Hak-Hak Wanita Perlu Ditegakkan, Wanita Bukanlah Benda Mati!
Cari Berita

Advertisement

Hak-Hak Wanita Perlu Ditegakkan, Wanita Bukanlah Benda Mati!

Sabtu, 31 Maret 2018

Foto : Beberapa perempuan asal Bima ketika melakukan aksi menolak kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan di Palestina.
Indikatorbima.com - Pria maupun Wanita adalah salah satu mahkluk ciptaan Allah SWT sebagai hambanya yang diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Tidak hanya pria namun wanita juga memiliki peran yang penting bagi kenberlangsungannya kehidupan, pria maupun wanita adalah sama, yang membedakannya adalah keimanan dan ketakwaannya saja, baik pria maupun wanita tidak ada yang mendominasi, kerna dalam islam pria dan wanita saling melengkapi satu sama lain dan dalam urusan perkerjaan mereka juga sama tetapi dalam batasan-batasannya masing-masing. wanita di ibaratkan sebagai sosok yang lemah lembut, penuh perhatian, dan memiliki kasih sayang yg lebih dibandingkan pria. Namun dibalik sosok yang lemah lembut itu terdapat sosok yang kuat layaknya seorang pria.

Berbicara soal hak-hak wanita, tentunya tidak lepas juga kita berbicara dengan hak asasi perempuan. Untuk dapat terjaganya hak hak wanita maka yang pertama dikuatkan adala hak asasi perempuan. Hak asasi perempuan juga adalah sebagai hak asasi manusia, kita menegakkan hak asasi perempuan sama halnya kita juga menegakkan hak asasasi manusia. Untuk menegakkan hak asasi perempuan diperlukan keterlibatan semua lembaga-lembaga negara baik itu lembaga suprastruktur politik yaitu eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Tidak hanya lembaga pemerintahan disini yang berperan tapi dibutuhkan juga lembaga infrastruktur politik seperti partai politik maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), bahkan bukan hanya elit elit negara maupun pemerintahan yang berperan dalam penegakan hak tersebut, melainkan warga negara juga harus berpartisipasi dalam menegakan hak asasi perempuan. Kerna sejatinya kita adalah makhluk sosial yang memiliki ikatan sosial dimana kita saling melengkapi satu sama lain.

Dari berbagai kajian, forum diskusi maupun pembahasan tentang perempuan, pasti kita selalu mendengar kata DISKRIMINASI dan KEKERASAN dalam segala bidang kehidupan. Diskriminasi maupun Kekerasan pada wanita mengakibatkan rusaknya kehidupan wanita tersebut dan menghambat perteumbuhan serta kemajuan wanita. Sudah banyak hal yang dilakukan dewasa ini untuk mencegah terjadinya hal hal tersebut tapi belum memberikan perubahan yang signifikan, jika dianalogikan seperti hukuman yang tidak memberikan efek jera. Mengatasi hal ini perlu keterlibatan instrumen instrumen nasional tentang perlindungan hak asasi perempuan, di indonesia sendiri telah banyak hal yang dilakukan untuk menegakan hak hak wanita seperti peraturan perundang undangan maupun dalam bentuk kebijakan kebijakan negara, tetapi belum juga membuahkan hasil yang optimal.

Survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa wanita-wanita indonesia sangat rentan menjadi korban kekerasan, baik itu kekerasan secara fisik maupun kekerasan seksual. BPS menyebut bahwa “ 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun telah menjadi korban kekerasan, 1 dari 10 perempuan usia 15-64 tahun mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir.” Data tersebut merupakan hasil survei pengalaman hidup perempuan nasional (SPHPN) 2016 dengan melibatkan 9.000 responden dari seluruh indonesia. Dari semua kekerasan-kekerasan yang terjadi di indonesia, kekerasan rumah tangga lah yang menempati posisi tertinggi, 245.548 kasus kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian. Dalam tiap tahunnya kekerasan seksual juga terus meningkat, baik itu yang dialami oleh wanita-wanita di usia 20 tahun keatas bahkan wanita-wanita yang masih duduk di banggku SMP dan SMA pun sering terjadi kekerasan seksual.

Kekerasan serta diskriminasi dapat menurunkan harkat dan martabat seorang wanita, karena dengan hal tersebut, memberikan suatu pukulan yang keras terhadap keberlangsungan hidupnya. Kerna kekerasan, wanita mengalami kemunduran mental dan keintelektualannya. Karena diskriminasi wanita mengalami tekanan dalam kehidupannya yang mengakibatkan tidak dapat berkembangnya pola pikir wanita tersebut.

Bila dicermati dengan seksama, banyak kondisi dimana rawan terjadi kemajuan kemajuan perlindungan hak asasi perempuan di indonesia, secara sosilogis kaum laki laki lebih diutamakan dari kaum perempuan bahkan meminggirkan perempuan, laki laki lebih mendominasinya dibanding perempuan. Budaya yang mengutamakan peran perempuan hanya sebagai seorang ibu dan istri mengakibtak lemahnya perlindungan terhadap perempuan tersebut.

Jika seperti ini maka harus lebih bayak lagi peraturan peraturan perundang undangan tentang wanita, dan juga lembaga lembaga negara yaitu infrastruktur politik maupun suprastruktur politik dan masyarakat harus berperan penting dalam dalam menegakkan hak hak perempuan, musti lebih banyak lagi kebijakan kebijakan yg harus dikeluarkan supaya hak asasi perempuan lebih bisa ditegakkan. Dan juga tidak hanya peraturan dan konstitusi saja, maka harus dilakukan sosialisasi-sosialisasi, baik itu kerana masyarakat, sekolah-sekolah, mahasiswa, maupun pemerintahan, serta masih dibutuhkan perangkat undang undang untuk mengatasi masalah-masalah seperti eksploitasi terhadap tenaga kerja wanita, persoalan wanita di wilayah konflik, prostitusi dan lain sebagainya.

Wanita bukanlah benda mati yang dapat diperlakukan dengan tidak wajar tetapi wanita juga manusia layaknya pria, dalam 3 aspek yaitu politik, pendidikan maupun ekonomi, tidak hanya pria yang mendominasi itu semua tetapi wanita juga berhak dalam berpolitik, berhak memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi dan tidak hanya diam di ruamah saja, tetapi dapat juga membantu pria untuk mencari uang dan lain sebagainya dalam bidang ekonomi. Wanita menuntut kesetaraan hak nya bukan berarti wanita harus sama seperti pria tetapi dengan batasan batasannya sendiri. Oleh sebab itu wanita diciptakan sebagai pendamping dan teman seorang pria dan dibalik pria yang hebat terdapat wanita yg luar biasa di belakangnya.

Semoga dengan semakin majunya suatu jaman, dapat juga memberikan efek yang signifikan terhadapat pola kehidupan sosial masyarakat, wanita tidak hanya berdiam diri di sektor domestik saja tetapi juga harus dapat mengisi dalam sektor publiknya, sehinga dapat membuat keseimbangan dan dapat menciptakan suatu solidaritas yang kuat dalam mewujudkan cita cita indonesia yang adil dan makmur serta kesejahteraan masyarakatnya.

Penulis : Khairur Raziqin (mahasiswa jurusan Ilmu pemerintahan, fakultas ilmu sosial dan imu politik universitas muhammadiyah malang).