Bila Negara Colaps Karena Utang, Maukah Kita Urunan?
Cari Berita

Advertisement

Bila Negara Colaps Karena Utang, Maukah Kita Urunan?

Minggu, 25 Maret 2018

Sumber : Aktual
Indikatorbima.com - Pak Syaf rela melepas jabatan gubernur BI dan menyerahkan 29 kg emas kekayaannya untuk negara. Nyak Sandang menyerahkan 10 gram emas berikut hartanya senilai 100 rupiah saat itu untuk menyumbang pembelian pesawat negara pertama yang diberi nama Seulawah-1 kemudian menjadi Garuda. Mereka hanya ingin berbuat bajik untuk negara dan tidak melihat siapa rezim berkuasa. Pak Syaf sedang berkonflik hebat dengan Soekarno tapi untuk negara tak ada yang lebih berharga.

Pak Syaf (Syafrudin Prawiranegara) aktifis Masyumi sahabat karib Pak Natsir dan Nyak Sandang orang Aceh mungkin dua pribadi berbeda tapi keduanya sama sama punya niat baik. Bahwa mendirikan negara bukan hanya soal pidato atau diskusi di meja yang riuh dengan iklan. Tapi juga memberikan harta terbaiknya untuk negara jika dibutuhkan. Tak penting berapa jumlah tapi niat tulus itu yang bakal dibalas. Pada saat negara dalam keadaan begini ternyata masih ada yang senang membuat gaduh, rakyat cemas dan ketakutan.

Berbagai spekulasi mengemuka dan tampaknya ada sebagian kita yang senang dengan kabar sensasional meski tak di dukung data valid. Kiamat tahun 2012 contohnya, pernah menjadi trending topic tak sedikit yang panik bahkan membangun bunker dan tempat pelindungan. Manusia memang suka dengan 'hantu' , yang penting bisa membuat takut kemudian dibahas ramai. Lantas ada yang membuat hantu bahwa Indoenesia bakal bubar pada tahun 2030 bahkan lebih cepat lagi dengan semangat berapi-api.

Tapi jangan pernah meremehkan. Orde Lama remuk karena hantu PKI. Orde Baru terguling karena hantu resesi ekonomi. Dan Jokowi bisa saja keok di periode dua karena hantu utang luar negeri. Siapapun bisa menciptakan hantu untuk membuat panik. Dan utang luar negeri menjadi yang paling gampang di jadikan bahan olok bahkan bully terutama pada siapapun yang berkuasa.

Ada banyak penyebab, salah satunya adalah utang yang tidak terkendali. 3.482 triliun (-+) itu angka fantastis untuk sebuah tumpukan utang meski kita tahu utang juga dipakai untuk membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, listrik dan lainnya. Banyak jalan menuju Roma pepatah bilang. Tapi apa ada jalan membangun tanpa utang. Dan jangan lupa bahwa utang sebesar itu juga warisan dari para rezim sebelumnya yang juga ikut utang. Artinya semua rezim ya utang.

Tahun 1956 Soekarno memang pernah mengkonsep negara berdikari. Berdiri diatas kaki sendiri. Negara yang tidak perlu bantuan asing karena setiap bantuan asing dianggap imperialis gaya baru. Meski dengan nada frustrasi karena gagasan bagus itu lahir setelah Soekarno gagal mendapat utangan dan ditampik kesana kemari. Artinya ikhtiar untuk mencari pinjaman adalah alternatif pertama yang harus dilakukan.

Belum ada model negara yang bisa bebas dari jerat utang, bahkan negara adi-daya sekelas Amerika juga punya timbunan utang yang tak sedikit. Ironis nya Amerika juga acapkali memberikan pinjaman pada negara-negara lain yang butuh utangan. Sampai disini saya tak paham bagaimana pasar bekerja.

Mungkin Adam Smith benar, seorang tokoh ekonomi klasik pencetus frame market kapitalist paling berpengaruh yang menyaksikan ada invisible hands atau tangan Tuhan yang ikut bekerja di pasar. Lantas saya berpikir apa kita bisa bebas dari jerat utang.

Ada empat negara di dunia yang bebas dari utang, pertama Macao negara seluas lima kecamatan dengan penduduk sekitar 400 ribuan ini tak punya utang. Kedua British Virgin Island jumlah populasi sebanyak 21 ribu atau sekitar dua Kelurahan ini juga tak punya utang. Ketiga Leicherstein negara seluas 62 mil dengan penduduk 22 ribu ini juga tak punya utang. Keempat Pulaun negara dengan 300 pulau kecil yang dihuni sekitar 32 ribu orang atau sekitar satu kecamatan ini juga tak punya utang.

Hanya empat negara itu yang tak punya utang. Lainnya semua merata tanpa kecuali. Jepang, Amerika dan China tiga raksasa ekonomi dengan utang menggunung. Ahli ekonomi mestinya menjelaskan kenapa kita harus terus menerus utang. Apa nggak ada cara lainnya. Pertanyaan bodoh orang udik. Tapi jujur saya tak bisa jawab kenapa kita harus ngutang.

Anehnya ekonomi juga tak bisa jalan tanpa utang. Mungkin ratusan Bank bakal kolaps kalau nggak ada orang pinjem. Bahkan rumah dan mobil saya pun juga hasil dari jasa pinjaman. Konon agama kita juga mengatur bagaimana cara ngutang yang baik termasuk tips doa agar bisa cepat bayar utang.

Nabi saw bersabda salah satu ciri Mukmin yang baik adalah tepat waktu saat bayar utang dan memberi tenggang saat nagih utang. Sebaliknya nabi juga memberi sanksi kepada yang suka ngemplang tak mau bayar utang dengan menangguhkan semua pahala hingga utangnya lunas dibayar.

Jadi tak perlu baper dengan sebanyak apapun utang luar negeri ... saat jatuh tempo nanti.. kita urunan bayarnya...

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar