Cadar dan Baju Kotak-Kotak
Cari Berita

Advertisement

Cadar dan Baju Kotak-Kotak

Rabu, 21 Maret 2018

Foto : Ilustrasi
Indikatorbima.com - Dua model pakaian di-hantu-kan, bukan saja di musuhi tapi juga dilarang dengan alasan yang di ada-adakan. Cadar dan baju warna kotak-kotak. Keduanya mewakili dua aliran yang sedang berseteru berebut kuasa. Cadar simbol radikalisme penyebab teror dan baju kotak-kotak mewakili kelompok pendukung penista agama atau ahokker. Dua hantu berdiri berhadapan.

Ini soal sederhana, tapi kenapa diributkan, bukankah kita wolless saja ketika ada mahasiswi pakai bikini, kaos ketat dengan pusar terlihat saat duduk kuliah. Apa kita terganggu dengan perempuan bercadar yang kita tak pernah tahu apa ia tersenyum atau merengut. Dan apa pentingnya kita tahu. Toh wanita lain yang bisa dilihat senyumnya juga masih banyak. Lalu kenapa harus bersusah payah membuat regulasi melarang bercadar.

Belum ada ukuran jelas seberapa menganggunya sehingga cadar harus dilarang. Ini memang soal yang sebetulnya tidak terlalu rumit. Dan tidak berpengaruh apapun terhadap aktifitas apalagi sampai dikatakan menganggu kenyamanan publik. Sebab bukan disitu letak soalnya.

Tapi ketika UIN melarang, persoalan menjadi menarik. Pelarangan cadar justru di UIN yang dulu disebut IAIN. Sebuah lembaga agama Islam yang melahirkan banyak agamawan karena diasuh para cendekiawan dan ulama berpengaruh. Ini fenomena baru yang menggelitik. Kenapa harus UIN yang menyoal dan melarang, kenapa bukan di universitas-universitas 'sekuler'.

Sama sekali tidak bermaksud masuk membahas pada wilayah ikhtilaf tentang hukum cadar dalam fiqh. Apakah cadar itu budaya atau masuk wilayah syariat. Ini hanya soal cara pandang. Yang terlihat di permukaan justru kita terjebak pada pikiran sempit tentang politik dan agama simbol yang mengalami reduksi makna. Sebut saja: Koperasi 212 yang melahirkan beberapa produk: supermarket 212, Roti 212, sendal 212. Menjelma menjadi koperasi politik, sendal politik dan roti politik dan saham politik yang belakangan kempis sebelum terealisasi. Tidak cukup, kemudian diberi cap agama untuk memperkuat legitimasi agar beroleh dukungan massa jamaah. Agama telah dipolitisir untuk tujuan politik praktis . Prediksi Karen Amstrong nampaknya mulai terbukti.

Stigma pakaian kotak-kotak sebagai musuh Islam karena dianggap Ahokker. Pun dengan cadar yang dianggap sebagai penyebar radikalisme yang mengancam stabilitas. Ini soal besarnya.

Yang tidak suka dengan cadar dan baju kotak-kotak sesungguhnya berada pada posisi sama: alias setali tiga uang. Menderita cemas yang lebih alias paranoid akut. Jadi jangan pernah pakai cadar di kalangan baju kotak-kotak. Dan jangan nekat pakai baju kotak-kotak di kalangan bercadar.

Harus berpikir dua kali mengenakan baju kotak-kotak sebab akan dianggap ahoker dan jangan coba-coba mengenakan cadar karena akan dianggap bagian dari gerakan terorisme dan penyebar paham radikal. Menarik bukan ? Itulah cara pikir kita sekarang ? Pakaian, dan warna telah dirasuki politik. Sebentar lagi mungkin sendal atau bahkan sarung. Karena sarung sudah di klaim pakaian santri Islam nusantara, jangan-jangan ada yang baper melarang jamaahnya pakai sarung atau sebaliknya.

Kita berada pada sebuah etape mundur entah berapa abad yang silam. Berlaku sama ketika para Paderi di Eropa Kresten pada masa kegelapan harus mengenakan kalung Salib bertanda khusus sebagai pembeda. Cadar dan baju kotak-kotak hanyalah simbol dan kita terganggu karenanya. Dan nyatanya kita memang butuh atribut untuk mengatakan kita ini sebenarnya siapa.

Dengan perih Sidharta berkata kepada Govindha sahabatnya: "kebijaksanaan tidak bisa dikomunikasikan seperti halnya pengetahuan, kita dapat menemukannya, hidup dan mendapat keajaibanya tapi kita tak dapat mengajarkannya".

Karena kebijaksanaan itu pula Nabi Musa as urung dan gagal menjadi murid Nabi Khidr. Mungkin Musa sangat pintar, tapi ia gagal mendapatkan hikmah, seperti yang di dapat Khidr. Betapa banyak orang pintar, tapi tak punya hikmah.

Sejak kapan pakaian dan warna punya agama dan aliran politik. Lantas apa yang harus dikatakan ketika cara berpikir macam itu justru kental di kalangan akademisi di kampus-kampus besar, para legislator di gedung parlemen, para pengambil kebijakan di kantor pemerintah. Para cendekiawan di pusat riset, para penguasa di pabrik-pabrik dan para ulama di pesantren-pesantren .... ".

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar


Baca : Inilah Suka dan Duka 7 Perempuan Asal Bima Ketika Berhijab

Baca : Inilah Semangat dan Motivasi Berhijab 10 Ukhti Asal Bima, Mengharuhkan!

Baca : Islam dan Syndrom Mayoritas

Baca : Islam dan Kosmologi

Baca : Khilafah; Idealitas dan Realitas

Baca : HTI dan Pragmatisme Politik

Baca : Demokrasi Transaksional Tak Bolehkah?

Baca : Stephen Hawking dan Negeri Akhirat yang di Ingkarinya