengan Buya AR Mansoer tentang hijab yang fenomenal, sudah cukup menunjukkan bahwa Soekarno punya pengetahuan yang lumayan baik sebagai seorang muslim. Bahwa kemudian dia punya pandangan berbeda dengan kebanyakan itu bagian dari pemahaman.

Soeharto alumni SMP Muhammadiyah Kemusuk juga lumayan. Meski bukan didikan pesantren Soeharto lahir dan besar sebagai seorang muslim. Soeharto mungkin tak sebanding dengan Soekarno dalam hal keilmuan, tapi dia adalah seorang strateg dan praktisi Islam tiada banding. Prasyarat sebagai seorang beriman (rukun iman) dan muslim (rukun Islam) juga telah ia penuhi. Soeharto sangat benci PKI, sebuah partai yang menganut atheis. Ia hancurkan PKI hingga akarnya. Bukan hanya secara fisik tapi secara politik PKI diberangus hingga anak cucunya. PKI adalah musuh agama yang dianutinya maka Soeharto melakukan segala daya upaya untuk menjaga keimanan rakyatnya.

Pada masa rezim yang kemudian lebih dikenal dengan orde baru itu banyak perangkat umat Islam didirikan. MUI salah satunya, Baznaz hingga Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang membangun ribuan masjid di seluruh tanah air. Masjid masjid dibangun di Barak-barak militer dan gedung perkantoran. Andai masih aktif mungkin hambatan membangun masjid di Papua bisa di urai.

Tapi sayang, Soeharto juga bukan dianggap representasi umat Islam. Semua kebijakan nya ditampik. MUI pernah dianggap sebagai alat untuk melemahkan dan memecah belah umat Islam. Ribuan Masjid yang dibangun pernah kita anggap sebagai masjid dhirar yang tidak layak orang yang 'merasa' paling ber-iman shalat di dalamnya. Baznas sebagai lembaga zakat masional juga pernah kita anggap sebagai alat untuk mengeruk dana umat Islam dan banyak kebijakan lainnya yang kita anggap salah karena menurut anggapan kita merugikan umat Islam.

Pun dengan Presiden Abdurrahman Wahid. Kurang santri apa Gus Dur. Lahir dan besar di pesantren. Dengan nasab jelas: cucu pendiri NU hudratus Syaikh Hasyim Asy'ari. Menjabat Ketua PB NU dua kali berturut. Ketua penasehat jamiyah thariqah muktabarah. Fasih berbahasa Arab. Menguasai kitab kuning dan ilmu agama lebih bagus ketimbang para kyai dan habaib pada masanya. Tapi tetap kita anggap sebagai bukan representasi umat Islam. Kita lawan dan kita impeachment hingga turun.

Pada masa akhir hayatnya Soekarno dengan tulus berkata;" Bila aku mati nanti kibarkan panji-panji MUHAMMADIYAH. Soeharto di akhir kekuasaanya mengaku sebagai: Bibit Muhammadiyah yang disemaikan di bumi pertiwi", pengakuan tulus dari seorang kader, pada muktamar Aceh. Dan Gus Dur tetap diakui sebagai salah satu wali yang sangat dihormati.

Kita berada pada sebuah pola pikir simbol. Apa mungkin karena mereka tidak memakai pakaian seperti pakaian yang kita kenakan. Memakai minyak wangi yang merknya tidak sama. Yang kalau bercakap tidak menggunakan kata Ana dan Antum .. lalu tak cukup disebut muslim"

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar