Disorientasi Pembangunan Kebudayaan di Bumi Gora
Cari Berita

Advertisement

Disorientasi Pembangunan Kebudayaan di Bumi Gora

Senin, 19 Maret 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Membaca peta pembangunan NTB adalah topik yang selalu menarik dikaji. Kajian-kajian ini terus digalakkan di meja-meja diskusi para pemerhati kebudayaan. Mereka percaya bahwa pembangunan NTB harus menyentuh sisi esensi dari sebuah kebudayaan. Melalui tulisan kali ini, penulis mencoba mengupas pembagunan kebudayaan di Bumi Gora. Lima tahun terakhir para pengamat dan pemerhati budaya mulai mengerucut arah pandanganya tentang NTB dalam konsep kebudayaannya.

NTB, kita sama-sama mengatahui, kaya akan kebudayaan dan produk kebudayaannya. Tapi sayang, sejauh ini kajian-kajian tentang arah pembangunan tentang domain ini dilihatnya pemerintah kehilangan arah. Itu pandangan para pemerhati kebudayaan. Mereka melihat, pemerintah cenderung menganggap kebudayaan hanyalah sebatas “berkesenian dan berpakaian berbau adat”. Sehingga arah pembangunannya tidak memiliki orientasi menuju pembentukkan mental kebudayaan bernilai luhur dalam menghadapi peradaban global.

Euforia pembangunan kebudayaan di Bumi Gora ini terkesan pragmatis, menyampingkan esensi, gerak majunya sebatas eksistensi. Kebudayaan hanya dilihat sebatas euforia berkesenian dan berpakain adat. Memang, kita tidak bisa menaifkan eksistensi sebuah kebudayaan melalui produk kebudayaan, namun jauh lebih mendasar adalah esensi dari sebuah kebudayaan itu sendiri, di sinilah nilai berperan penting dalam pembangunan peradaban manusia yang didasari akal sehat. Pada dasarnya kebudayaan memiliki nilai-nilai yang senantiasi diwariskan, ditafsirkan dan dilaksanakan seiring perubahan sosial kemasyarakatan. 

Pelaksanaan nilai-nilai kebudayaan merupakan legitimasi masyarakat terhadap kebudayaan. nilai-nilai inilah yang menjadi sarana pembangunan NTB seharusnya. Kita akan memahami esensi dari kebudayaan, setelah kita mampu menerjemahkan nilai-nilai. Transformasi nilai adalah hal utama dan pertama. Melalui kebudayaan kita menerjemahkan nilai dengan melihat peradaban hari ini, dan harapan hidup di masa akan datang. Mengutip gagasan yang disampaikan oleh Lalu Ari Irawan, salah satu tokoh pemerhati kebudayaan Sasak bahwa “kebudayaan adalah masa lalu untuk sekarang, masa sekarang untuk masa depan”. Kutipan ini berlaku secara universal. Dimana gagasan ini memberi pesan tersirat bahwa proses menerjemahkan nilai dengan mendesain konstruksi peradaban hari ini guna mendorong terwujudnya proses internalisasi di masyarakat adalah sangat utama. Sehingga transformasi nilai dari sebuah kebudayaan dipandang esensial keberadaannya.

Untuk memahami eksistensi dan esensi pembangunan kebudayaan di NTB, penting memahami orientasi pembangunannya. Contoh kasus yang sederhana, membangun gedung-gedung menjulang tinggi, pantai-pantai diperindah, pengadaan pakaian-pakaian adat, menyelenggaran kegiatan kesenian, itu bukanlah hal yang sulit dikerjakan. Dengan memiliki banyak uang kita dapat membagunnya sekehendak hati. Namun ini bukanlah persoalan utama, bukan pula mempersoalkan bangunan-bangunan yang telah direalisasi dan perkotaan ditata rapi, bagaimanapun inilah peruntukkan yang real bagi masyarakat NTB. Persoalanya adalah pernahkah kita sadari bahwa membangun itu semua tidak semudah membangun dan membentuk manusia yang akan memanfaatkannya dengan baik, memeliharanya dengan penuh tanggung jawab, menghadirkan manfaat yang luas dan berkhidmat dari semua pembangunan fisik tersebut. 

Memberi pekerjaan kepada seseorang adalah hal yang mudah, sangat mudah. Tetapi pernahkah kita sadari bahwa membuat orang bekerja dengan kecintaanya terhadap pekerjaan itu jauh lebih sulit. Memiliki banyak uang, lalu memberi kepada seseorang itu juga hal ringan, sekali lagi sadarkah kita bahwa membuat orang bertanggung jawab pada uang itu adalah sangat sulit. Itulah sebabnya kenapa esensi lebih penting diperhatikan sebagai visi besar dan utama dalam membangun kebudayaan NTB. Inilah orientasi yang seharusnya menjadi titik fokus pemerintah.

Transformasi dan Integrasi Nilai Luhur Kebudayaan sifatnya tidaklah stagnan, jika sebuah kebudayaan bersifat stagnan maka dapat dikatakan tidaklah lebih dari catatan peristiwa masa lampau. Namun akan menjadi peristiwa kebudayaan manakala terus beriringan dengan sikap dan perilaku manusia. Perbedaan keduanya dari sifatnya, peristiwa sejarah terjadi di masa lampau, nyata dan tidak bisa berubah-rubah. Peristiwa kebudayaan bisa terjadi di masa lampau namun terus hidup beiringan dengan manusia melalui pikiran dan lakunya. Indikasinya bisa berubah-rubah, sifatnya dinamis. Sikap msyarakat terhadap kebudayaan tidaklah monoton.

Jikalau kita monoton memaksakan diri dengan konsep masa lalu, sebuah produk kebudayaan dengan sendirinya tergerus oleh zaman. Kita tidak bisa mengandalkan dalil klasik bahwa kebudayaan hilang karena modernitas. Modernitas adalah hukum peradaban, kehadiraanya tidak bisa dikendalikan, sifatnya dinamis seiring kemampuan berpikir manusia. Menaggapi persoalan ini, sikap kita mengemas kebudayaanlah yang dipertanyaakan. Maka dari itu, penting kita pahami bahwa peran kebudayaan sebagai penafsir nilai-nilai ke dalam laku adalah esensial dalam pembangunan peradaban, terbuka menghadapi zaman dengan prinsip nilai luhur dan sumber nilainya.

Lalu bagaimana sikap kita dalam hal ini? Pembangunan kebudayaan NTB harus mempertimbangkan esensi dari sebuah kebudayaan. Pembangunan sebatas berkesenian, berpakaian berbau adat hanyalah permukaan yang condong ke arah yang praktis, penjaga dan pewaris kebudayaan ini semestinya menjadi fokus bersama. Sekali lagi, transformasi dan integrasi nilai-nilai luhur dari sebuah kebudayaan adalah utama dan pertama dalam pembangunan kebudayaan NTB. 

Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah? Hal ini telah didiskusikan oleh penulis dan para pemerhati budaya di NTB. Diantaranya Rowot Nusantar Lombok dan Pusat Riset Genius Sumbawa Lombok. Mereka memandang, pemerintah bersamaan dengan para pegiat budaya NTB, bersinergi dalam merumuskan arah transformasi dan integrasi nilai-nilai tersebut. Melakukan kajian secara mendalam seluruh kebudayaan NTB, menggali nilai-nilai luhur, membaca kondisi hari ini dengan nilai-nilai sebagai pedoman bersama, lalu secara bersamaan bersinergi merumuskan resep pembangunan kebudayaan, rumusan-rumusan ini ditransformasikan ke berbagai infrastruktur di bawah kekuasaan penguasa, melalui program, pendidikan, ekonomi dan lain-lain.

Melihat fenomena arus peradaban masa mendatang, sikap kita sebagai masyarakat NTB, sejatinya sangat menghormati kebudayaan. Konsep-konsep kebudayaan lokal harus menjadi perisai ketika terjadi benturan nilai. Nilai-nilai luhur harus hidup dalam jiwa ke-NTB-an. Ruang-ruang kebudayaan harus berorientasi ke arus tersebut, dibangun dengan transformasi nilai yang kuat dilandasi nilai luhur dan budi halus. Dari sini, wujud idealnya sebuah kebudayaan membentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dengan sifatnya yang abstrak pun hidup dalam diri masyarakat. Sehingga dari wujud ini kebudayaan terletak pada sikap dan pikiran masyarakatnya dilandasi oleh nilai-nilai luhur. Letak kebudayaan inilah yang esensial dalam pembangunan NTB, membuka diri terhadap peradaban global. Kolabolasi kebudayaan yang terletak pada pikiran dan tindakan ini menciptakan sistem sosial melalui interaksi-interaksi berdasarkan adat dan tata kelakuan.

Harus kita pahami bersama, salah satu tolak ukur kekuatan sebuah bangsa adalah tidak tercerabut dari akar nilai luhurnya. Sehingga berangkat dari sini kita perlu adanya formulasi pembangunan kebudayaan, Provinsi NTB mengutamakan transformasi dan integrasi nilai dengan harapan bahwa esensi kebudayaan menjadi perisai dalam eksistensinya berhadapan dengan arus global.

Penulis : Muhammad Sahrain (pegiat lembaga genius dan pemerhati budaya)