Bingkai Kebebasan dalam Trilogi Soekram
Cari Berita

Advertisement

Bingkai Kebebasan dalam Trilogi Soekram

Sabtu, 24 Maret 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Sapardi Djoko Damono banyak menyumbang karya sastra baru pada dewasa ini. salah satu karya Sapardi yang fenomenal adalah novel berjudul Trilogi Soekram. Novel ini dicetak pertama kali pada tahun 2015 dan perbarui kembali pada tahun 2016. Keseluruhan cerita dalam Trilogi Soekram sangat menarik untuk dibaca. Novel Trilogi Soekram merupakan kisah tiga babak yang menceritakan Soekram sebagai tokoh utama. Bertema tentang kebebasan novel ini memiliki makna yang mendalam. Pembaca diajak memahami Soekram yang cenderung tidak mengetahui arah tujuan hidupnya. Ia hanya mencari tentang keadilan. Soekram tidak ingin dikekang dan menggantungkan nasibnya kepada penciptanya. Soekram dengan berani ingin membuat kisahnya sendiri.

Kisah Soekram bermula ketika tokoh pengarang telah meninggal dunia. Soekram yang merupakan tokoh imajinasi merasa dirinya diterlantarkan oleh pengarang. Soekram yang tidak ingin begitu saja terlantar lantas mencari bantuan seorang teman dari pengarang untuk menyelesaiakan ceritanya. Pada bab pertama yaitu pengarang sudah mati, Soekram meminta tokoh Aku untuk menyelesaikan dan menerbitkan ceritanya. Dia menjadi sosok casanova yang disukai banyak wanita. Soekram telah memiliki istri bernama Minuk dan seorang anak. Meskipun beristri, tidak lantas menghalangi Soekram untuk mencintai wanita lain. Ida, teman kuliahnya di luar negeri menarik hatinya. Akan tetapi, perjalanan cinta Soekram dan Ida harus berakhir saat Soekram harus kembali ke Indonesia. Soekram jatuh cinta kembali kepada seorang mahasiswinya. Rosa, bagi Soekram bukan hanya mahasiswi biasa. Mahasiswi aktivis kampus yang vokal itu sangat lembut dan perhatian padanya. 

Kisah cinta segi empat ini berakhir suatu sore, saat huru-hara 98 terjadi pada puncaknya. Rosa, gadis yang dicintai Soekram adalah wanita etnis tionghoa. Rumahnya disantroni dan dibobol. Rosa yang panik menelpon Soekram untuk meminta bantuan. Soekram yang saat itu tengah mengantar anaknya ke rumah sakit, langsung menuju ke tempat tinggal Rosa. Dia mengemudikan mobil cerry-nya denga hati-hati, akan tetapi seseorang telah memecahkana kaca mobilnya. Mobil Soekram terguling, ia mencoba keluar namun gagal. Soekram tak sadar api menyulut mobilnya karena ia merasa berada di pesawat, melihat istri dan anaknya di antara mega-mega.

Cerita berakhir begitu saja, tidak ada kejelasan tapi Soekram belum kembali menemui tokoh Aku untuk melengkapi cerita itu. Kisah pada bab pertama seolah hanya oase, khayalan Soekram saja. Pada bab kedua pengarang belum mati, pembaca akan terkejut menjumpai fakta bahwa pengarang Soekram tidak meninggal. Tokoh pengarang protes keras karena kisah-kisah yang ditulisnya terbit tanpa sepengetahuannya. Pengarang menyuruh tokoh aku menerbitkan ulang cerita sesungguhnya. Pengarang menjelaskan komputernya terkena virul, hal itulah yang menyebabkan Soekram tiba-tiba hidup dan mengacaukan ceritanya.

Soekram dalam bab ini memiliki peran berbeda. Soekram menjadi mahasiswa aktivis, tidak terlalu vokal menyuarakan tuntutanya. Cukup menghargai pemerintah. Soekram jatuh cinta pada seorang wanita, Maria namanya. Maria sosok wanita cantik yang lembut, rajin beribadah di gereja. Soekram yang berbeda keyakinan tidak begitu mempermasalahkan hubungan beda keyakinan lantaran dia memang tidak fanatik. Hubungan mereka baik-baik saja, namun sayang saat hari wisuda Maria meninggalkan Soekram tanpa kejelasan. Soekram yang gelisah pergi ke gua untuk menenagkan diri. Dia mendengar suara-suara gaib yang menyuruhnya tidak memakan pasir. Soekram tentu kebingungan tapi pada akhirnya Soekram menemukan kedamaian. Kisah Soekram berakhir begitu alami. Tokoh Aku telah menjalankan amanat pengarang, namun sayang Soekram tidak setuju. Dia protes kepada tokoh Aku, tidak terima akan kisahnya yang biasa-biasa saja. Soekram ingin membuatnya kisahnya sendiri. Kisah yang tidak akan membuat rekan-rekan rekaanya terlantar seperti dia.

Bab ketiga pengarang tak pernah mati, pembaca seolah diajak melewati mesin waktu. Soekram terlempar ke zaman Siti Nurbaya. Ia menjadi sosok pemuda dari jawa yang ingin berguru pada Datuk Meringgih. Setelah bertemu Datuk dan pengawalnya Semar, Soekram menjadi tahu banyak hal tentang perjuangan melawan penjajah dan sosok Nurbaya. Gadis cantik yang dicintai Datuk. Soekram kemudian diutus Datuk untuk menemui Nurbaya. Pertemuan dengan Nurbaya membuatnya jatuh cinta. Sayangnya, hati Nurbaya telah dimiliki Datuk. Nurbaya banyak becerita tentang Datuk, abangnya Hanafi serta teman baiknya Kartini, kecemburuan datuk terhadap mantan tunangannya, Samsul. Akibat kecemburuan, Datuk sampai hati memfitnah Samsul menghamili Nurbaya. 

Pertemuan Nurbaya dengan Datuk Merinngih berjalan baik. Nurbaya dibawa ke hutan untuk mengikuti Datuk. Soekram sangat khawatir akan terjadi hal buruk menimpa Nurbaya. Kegelisahan membuat Soekram memutuskan menyusul keduanya. Tak lama setelah dia sampai ke Hutan dia bertemu sosok Marah, konon yang menciptaka Nurbaya dulu. Marah kecewa dengan Soekram yang mengambil ceritanya. Dia mengatakan bahwa yang dilakukan Soekram sama seperti yang dilakukan oleh pengarangnya. Soekram menjelaskan bahwa dia tidak ingin Nurbaya meninggal. Marah menyuruhnya mengikhlaskan Nurbaya karena memang dia tidak pernah ada. Kemudian sebuah keajaibah muncul di akhir cerita. Tiba-tiba ada gurun pasir ditengah lembah lalu Soekram menghilang, kembali ke masa depan.

Secara eksplisit, tokoh aku telah menjelaskan bahwa Soekram memang ingin abadi. Bukan hanya sebagai tokoh rekaan tapi sebagai pengarang. Kisah Soekram begitu biasa saja, menggambarkan kisah klasik percintaan tapi dia memiliki kemauan untuk mengubahnya. Soekram adalah tokoh rekaan yang diberikan kebebasan memilih jalan ceritanya. Meski demikian, sebenarnya semua hal yang dilakukan Soekram masih diawasi dan diantur oleh pengarang. Sama hal nya dengan manusia. Manusia bebas memilih namun Tuhan yang menentukan. Manusia akan meninggal tapi karyanya akan selalu dikenang dan abadi. Soekram menjadi contoh bingkai kebebasan abadi yang menawan. Menyadarkan pembaca tentang makna kebebasan sesungguhnya. Kebebasan mungkin hanya oase kehidupan, akan tetapi manusia tetap diberikan pilihan selama tidak berputus asa dan terus mencoba.

Penulis : Fitria Sugiatmi (mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia universitas muhammadiyah malang)