Gadis Kecil ini Hembuskan Nafas Terakhir Setelah Enam Bulan Melawan Penyakit Limfadenophati
Cari Berita

Advertisement

Gadis Kecil ini Hembuskan Nafas Terakhir Setelah Enam Bulan Melawan Penyakit Limfadenophati

Jumat, 16 Maret 2018

Jenazah Aisyah dirumah duka ketika dikunjungi oleh keluarga dan pejabat (foto : Rangga Babuju).
Indikatorbima.com - Aisyah, seorang gadis kecil berumur 11 tahun. Anak pertama dari dua bersaudara, buah hati dari Pasangan Suami Istri Yanto dan Yusmul Yati, warga asal Desa Tambe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Sejak akhir tahun 2016 menderita penyakit kulit melepuh dan bersisik. Aisyah menghembuskan nafas terakhirnya di Ruang Isolasi Luka Bakar Rumah Sakit Sanglah pada hari kamis, 15 Maret 2018 (dini hari). Aisyah di makamkan pada hari Ini ratusan warga Tambe menjemput disepanjang gang menuju rumah duka, Jum'at (16/03/18). 

Aisyah, Pertama kali rawat ke PKM Bolo pada Bulan Desember 2016, lalu dirujuk ke RSUD Bima. Dirawat hingga bulan Februari 2017, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah pada bulan Maret 2017 hingga bulan Mei 2017. Karena ketiadaan biaya hidup, akhirnya kedua orang tuanya pulang ke Bima dan tidak kembali lagi ke Sanglah sesuai dengan jadwal pemeriksaannya. Dan kedua orang tua Aisyah memutuskan untuk diobati secara Tradisional.

Hasil Laboratorium, menyebutkan bahwa Aisyah menderita penyakit 'Limfadenophati'. Penyakit ini dianggap langka di Indonesia. Limfadenopati adalah istilah medis untuk menggambarkan adanya pembengkakan pada kelenjar limfe. Kelenjar limfe sendiri adalah organ tubuh yang berbentuk kacang polong yang tersebar di bawah ketiak, lipatan paha, leher, dada, dan perut. Akibat penyakitnya, seluruh tubuh Aisyah terkelupas seperti terbakar.

Bulan Oktober 2017, penyakit Aisyah tambah parah. BABUJU CARE CENTRE (BCC) bergerak mulai mendampingi pada 7 Oktober 2017 dan ditangani dengan intensive di RSUD Bima. 11 Oktober, Aisyah dirujuk ke RSUP NTB di Mataram dengan pendampingan penuh BCC. Desember awal, Aisyah dirujuk lebih lanjut ke Rumah Sakit Sanglah Bali, hingga Aisyah menghembuskan nafas terakhir di Ruang Isolasi Luka Bakar Rumah Sakit Sanglah pada hari kamis, 15 Maret 2018 (dini hari). 

BCC Bali bergerak cepat mengurus segala hal terkait pemulangan Jenazah pada kamis subuh (15/3) hingga diberangkatkan pada pukul 10:40 Wita dengan menggunakan Ambulance Masjid An-Nur Denpasar. Serah terima pemulangan Jenazah Aisyah oleh BCC Bali ke BCC Lombok dilakukan di Pelabuhan Lembar. Tim BCC Lombok mengawal dan mengantar kepulangan jenazah hingga Bima. BCC Lombok melakukan serah terima Jenazah dgn BCC Bima di Desa Tambe untuk diteruskan ke Rumah Duka hingga pemakaman usai pada pukul 10:15 Wita tadi di Pemakaman Umum Desa Tambe.
Ketika jenazah sampai ke rumah duka (foto : Rangga Babuju).
Aisyah tiba dirumah duka pada pukul 06:10 Wita (Jumat, 16/3), disambut teriakan histeris keluarga dan hampir semua warga lingkungan sekitar, ikut menyaksikan kedatangan Jenazah Aisyah dengan berdiri digang masuk didepan rumah masing-masing hingga di rumah duka. Kerumunan warga juga terlihat dihalaman rumah duka untuk melihat Aisyah terakhir kali semenjak Aisyah dirujuk ke RSUP NTB (Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat) pada Oktober 2017 yang lalu.

Sementara itu, Rangga Babuju menyatakan, (almh) Aisyah telah didampingi selama kurang lebih 6 bulan dalam mendapatkan penanganan medis. Mulai dari RSUD Bima hingga RS Sanglah.

"Harusnya pada awal Mei nanti, Aisyah dirujuk ke Singapura berdasarkan surat hasil Laboratorium yang diterima RS Sanglah yang mengirimkan Sum-Sum tulang belakang Aisyah ke Singapura, apabila kondisi Aisyah tidak berubah. Namun apa hendak dikata, Allah SWT berkendak lain". tutur Rangga Babuju kepada Indikatorbima.

Rangga Babuju mengatakan bahwa, Seluruh biaya penanganan medis Aisyah berasal dari Donasi Peduli Kemanusiaan Babuju Untuk Aisyah. Mulai dari sejak dirawat di RSUD Bima hingga biaya Ambulance Jenazah, BCC telah menggunakan Rp. 68 juta lebih dana Donasi untuk Aisyah. Ini diluar dari dana Donasi yang diterima langsung oleh orang tua Aisyah yang ikut mendampingi langsung selama perawatan.

"Kami mewakili BCC mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang ikut tergugah dan membantu meringankan beban Aisyah dan keluarga. Meski pada akhirnya Allah SWT berkehendak lain. Kini, Aisyah telah tenang dalam pangkuan Illahi" ucap Rangga Babuju.

Sementara itu kedua orang tua Aisyah, Yanto dan Yusmul mengucapkan terima kasih kepada para Donatur baik melalui BCC maupun yang datang menjenguk dan menyerahkan langsung. Disampaikan juga ucapan terima kasih kepada Bupati Bima yang sempat menjenguk di RSUP NTB, Wakil Walikota Bima, teman-teman dari Rekan (Relawan Kemanusiaan) NTB, Keluarga Besar D2GN (Dou Dompu Global Network), LPDP, Endri Fundation, Komunitas MECI ANGI Bima Dompu di Bali dan yang lainnya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu.

"Kami tidak tahu harus sampaikan ungkapan terima kasih dengan cara apa atas segala bantuan yang kami terima. Kami keluarga besar Almarhummah Aisyah di Desa Tambe maupun Desa Kananga Bolo, mengkhaturkan beribu - ribu ucapan terima kasih kepada semua pihak. Kami tak mengira, Aisyah diperhatikan sedemikian rupa. Terkhusus teman - teman BCC baik sejak dari Bima hingga selama di Bali" Ungkap Yanto di Makam Aisyah dihadapan warga yang ikut mengantar dan menguburkan Aisyah.

Reporter : Taufiqurrahman
Editor      : Furkan AS