Demokrasi Transaksional Tak Bolehkah?
Cari Berita

Advertisement

Demokrasi Transaksional Tak Bolehkah?

Jumat, 16 Maret 2018

Ilustrasi (foto : beritasatu)
Indikatorbima.com - Demos berkata kepada para politisi: 'Aku punya biting suara, kalian mau tukar dengan apa ..? Politisi menjawab: "Aku punya gula dan beras masing-masing 10 kilo untuk setiap biting suara yang diberikan untukku". Politisi lain berkata: 'Aku tukar suara kalian dengan pendidikan gratis, fasilitas pendidikan dan guru berkualitas". Katanya tangkas. "Aku tak punya anak yang sedang sekolah, kata Demos pendek. Politisi lain segera menyahut: "Kalau begitu Aku tukar suara kalian dengan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan". Klise, para Demos tertawa sambil meringis. Sudah bisa di duga, politisi mana yang kira-kira bakal dipilih para demos.

Baik dan buruk, benar dan salah dalam berpolitik. Apakah politik pragmatis-transaksional itu haram. Lantas apa sanksinya jika seorang politisi diketahui melakukan praktik politik pragmatis-transaksional. Satu Ikhtiar mendapat dukungan dari jutaan konstituen beragam, dengan letak posisi terpencar tidaklah mudah. Maka beberapa politisi mengambil jalan mudah yang lebih pragmatis sebagai cara untuk memotong rantai komunikasi yang sulit dan makan waktu banyak. 

Misalnya: seorang politisi yang punya visi populis bertransaksi dengan para konstituen pemilihnya: "Pilihlah saya, jika terpilih saya akan buat peraturan tentang perlindungan sumber mata air, anggaran yang berpihak kepada petani, pendidikan murah yang bermutu. Pasar rakyat dan kesehatan gratis.

Seorang politisi yang berlatar belakang pesantren dengan ta'dzim berkunjung dan safari ke beberapa pesantren, bertemu para santri dan mencium tangan kyai yang dihormati. Mohon doa agar terpilih sebagai kepala daerah. Dia berjanji akan membantu meningkatkan mutu dan kualitas pesantren berikut ustadz dan santrinya, akan diberi kredit murah untuk pendirian koperasi bagi santri, bantuan modal usaha lunak tak berbunga. Dan pengadaan kitab-kitab klasik dari timur tengah. Dia juga berjanji akan meng-haji kan dan meng-umrah kan. Dia juga berjanji bakal memberi tunjangan kepada para guru ngaji di surau-surau dan tpq. Semua item transaksi yang disepakati bila perlu ditulis dan bermeterai sebagai tanda kesungguhan.

Politisi lainnya bertransaksi, jika terpilih sebagai kepala daerah, dia akan buat regulasi tentang kemudahan perijinan membangun tempat hiburan, diskotek dan kafe yang ringan pajak dan bebas pungutan. Kepada para ratusan purel di sebuah kafe, politisi berjanji akan buat banyak kemudahan dengan kelonggaran aturan dan regulasi hiburan. Tak ada lagi penggerebekan oleh petugas keamanan dan boleh dansa hingga pagi. Para purel bebas beraktivitas. Para pemilik rumah hiburan dan ratusan purel senang bukan main, mereka berjanji akan berikan semua suaranya dan para pengunjung diskotek lainnya untuk politisi harapan para purel ini.

Romo Magnis Suseno (Frans) pernah menulis buku tentang Etika Politik. Sayang, kajiannya rumit dan njelimet sehingga sulit dipahami. Dan orang lebih suka dengan nasehat kuno Niccolo Machiaveli dalam buku Le Principe (sang pangeran). Tujuan menghalalkan semua cara, demikian nasehat Machiaveli kepada para pangeran dan politisi di Italia. Dan kita tahu seperti apa efek-nya.

Simak bagaimana pidato Abu Bakar as Sidiq ra saat terjadi perdebatan sengit di Saqifah tentang siapa yang paling berhak menjabat sebagai khalifah pengganti Nabi saw:" .... maka kamilah para amir dan tuan-tuan para wazir. Kami tak akan meninggalkan tuan-tuan dalam musyawarah dan tak akan memutuskan sesuatu tanpa tuan-tuan". Transaksional dan pragmatis, pilihan cerdas untuk meminimalisir konflik dan ketegangan yang makin tidak terkendali antara Muhajirin dan Ashar.

Saat umat Islam dalam kondisi krisis kepemimpinan dan kepercayaan, maka bagi Abu Bakar ra dan Umar Ibnul Khattab ra keduanya ditagih pragmatis, yang penting umat Islam tidak larut dalam konflik berebut jabatan berkepanjangan. Memulihkan kepercayaan diri, stabilitas politik dan sosial. Tapi tidak bagi Ali ra dan para pengikutnya yang setia : ' ... .. bagaimana mungkin, jasad nabi saw belum juga dikubur. Mereka sudah berebut jabatan". Ali ra merasa ditinggal dan di tilap dalam pemilihan khalifah di Saqifah. 

Pragmatis-transaksional dalam demokrasi politik adalah wajar. Dan tak perlu baper menagih janji kampanye. Ini politik. Bahkan mahar politik pun juga marak dikalangan gerakan politik yang mengatas namamakan agama demi tegaknya syariat. Tetap pragmatis-transaksional. Setali tiga uang alias sama saja ... dan itu biasa dalam berpolitik ... satu lagi: tidak ada musuh dan teman abadi dalam politik, yang abadi adalah kepentingan ... ".

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar