Islam dan Kosmologi
Cari Berita

Advertisement

Islam dan Kosmologi

Rabu, 21 Maret 2018

Stephen Hawking (foto : Ouestfrance.fr)
Indikatorbima.com - Dunia boleh terkesima dengan temuan Stephen Hawking soal black-hole, lubang cacing yang menghubungkan antar semesta yang sewaktu-waktu bisa muncul, atau penasaran dengan Theory of Everything yang belum tuntas dijelaskan. Dan watak dasar ilmu pengetahuan selalu sama: tidak bisa utuh menjelaskan. Dan apapun yang ditemukan HAWKING hanyalah setetes air dari samudra di laut luas.

Bukan bermaksud membandingkan antara temuan HAWKING dan berita langit yang di terima Rasulullah saw soal semesta, karena bagi saya itu tidak selevel, antara kebenaran ilmu yang bersifat relatif dan kebenaran wahyu yang bersifat absolut. Namun setidaknya kita bisa mendekatkan keduanya dengan pengetahuan hasil riset dan wahyu dalam satu titik kajian komprehensif yang intergratif.

Andai masih hidup, Mungkin HAWKING tak setuju dengan tawaran ini sebab sejak awal HAWKING menampik kehadiran Tuhan dalam proyek besar pengerjaan semesta yang belum rampung. Pengetahaun bagi HAWKING telah menjelaskan dengan lengkap sebagai kemenangan tertinggi manusia atas penjelasan alam semesta raya.

Pada masa kenabian, se-rombongan ilmuwan Yahudi bertanya kepada Nabi saw: "Dimanakah manusia saat bumi diganti dengan bumi yang lain ? Ilmuwan Yahudi bertanya kepada Nabi saw. Ada beberapa pertanyaan lanjutan sebagai uji validasi, untuk menguji apakah Muhammad seorang nabi beneran atau hanya sekedar mengaku-ngaku alias abal-abal. Ketua rombongan ilmuwan Yahudi yang kemudian dikenal dengan nama Abdullah bin Salam bertanya banyak hal kepada Nabi Muhammad saw tentang kosmologi dan kabar setelah mati. Ia memutuskan menjadi mualaf setelah semua pertanyaan di jawab tuntas oleh nabi saw.

Pertanyaan berikutnya adalah apa warna sperma laki laki dan apa warna sperma perempuan. Kapan janin lahir sebagai laki-laki dan kapan lahir sebagai perempuan. Pertanyaan makin berat, apa makanan pertama yang diberikan kepada penduduk surga dan apa pula makanan siangnya. Apakah yang di maksud dengan 'balam' dan 'nun'. Bumi seperti sepotong roti yang menggantung sebelum bumi yang lain diciptakan setelah penghancuran yang lazim disebut kiamat. Langit digulung seperti lembaran-lembaran kertas.

Bumi dan gunung diangkat kemudian dibenturkan dengan sekali bentur. Langit terbelah karena sangat lemah. Malaikat berbaris di setiap penjuru langit menjaga Arsy.

Bumi di datarkan seperti kulit yang disamak. Tak ada tempat tendah dan tinggi. Maka bumi diganti dengan bumi yang lain begitu pula langit. Dan kita dikumpulkan di Padang Makhsyar selama kurang lebih 50 ribu tahun (waktu akhirat)dalam keadaan telanjang belum disunat dan tidak beralas kaki. Sebagaimana penciptaan pertama. Dan manusia berkelompok-kelompok menghadap kehadirat Tuhannya.

Inilah hari dimana kita tidak bisa berbicara lagi dan tidak ada lagi pemberian maaf. Saat kita bersumpah: Demi Allah kami bukanlah orang musyrik, mereka berdusta dengan dirinya sendiri dan hancurlah sembah-sembahan yang dulu mereka sembah selain Allah.

Pada hari itu diberitakan kepada manusia tentang apa yang sudah dikerjakan dan apa yang dilalaikannya. Kemudian diberikanya kitab dalam keadaan terbuka dan menjadi saksi bagi dirinya sendiri. Apakah ia bakal masuk surga atau neraka.

Di surga yang paling rendah, penghuninya dapat melihat kerajaan-nya selama seribu atau dua ribu tahun perjalanan. Ia dapat melihat isteri-isterinya para pembantunya dan ranjang-nya. Dan penghuni surga yang paling tinggi dapat melihat wajah Allah setiap pagi dan petang.

Penghuni surga setinggi Adam 60 hasta. Setampan Yusuf. Seusia Isa 33 tahun belum berjanggut dan berambut pendek. Dan lidahnya sefasih Muhammad. Bumi dikerutkan, kata baginda Nabi saw sehingga aku bisa menerangkan banyak hal tentang semesta raya. Dan kita cukup hanya dengan satu kata: Saya 'ber-iman'. Masya Allah la quw wata illa billahi ... "

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar

Baca : Khilafah; Idealitas dan Realitas

Baca : HTI dan Pragmatisme Politik

Baca : Demokrasi Transaksional Tak Bolehkah?

Baca : Stephen Hawking dan Negeri Akhirat yang di Ingkarinya


Baca : Islam dan Syndrom Mayoritas