Formal Desak Pemerintah Ungkap Pelaku Pembabatan Hutan di Lambitu
Cari Berita

Advertisement

Formal Desak Pemerintah Ungkap Pelaku Pembabatan Hutan di Lambitu

Minggu, 11 Maret 2018

 
Foto : Pengurus FORMAL Malang
Indikatorbima.com - Forum Mahasiswa Lambitu (FORMAL) Malang mendesak pemerintah untuk segera menindaklanjuti kasus tanah longsor dan tanah retak yang terjadi di Desa Teta Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima. Formal Malang menduga, bahwa penyebab terjadinya tanah longsor dan tanah retak tersebut, diakibatkan oleh pembabatan/penggundulan hutan secara liar. Selain itu, Formal Malang juga mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas siapa pelaku dan siapa pihak-pihak yang terlibat dalam kasus pembabatan hutan tersebut, Minggu (11/03/18). 

Ketua Umum Formal Malang Wahjiansyah menyatakan, bahwa permasalahan tanah longsor dan tanah retak di Desa Teta akan membahayakan masyarakat sekitar, misalnya kurangnya air bersih yang di alami oleh warga Desa londu beberapa hari kemarin yang di sebabkan pipa terlepas di karenakan adanya tanah yang retak.

"Masalah ini apakah tidak di tanggapi serius oleh pemerintah, apa sebab hutan yang telah gundul, apakah kesalahan masyarakat atau pemerintah yang tidak menanggapi serius masalah ini" katanya kepada Indikator Bima.

"Kami dari Formal Malang secara tegas akan menindak lanjuti masalah hal ini, dan Kami berpikir bahwa masalah ini pasti ada asal muasal kenapa ini terjadi apakah karena hutan yang telah gundul ataukah karena gempa bumi," tegasnya. 

Sementara itu, salah satu senioritas Formal Malang Taufiqurrahman menegaskan, bahwa penyebab terjadinya tanah longsor dan tanah retak di Desa Teta, Kecamatan Lambitu diakibatkan oleh pembatatan hutan secara liar.

"Kami menduga, besar kemungkinan tanah retak dan tanah longsor di akibatkan oleh pembabatan hutan secara liar, STOP penebangan pohon secara liar jangan sampai generasi penerus kelak menangis karena ulah tangan pendahulunya". tegasnya kepada Indikator Bima. 

Lebih lanjut, salah satu anggota Formal Malang Andi Apriansyah menambahkan permasalahan tanah longsor dan tanah retak sudah terlanjur terjadi. Andi mempertanyakan, siapakah yang patut di salahkan, apakah pemerintah atau masyarakat. Baginya, masyarakat tidak mungkin bertindak tanpa adanya perintah atau izin dari pemerintah setempat. 

"Permasalah tanah longsor dan tanah retak sudah terlanjur terjadi, siapa yang patut disalahkan apakah pemerintah atau masyarakat, kalau memang salahnya masyarakat pasti masyarakat bertindak tentu ada instruksi dari pemerintah. Mari sama sama kita cari tau informasi ini," tutupnya. 

Seperti yang diketahui, akibat dari tanah longsor dan tanah retak tersebut, mengakibatkan puluhan rumah warga terancam ambruk, ratusan kuburan rusak parah, bahkan tulang maupun kain kafan mayat sudah terlihat, listrik di Desa Teta sempat padam, bahkan beberapa warga sempat mengungsi kerumah kerabatnya yang lain. 

Reporter : Furkan AS
 Editor    : Fuad D Fu