Nasib Bangsa di Tangan Perempuan
Cari Berita

Advertisement

Nasib Bangsa di Tangan Perempuan

Minggu, 04 Februari 2018

Ilustrasi
Indikatorbima.com - Sosok makhluk yang indah yang diciptakan untuk melengkapi keindahan dunia adalah perempuan, tanpa perempuan bisa dibayangkan bagaimana tawarnya kehidupan. Padanya dilekatkan kelembutan, kehalusan, kasih sayang dan cinta. Dikakinya bertahta syurga, di tangannya diserahkan nasib bangsa, karena darinya akan lahir dan tumbuh generasi penerus yang akan menentukkan semua kebijakan di dunia. Lelaki boleh saja mengklaim bahwa mereka adalah penguasa, tapi sesungguhnya perempuanlah sang penguasa di balik layar.

Tidak sedikit di era sekarang perempuan terpengaruh dengan perkembangan zaman yang serba modern, sehingga terjadi perubahan dalam segala aspek kehidupan yang sangat kompleks dari cara berpikir, cara berpenampilan, berprilaku, cara memilih makanan bahkan cara berbicara semuanya bisa berubah, bukan hanya pada perempuan.

Perempuan diusia muda hampir tidak mau lagi menerima sebuah koreksi positif ataupun sesuatu yang sifatnya mengatur atau mendisiplin diri. Karena dianggap membatasi semua keinginan dan kehendak bebas yang ada dalam diri setiap perempuan. Kemajuan teknologi lebih mendominasi untuk mengatur ataupun mengarahkan dalam bersikap.

Dalam konteks sejarah Indonesia telah banyak dikenal tokoh wanita yang di segani, inspiratif, progresif dan kreatif dalam menggerakkan masyarakat, tetapi mereka tetap berpegang pada prinsip agama dan nilai kebangsaan. Pasukan Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda, tokoh seperti Nyi Ageng Serang menjadi prajurit inti. Laksamana Malahayati di Aceh sang penakluk yang sangat ditakuti Portugis maupun Belanda. 

Dalam dunia Islam, memang menduduki perempuan dalam posisi yang terhormat dan memiliki peran yang sangat penting yaitu sebagai peyangga Negara. Terdapat surat yang sangat panjang dalam Al-Qur'an yaitu surat An-Nisa (wanita), yang menguraikan tentang kehormatan, tugas dan tanggung jawab perempuan. Di zaman Nabi sendiri banyak tokoh wanita yang berpengaruh. Siti Khodijah merupakan seorang pengusaha kaya dan sekaligus pelindung saat awal kenabian Nabi Muhammad SAW. Siti Aisyah adalah sahabat Nabi dan istri Nabi yang banyak meriwayatkan hadits.

Pertumbuhan mental, intelegensial dan kekuatan moral anak terbentuk dalam sebuah keluarga yang dengan sendirinya menjadi tempat belajar anak adalah seorang ibu. Semuanya akan tergantung pada kepribadian seorang ibu sebagai pengasuhnya. Kasih sayang dan perhatian tanpa batas ibu memberikan keluasan cara pandang anak, rasa aman dan titik pijak untuk maju menjangkau masa depan yang jauh kedepan yang ditanamkan melalui nasehat, keteladanan dan berbagai dongeng yang diceritakan.

Peran perempuan/kaum ibu pada umumnya sangat diperlukan untuk membentengi bangsa yang dimulai dari membentengi keluarga dari pengaruh negatif. Berbagai tantangan moral, ekonomi, politik dan kebuadayaan dengan perkembangan zaman perlu dihadapi dengan serius dan sangat mutlak diperlukan perempuan.

Tugas besar itu hanya bisa dilaksanakan ketika perempuan berpegang pada prinsip Islam dan falsafah pancasila dalam perkembangan apapun yang direncanakan dan apapun pengaruh dari luar. 

Perempuan menjadi besar dan kuat terhadap gerusan tantangan zaman karna perempuan mampu mengantisipasi dan menyiasati setiap perubahan zaman. 

Penulis : Subhan Forest