Menyelami Arti Penting Pendidikan
Cari Berita

Advertisement

Menyelami Arti Penting Pendidikan

Minggu, 11 Februari 2018

Foto : Penulis
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia,” Nelson Mandela. 

Indikatorbima.com - Di zaman yunani kuno orang yang ingin belajar atau mendapatkan ilmu pengetahuan biasanya mengunjungi tempat atau orang pandai untuk mempelajari banyak hal sesuai dengan kebutuhannya, aktifitas ini banyak di lakukan oleh orang tua atau lelaki dewasa dalam masyarakat yunani, perilaku ini kemudian di berlakukan bagi anak-anak mereka dikeluarganya juga diharapkan dapat menggantikan sang ayah. Karena diperhadapkan oleh berbagai persoalan untuk menghidupi keluarganya para orang tua memberikan kepercayaannya kepada orang yang di anggap pandai atau orang tempat para orang tua dulunya belajar untuk mengajarkan hal yang patut untuk mereka pelajari agar kelak mereka bisa menggantikan peran dari orang dewasa atau orang tua.

Seiring dengan berjalannya waktu anak-anak putra dan putri dari orang tua di yunani memercayakan seorang guru (orang yang di anggap pandai) untuk mendidik anaknya untuk bisa menjadi calon pemimpin rumah tangga ataupun masyarakat. Karena bertambahnya anak yang ingin di asuh maka diperlukan pula banyak pengasuh yang bersedia untuk mendidik anak-anak mereka dalam`suatu tempat yang sudah disediakan untuk diajar dengan peraturan yang lebih tertib dan juga dengan imbalan jasa untuk para pengasuh.

Kebiasaanya orang yunani ini menjadi suatu tradisi yang mendunia dengan banyak ragam pelajaran sesuai dengan tempat mereka belajar kebiasaan inilah yang memacu orang-orang untuk belajar dan membuat suatu lembaga pendidikan untuk menampung banyaknya orang-orang yang ingin mengenyam pendidikan. 

Academia adalah lembaga pendidikan yang kemudian di bangun di masa itu, dimana beberapa orang yang belajar dari seorang pandai atau pengasuh tergabung di dalamnya, selain yunani bangsa cina juga sudah memulainya pada 2000 tahun sebelum yesus lahir (baca; sekolah itu candu, hal 8) konon itu adalah lembaga tertua di dunia yang banyak di ketahui sampai saat ini. Juga ada sekolah veda yang di bangun oleh kaum Brahmin India setengah abad sesudahnya. Hampir setiap bangsa di dunia ini memiliki pola pengasuhan yang berbeda sesuai dengan aturan lembaganya tersendiri dalam sebutan dan ragam yang berbeda.

Di indonesia juga ada sekolah rakyat yang pernah dibangun oleh Tan Malaka di semarang, dia beranggapan bahwa “mendidik anak bangsa akan sama hebatnya dengan berjuang melawan penjajah” untuk itu Tan Malaka menginginkan banyaknya sekolah yang dibangun oleh kaum pribumi dengan sistem yang sesuai dengan kaum pribumi. Selain Tan Malaka ada Ki Hadjar Dewantara yang di kenal sebagai bapak pendidikan dimana hari kelahirannya pada 2 mei di peringati sebagai hari pendidikan nasional ia pendiri taman siswa suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi rakyat pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan layaknya priyayi dan orang-orang belanda pada saat itu. “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” itulah semboyan dari beliau yang sampai sekarang tidak asing lagi untuk didengar oleh banyak kalangan yang artinya “didepan memberi contoh, ditengah memberi semangat, dibelakang memberi kekuatan”.

Ada juga tokoh perempuan yang juga berjuang agar perempuan indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak, memperjuangkan hak-hak wanita agar dapat sejajar dengan kaum pria, beliau adl RA. Kartini ada beberapa sekolah yang dirintis dan didirikan oleh RA Kartini yaitu sekolah gadis di jepara dan sekolah gadis di rembang. RA. Kartini adalah sosok perempuan yang pernah menulis surat kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 ia menulis “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi pendidik manusia yang pertama.

Tujuan umum dari pendidikan adalah memanusiakan manusia. Hal ini tentu saja tidak menjadi ungkapan biasa tetapi perlu pengamatan dan kerja yang terencana untuk sampai pada tujuan itu. Pemangku kebijakan harus memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya kemudian bertindak sesuai dengan tugasnya. Pendidikan harus diperoleh untuk generasi secara menyeluruh sebagaimana bunyi tujuan pendidikan berdasarkan UUD 1945 pada pembukaan alinea ke-4 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang dalam prosesnya harus sesuai dgn pasal 31 ayat 1 UUD 1945 bahwa “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan di lanjut di ayat 2 bahwa “negara wajib membiayainya”.

Tugas negara jelas menjadi pembantu rakyat untuk menyediakan pendidikan berdasarkan amanat UU 1945 di atas dan harus sesuai dengan kondisi rakyat indonesia. UU yang sifatnya merugikan orang/lembaga tertentu seharusnya tidak boleh di berlakukan karena akan mengakibatkan kerugian bagi masyarakat. 

Di era reformasi pasca tumbangnya rezim orde baru pendidikan indonesia belum mendapatkan hasil yang memuaskan dalam setiap survei di lapangan. Beberapa tahun kemarin terkhusus berdasarkan survei pisa (programme for international study assessment) bahwa peringkat pendidikan indonesia berada pada rangking 64 dari 65 negara, ini merupakan suatu hal yang perlu kita amati bersama sebagai warga negara indonesia tentu kita tidak boleh saling tunjuk sana tunjuk sini, salah pusat atau daerah tetapi sebagai warga negara yang bermukim di negara ini perlu bekerja sama dalam hal pendidikan seperti apa regulasi dari sistem pendidikan yang diterapkan di indonesia selama ini dan bagaimana penerapannya di lapangan. 

Tolak ukur kemajuan suatu negara ada pada pendidikannya apabila pendidikannya rusak maka rusak juga negaranya dalam lain hal bahwa kemajuan suatu bangsa ada pada perempuannya jika perempuannya baik maka baik juga bangsanya. Namun yang perlu menjadi tindakan dan bahan perbincangan kita kedepannyanya adalah “apa yang sudah kita persiapkan untuk generasi selanjutnya” suatu saat mereka akan bertanya kondisi apa yang terjadi hari ini. 

Catatan : Tulisan diatas adalah tema untuk pendiskusian yang diadakan oleh teman-teman FMN Makassar. Semoga tulisan ini berguna bagi pembaca dan penulis juga tidak menutup ruang kritis bagi pembaca untuk memperbaiki tulisan ini bila mana ada yang dianggap keliru.

Penulis : Nur Saddam (MENDIKBUD BEM UNM Periode 2017-2018).