Proxy War : Kami Umat Islam Kecewa
Cari Berita

Advertisement

Proxy War : Kami Umat Islam Kecewa

Senin, 19 Februari 2018

Ilustrasi (foto : Eskify.com)
Indikatorbima.com - Ada disparitas perlakuan yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Semoga bukan perbedaan perlakuan yang disengaja sebagai bentuk ketidak adilan publik. Dua atau lima kejadian yang sama yang melibatkan kekerasan dan radikalisme tetapi tidak semuanya diperlakukan adil. Ada rasa keadilan yang ditepis dengan argumentasi yang menurut saya justru tak patut.

Kami umat Islam mayoritas, tapi kerap diperlakukan tak adil dan itu menyakitkan. Kami tak ingin perlakuan lebih, apalagi diistimewakan, tapi rasa keadilan begitu mudah dipermainkan.

Ada perlakuan kurang patut, kenapa minoritas begitu diistimewakan dan dilindungi berlebihan. Semua kesalahan ditimpakan kepada mayoritas dan itu pembelajaran politik yang sangat tidak baik. Perlakuan macam itu sejatinya hanya menabung konflik, untuk dipanen sepuluh atau dua puluh tahun kemudian.

Keberadaan Densus 88 disikapi apriori mayoritas umat Islam karena dipandang sebagai alat intimidasi. Mengawasi dan membatasi gerak sebagian umat Islam. Dan ini kalau dibiarkan akan melahirkan berbagai konflik berkepanjangan yang tak berkesudahan.

Dengan tidak bermaksud syu' saya melihat ada upaya sistematis membuat umat Islam saling mengalahkan dan menawan. Perang Proxy sedang digelar untuk mematahkan kekuatan Islam. Kita dibuat saling syu' tentang berbagai kasus teror dan radikalisasi terhadap ulama (dengan tidak menyebut kriminalisasi ulama). Penguasa memasang jarak, sehingga timbul saling syu'. Tak pernah ada ruang dialog, setidaknya tempat saling menyapa dan sedikit senyum.

Intimidasi dan pembunuhan terhadap ustadz yang kemudian ditemukan bahwa pelakunya adalah gila, atau wajah Kyai Umar Bashir yang remuk ditinju masih segar diingatan, penyerangan pesantren di Paciran Lamongan dan beberapa kasus lainnya yang ditangani lambat tak juga memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Sejak kapan tiba-tiba orang gila suka menyerang pesantren dan menyatroni kyai, ulama atau ustadz.

Ketika kami umat Islam sedang kecewa berat dengan perlakuan yang kami anggap tidak adil, tiba-tiba dendus 88 dengan sigap berhasil menangkap pelaku perusakan gereja Lidwina di Sleman dan penganiaya Rm Preer. Sungguh perlakuan yang menurut saya tak adil dan rentan dengan adu domba.

Apapun yang menimpa kaum Nasrani dan minoritas selalu dianggap teror dari kelompok Islam yang dicap radikal. Dan sekelas Densus 88 harus turun tangan. Sementara saat kasus yang sama menimpa umat Islam cukup ditangani polisi sekelas Polsek dengan simpulan peristiwa yang lucu dan menggelikan.

Saya juga yakin semoga saudara kita Nasrani tak bersenang hati dengan perlakuan istimewa itu sebab akan melahirkan 'rasa tak enak hati' dari kami kaum muslimin yang merasa terzalimi oleh perlakuan penguasa. Saya kawatir justru akan berbalik menyemai bibit teror yang lebih besar lagi.

Kami umat Islam berusaha percaya. Tapi juga jangan selalu dipersalahkan jika para ulama kami berkata sedikit keras karena cemburu diperlakukan tidak adil. Wallahu a'alam.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar