Islam dan Syndrom Mayoritas
Cari Berita

Advertisement

Islam dan Syndrom Mayoritas

Rabu, 21 Maret 2018

Joko Widodo ketika melaksanakan shalat (foto : Wallstreetjournal).
Indikatorbima.com - Islam itu mayoritas. Penghuni terbesar negeri ini. Hasil sensus menyebut 78 %, bahkan ada yang menyebut lebih dari itu, kata kita dengan penuh bangga. Dan jangan lupa yang 78% itu termasuk ibunda Megawati, Pabowo, Jokowi, jendral Gatot, jendral Tito, Buya Syafi'i Maarif, Habib Rizieq, Amien Rais, Muhaimin Iskandar, Surya Paloh, Goenawan Muhamad, Kyai Haji Haidar Nashir, Kyai Haji Aqil Siradz, Abu Bakar Ba'ayir, Quraisy Syihab, Fadhli Zon, Raja Juni, Cahyo Kumolo, Jarot, Anis Baswedan, Ya'qut, Dahnil, Fahri Hamzah, Jonru Ginting, Abu Janda, Neno Warisman, Felix Siaw, Abdul Shomad, mereka semua yang setiap malam berselisih tak ada ujung pangkalnya. juga tak ketinggalan pasangan kawin Ariel Noah dan Luna Maya. Termasuk ketua dan paguyuban tayub dan reog yang setiap malam bakar kemenyan. 

Juga ada Islam nusantara, Islam garis keras, Islam moderat, Islam berkemajuan dan Islam garis lucu termasuk Islam yang tak punya garis.

Mereka semua muslim yang bersusun-susun membuat Islam menjadi mayoritas, dari yang shalat sekali setahun, sekali sepekan atau hanya baca syahadat sekali seumur hidup saat menjelang nikah, juga dengan berbagai latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi dan politik adalah yang termasuk yang dihitung 78% itu tanpa kecuali. Jangan dikurang sebab akan berpengaruh terhadap hasil prosentasi hitungan sensus.

Penganut Islam tersebar luas di seluruh pelosok tanah air. Dari konglomerat berpenghasilan semilyat sehari, hingga pengambil rongsokan dapat cemban sepekan. Dari yang bergamis cekak berjanggut lebat, hingga bandar cap jiki di pasar loak. Dari yang khatam Quran setiap tiga hari sekali, hingga para pelanggam musik rocck n roll, dari yang rajin bangun di 1/3 malam terakhir, hingga purel yang dansa hingga pagi subuh. Semuanya muslim dan masuk hitungan hingga menjadi mayoritas.

Itulah peta 78% yang kita banggakan itu. Yang dengannya kita yakin bakal bisa memenangi sebuah pertarungan politik. "Dengan hitungan 78% mestinya Islam menjadi penguasa, syariat bisa tegak dan hukum Islam bisa berjalan .. " kata beberapa ustadz berapi di atas podium. Seakan baru siuman dari tidur yang sangat panjang. Kemudian mengutip beberapa ayat sebagai dalil untuk membenarkan pernyataan nya itu. Jamaah kecil itu bangga bukan kepalang. Islam itu banyak katanya dalam hati sembari mengumbar angan bakal memenangi pemilihan Presiden tahun mendatang.

Dengan asumsi Islam mayoritas yang terdiri dari bandar cap jiki, tukang sabung ayam, para DJ dan purel diskotek, para pencoleng, yang KTP nya bertuliskan Islam itulah beberapa aktifis yakin bakal bisa menegakkan khilafah dan menegakkan syariat. Yakin bisa Membuang Pancasila, UUD 45 dan konsep negara kesatuan, dan menggantinya dengan syariat hukum Islam.  
Tengok berapa jamaah di masjid depan rumah kita saat shalat dhuhur dan Ashar apalagi shalat subuh. Bandingkan berapa yang asyik di rumah, pasar, mall dan duduk di pinggir jalan, kafe, resto dan tempat hiburan lainnya.

Dengan hitungan 78% persen mestinya semua masjid kita penuh sesak berjubel dan tak cukup. Tapi malah sebaliknya, mesjid kita hanya elok di pandangan, tapi sepi di dalamnya. Hanya terdiri beberapa orang tua, para pensiunan dan ibu-ibu sepuh yang kesepian, karena ditinggal anak-anaknya. Kemana yang lantang berkata bangga sebagai mayoritas. Dengan realitas seperti itu saya tak tahu apa yang bisa di banggakan dari mayoritas dan jumlah besar.

Lantas apa Jokowi itu bukan muslim sehingga harus dimusuhi .. ?

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar

Baca : Islam dan Kosmologi

Baca : Khilafah; Idealitas dan Realitas

Baca : HTI dan Pragmatisme Politik

Baca : Demokrasi Transaksional Tak Bolehkah?

Baca : Stephen Hawking dan Negeri Akhirat yang di Ingkarinya