Kenapa Prabowo, Jokowi, Rizieq, TGB di Taghutskan?
Cari Berita

Advertisement

Kenapa Prabowo, Jokowi, Rizieq, TGB di Taghutskan?

Sabtu, 31 Maret 2018

Foto : Prabowo, Jokowi, Habib Rizieq, TGB.
Indikatorbima.com - Menggantungkan kepada yang selain Allah tabaraka wataala sebisa mungkin dihindarkan kaum beriman. Tak terasa kita begitu banyak berharap kepada orang yang kita anggap sebagai pemimpin. Kemudian banyak harapan dan cita-cita kita bebankan padanya.

Berharap hidup sejahtera, berkeadilan, dan kedamaian kepada Jokowi, Prabowo, TGB dan berharap tegaknya syariat kepada Rizieq. Dan beberapa yang lain sungguh tak patut apalagi dilakukan oleh orang yang mengaku beriman.

Dua ibu berebut anak menagih keadilan di depan Raja Agung Sulaiman. Keduanya dengan hujjah yang kuat lagi rasional. Mempertahankan anak bayi montok yang direbutkan. Berbagai argumentasi dikemukakan. Juga jawaban yang saling melemahkan. Raja Sulaiman as mulai kebingungan menentukan siapa berhak atas anak itu. Argumentasi kedua ibu itu sama kuat dan rasional. Tak ada lemah dan cacat. Tapi tetap harus diputus sebab tak mungkin ada satu bayi lahir dari dua ibu. Salah satu diantara kedua Ibu itu pasti ada yang berdusta. Dan itu harus segera ditemukan mana yang ibu dan mana yang berdusta.

Raja Sulaiman as bermunajat kepada Rabb-nya agar mendapatkan cara untuk memutus perkara dengan adil. Lantas ia berkata:"Bawalah bayi itu kemari. Taruh di atas meja. Ambilkan aku pedang. Akan aku belah jadi dua". Dua orang yang mengaku ibunya itu ternyata punya dua sikap berbeda.

Yang pertama berkata: Aku setuju Tuan. Tuan raja memang sangat adil katanya sambil tertawa kegirangan mendengar putusan Sulaiman. Berbeda dengan ibu yang kedua dengan wajah pucat berkata:"Jangan lakukan itu tuan, aku rela anakku diasuh asal tetap hidup". Maka Sulaiman pun memutuskan bahwa ibu yang kedua itulah ibu yang sesungguhnya karena tak tega anaknya dibelah dua.

Pada kisah yang lain: Tiga orang anak menunggui ibunya yang sedang memasak batu selama berjam-jam hanya untuk menghibur anaknya yang lapar karena paceklik yang sangat. Sebelum datang khalifah Umar yang baik hati membawakan sekarung gandum. Ternyata pada masa ke-khilafah-an Umar juga ada kemiskinan, dan kelaparan. Lantas apa ukuran sejahtera itu. Khalifah Umar bukan malaikat yang bisa menyediakan apapun kebutuhan rakyat nya dengan sekali ucap. 

Keadilan pada masa raja Sulaiman dan kesejahteraan pada khalifah Umar tak bisa ditentukan seperti deret ukur. Realitasnya semua rakyat pada dua kondisi kekuasaan itu masih mencari dan menagih. Tidak serta merta keadilan tercipta setelah bayi dibelah menjadi dua pada masa Sulaiman as. Dan tidak pula hilang miskin setelah Umar Ibnul Khatthab ra membawa sekarung gandum pada satu keluarga miskin, sebab masih ada puluhan bahkan ratusan lainnya yang bernasib sama yang belum diurus dan sampai kapan sekarung gandum itu cukup untuk satu keluarga.

Pemimpin : Khalifah, Raja, Tsar, Presiden, Perdana Menteri, Pharauh, atau apapun namanya hanya alat. Bukan tujuan yang harus diberhalakan seakan bisa mengurai semua soal dalam sekejap. Prabowo, Jokowi, Riziq, TGB hanya manusia biasa tapi kita telah mem-berhala-kan dan menjadikannya sebagai tuhan kecil, bagaimana mungkin dengan hujjah dan dalil yang kita angkat dan banggakan, lantas berharap kesejahteraan keadilan dan kedamaian dari mereka, kita menjadikan agama sebagai alat untuk mengagungkan pemimpin masing-masing dimana kemudian kita bertengkar dan berselisih sebagai pengikutnya, lantas apa yang kita dapat selain kebencian dan permusuhan .... 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar