Karena Kita Hanyalah Tanah
Cari Berita

Advertisement

Karena Kita Hanyalah Tanah

Minggu, 11 Maret 2018

Foto : Redaksiindonesia.com

Indikatorbima.com - Muasal manusia diciptakan dari dua unsur, pertama: Min-thiin atau, min-thurab, atau tanah liat atau tanah hitam yang pekat dan kedua: Min-Ruhillah unsur mulia sebagai pelengkapnya. Dengan dua unsur rendah dan mulia itulah manusia tegak berdiri. Berpikir dan bertindak. Apakah ia patuh pada min-thinn atau sebaliknya patuh pada min-ruhillah-nya dengan segala resikonya. Menuju kerendahan atau kemuliaan. 

Allah tidak melihat rupa sebab rupa hakikatnya adalah kotoran terbuat dari tanah atau sperma. Rupa cantik yang berlenggak di catwalk juga kotoran. Rupa orang suci yang dibungkus surban dan jubah menjuntai juga kotoran. 

Tak ada beda antara keringat, kentut bahkan tinja juga kotoran. Bagian-bagian tubuh yang cantik juga kotoran. Bibir sensual, mata lentik menggoda juga kotoran. Hidung mancung, rambut ikal terurai, tangan yang indah, kaki belalang, leher jenjang adalah bangkai ketika ditinggal ruh. 

Kemuliaan dan ketinggian bukan pada rupa tapi lebih menunjuk pada aspek substantif-nya yaitu min-Ruhillah-nya. Sebab itu yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Yang paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat. 

Setiap kita punya pilihan kepada siapa harus tunduk dan patuh. Mengikuti unsur tanah atau min ruhillah. Kita diberi kebebasan memilih untuk kemudian dipertangung-jawabkan. Kesombongan merasa diri paling baik dari lainnya, adalah karakter syetan, dengan sikapnya itu syetan diusir dari surga. Syetan menolak perintah sujud kepada Adam karena merasa dirinya lebih baik. Itulah kesombongan hakiki. Maka siapapun yang merasa diri lebih baik dari yang lain, dia mewarisi sikap ujub syetan. Dan pasti diusir dari surga siapapun itu tanpa memandang status sosial. 

Menyombongkan rupa. Merasa paling elok kemudian memandang rendah siapapun selain dirinya. Menyombongkan kebaikannya, shalatnya, puasanya, sedekahnya, bacaan Quran-nya kemudian memandang rendah siapapun selain dirinya. 

Meski orang yang dianggap suci sekalipun jika merasa lebih baik dari yang lain, dia juga bakal diusir dari surga. Sebab hakikatnya dia tunduk pada min-thiin dan min thurrab-nya, mewarisi sikap syetan atau iblis terkutuk dan abai pada min ruhillah-nya, sikap para malaikat .  

Kesombongan itu memandang rendah orang lain dan menolak kebenaran. Merasa telah menerima kebenaran kemudian memandang rendah orang lain yang dianggap menolak kebenaran juga kesombongan. Bahkan menganggap dirinya tidak sombong kemudian menganggap orang selain dirinya sombong juga kesombongan baru. 

Lantas pantaskah sesama kotoran saling menyombongkan diri .. bahkan syetan pun menolak bersujud kepada kita, karena hakikatnya memang kita adalah kotoran yang berkubang diantaranya. Hanya kepada Allah Pemilik Kemuliaan dan Ketinggian saja-lah kita memohon kemuliaan dan ketinggian, berserah diri dan bertawakal. Hanya kepada-Nya. Wallahu a'lam.
Bab-tasawuf 

Penulis : Nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar