Sara di Tahun Politik
Cari Berita

Advertisement

Sara di Tahun Politik

Kamis, 22 Februari 2018

Foto : Ilustrasi

Indikatorbima.com - Pada akhirnya rakyat memang suka di sentuh pada bagian yang paling sensitif, dengannya ia bisa bangun dan melakukan apapun termasuk berteriak lantang tentang keadilan dan melawan siapapun yang dianggap berbeda. Itulah SARA. Sebuah istilah warisan Soeharto yang sangat pas untuk menunjukkan letak titik-titik sensitif, yang harus disentuh agar rakyat bergerak sesuai yang di ingini. 

Apapun bakal dilakukan jika titik sensitif ini disentuh. Dan rakyat sering irasional dan gelap mata. Bahkan pendeta, habib atau ulama sekalipun tak akan menggunakan akal sehatnya kalau titik sensitifnya direndahkan. Artinya siapapun bisa menjadi teroris atau radikal tanpa kecuali. Para pembenci Ahok tak kalah irasional dengan para pembenci Anis atau Rizieq pun sebaliknya dengan para pendukung dan pecintanya sama-sama irasional.

Bisa dibayangkan jika hasil pilihan dalam pemilu adalah hasil dari pertimbangan irasional, haslnya juga jelas tak akan baik. Tapi sayangnya kita suka mengusung isu SARA dalam politik sebab isu lain tak laku di jual pada masyarakat dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. Isu pendidikan, kerusakan lingkungan, pertanian pasti sepi peminat. Kalah ramai dibanding isu tentang Ahok dan kapitalisasi kaum etnis Tionghoa yang menguasai pesisir atau isu tentang Habib Rizieq dan kriminalisasi ulama pasti lebih menarik. 

Kapan rakyat berhenti dijadikan slogan, kapan pula rakyat paham bahwa dirinya hanya obyek untuk dijadikan alat legitimasi bagi kekuasaan yang direbut absurd. Kekuasaan dan rakyat, dua kata saling bersinergi, keduanya berkelindan dalam sebuah drama menarik berebut menjadi kuasa. Bergilir, berunding dan mendapatkan kekuasaan yang diingini untuk kemudian dipertahankan hingga akhir menjejang.

Semua berlomba mengatas namakan rakyat, bahkan seorang politisi penipu sekalipun fasih menggunakan kata 'rakyat' pada setiap pidatonya. Untuk sebuah pesan singkat: rakyat pilih lah aku. Karena demokrasi bukan lagi soal musyawarah untuk mufakat, tapi telah bergeser menjadi berapa biting suara di dapat.

Ruh demokrasi telah mati, setidaknya itulah yang saya pahami. Bahkan Socrates juga telah mengingatkan ribuan tahun silam sebab kekuasaan yang diraih dengan kertas suara di bilik hanya menipu. Tak ada harapan bagi aspirasi rakyat yang di dengar apalagi diperjuangkan. Sebab politisi hanya sibuk dengan dirinya dan ikhtiar agar pemilu tahun ke depan dipilih kembali.

Janji hidup sejahtera, adil, kesamaan dan kenyaman disimpan untuk disampaikan kembali pada pidato politik tahun depan. Tapi disitulah menariknya sebab rakyat juga menikmati drama lima tahunan itu diputar ulang. Dengan pidato dan janji politik yang nyaris sama.

Plato tidak selamanya benar ketika ia menempatkan rakyat sebagai pusat kekuasaan tapi ia juga tak sepenuhnya keliru sebab rakyat sesungguhnya tak punya kekuasaan apapun bahkan untuk menentukan harga 'terasi' sekalipun.

Pada akhirnya rakyat hanyalah sebuah etalase dan SARA menjadi bagian paling sensitif untuk menggerakkan dalam sebuah ritual tahunan memilih sepasang pemimpin. Wallahua a'lam.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar