Pendidikan Liberal : Murid Melawan
Cari Berita

Advertisement

Pendidikan Liberal : Murid Melawan

Minggu, 04 Februari 2018

Almarhum Ahmad Budi Cahyono, guru SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, yang meninggal dunia karena dianiaya siswanya sendiri. (Foto : Jawapos.com)

Indikatorbima.com - Tragedi Arok membunuh Gandring kembali terulang, Bagaimana jika yang dilakukan salah seorang murid sebuah sekolah yang menganiaya hingga tewas gurunya adalah sebentuk perlawanan dari sistem pendidikan kita. Sepertinya tak masuk diakal bila hanya sekedar dicoret pipinya lantas murid berani menganiaya dan membunuh. Akumulasi kejengkelan yang menjelma menjadi sebuah perlawanan kolektif. Jika ini benar maka guru perlu berbekal ilmu beladiri agar selamat dari ancaman fisik para muridnya. Semoga ini tidak benar. Tapi juga patut kita renungkan.

Baca juga : Pendidikan Jahat - Evil Education

Ada beberapa indikasi yang menyatakan bahwa pendidikan kita miskin humanitas, kering nilai dan mengabaikan tatakrama. Ukuran keberhasilan pendidikan kerap diukur dengan angka kuantitatif. Dan orang tua juga jarang diberi tahu anaknya telah diapakan selain selembar kertas yang lazim disebut raport tanpa penjelasan.

Nilai selalu dikaitkan dengan seberapa bisa murid menjawab setiap soal. Seberapa banyak materi di serap yang diukur dengan deret angka dan huruf. Maka metode pembelajaran menjadi sesuatu yang utama padahal substansinya hanya alat tapi telah berubah menjadi tujuan. Pun dengan media dan perangkat belajar lainnya. 

Bagaimanapun murid adalah sekumpulan manusia dengan banyak mau dan banyak keinginan. Dan masing-masing memiliki keunikan tak sama antara satu dengan lainnya. Tapi siapa mampu mengajar dengan banyak mau.

Murid juga tak mau tahu, mereka melawan dengan cara yang mereka bisa. Mbolos, masuk kamar mandi pada saat pelajaran, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, bullying, acuh, diam, nongkrong di kafe, kebut-kebutan hingga menganiaya gurunya. Mungkin ini sebuah gambaran perlawanan terhadap hegemoni sistem pendidikan kita yang mengarah pada liberalisasi dan kapitalisasi. Meski mungkin saja kita tergesa menyimpulkan yang demikian. Tapi jujur arah ke situ kuat sekali.

Dalam situasi seperti ini tak elok saling menyalahkan tapi juga tak patut selalu mencari kambing hitam untuk menutup salah. Keterbukaan dan kejujuran diperlukan untuk membantu mengurai benang kusut pendidikan. Ini soal kebangsaan kita semua tanpa kecuali. 

Terjawab sudah kecemasan Prof Muhadjir Effendy Mendiknas yang menggagas penguatan pendidikan karakter. Tri Pusat Pendidikan hendak diperkuat agar kasus Arok membunuh Gandring tidak kembali terulang. Ini hanya gunung es, krisis pendidikan kita yang telah berlangsung sekian lama.

Tapi sayangnya kita gagal menangkap pesan substantif Prof Muhadjir Effendy tentang penguatan pendidikan karakter. Agar guru tak hanya dipandang sebagai guru ketika mengajar di depan kelas saja. Ironisnya kita lebih suka memandangnya dari berapa jumlah jam kerja seorang guru yang dikaitkan dengan upah bulanan. Habislah sudah ....

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar