Kuliah 3,5 Tahun di UI, Perempuan ini Jadi Calon Dokter Pertama di Lambitu
Cari Berita

Advertisement

Kuliah 3,5 Tahun di UI, Perempuan ini Jadi Calon Dokter Pertama di Lambitu

Sabtu, 10 Februari 2018

Foto : Riatul Ma'sita bersama kedua orang tua pada saat prosesi wisudanya.
Indikatorbima.com - Kisah mahasiswi Universitas Indonesia (UI) 2014 asal Desa Sambori Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima NTB, Riatul Ma'sita menjadi sumber inspirasi bagi semua orang, khusunya bagi masyarakat dan generasi di Kecamatan Lambitu. Calon dokter pertama di Kecamatan Lambitu ini membuktikan, bahwa dirinya bisa menjadi kebanggaan bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat Bima khususnya masyarakat Desa Sambori. 

Baca juga : Kisah Khairul Farid : Perawat Muda Sekaligus Penulis Novel Cerita Depta Me(maksa)Lepas

Dengan Motivasi dan niat yang ditanam terus di dalam dirinya membuat Riatul Ma'sita mampu menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan waktu 3.5 Tahun pada hari Rabu 03 Februari 2018. Gadis berhijab kelahiran Bima, 16 November 1996 anak ke dua dari pasangan Abidin dan Somantiar ini juga tercatat sebagai sarjana Kedokteran dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,26. Ma'sita mendapatkan beasiswa sampai dengan mendapatkan gelar Dokter dari Yayasan dr. Kahar Tjandra.

Keberhasilan Ma'sita tentu melalui proses yang tidak mudah, orang tua dan lingkungan yang baik sangat berperan dalam mewujudkan cita-cita Ma'sita. 

Ma'sita menilai ayahnya sebagai orang tua yang sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan anak. Ayahnya selalu mengajarkan tentang kegigihan, sifat bersunguh-sungguh dan kerja keras. Oleh sebab itu, Ma'sita lebih bersemangat untuk meraih cita-citanya dan membanggakan kedua orang tuanya, serta orang-orang di lingkungan sekitarnya.

"Orang tua saya sendiri yang mengajari saya membaca, menulis, berhitung, juga membaca Al-Quran," tutur Ma'sita.
Foto : Riatul Masita
Ma'sita mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 6 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orang tua. Namun, kecerdasan Ma'sita memang sudah tampak setahun sebelumnya. Ma'sita selalu menghabiskan waktunya dengan banyak belajar dan ia sangat menikmatinya. Ma'sita kemudian menyelesaikan SD dengan prestasi sangat memuaskan. Selain itu, Ma'sita juga pernah mewakili sekolah dalam Olimpiade Matematika tingkat Provinsi.

Setelah itu, ia mengikuti program percepatan (akselerasi) pada bangku SMA melalui beberapa tes IQ akademik. Pada bangku SMP, Ma'sita mendapatkan prestasi Olimpiade Biologi tingkat provinsi, Juara 1 story telling, Juara 1 Speech Contest. dan pada jenjang SMA Ma'sita mengikuti Olimpiade Biologi tingkat Provinsi.

Baca juga : Hebat! Anak Nelayan di Wera ini Siap Jadi Doktor Termuda

Bagi Ma'sita belajar sungguh-sungguh dan bermanfaat kepada orang lain menjadi keinginannya sejak kecil. Hasilnya, Ia bisa menamatkan SMA hanya dalam waktu 2 tahun lamanya. Cita-citanya sejak kecil ingin menjadi dokter, membuat dia begitu mantap untuk mendaftarkan diri ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, (UI) melalui jalur (SNMPTN).

"Bermimpilah setinggi-tingginya dan tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, hanya kita yang mengerdil. Tapi jangan jadikan itu cuma mimpi aja, jadikan itu kenyataan. Usaha keras dan belajar bersungguh sungguh.” tutur Ma'sita kepada Indikator Bima.

Ma'sita mendapatkan beasiswa sampai mendapatkan gelar Dokter dari Masuk dunia kampus karna kecerdasan dan kepintaranya. Ma'sita menghabiskan waktu dengan banyak membaca buku serta berdiskusi dengan teman-teman kuliahnya. 

Bagi Ma'sita, gerbang menuju ilmu pengetahun tiada lain adalah dengan rajin membaca. Rasa malas merupakan kendala yang terbesar dalam dirinya, semangat dengan rasa percaya diri dan melawan rasa malas dalam dirinya. Ia pun mampu melewati masa-masa sulit selama perkuliahanya dengan motivasi yang tinggi serta tekad yang sangat kuat.

"Seperti kata imam Syafi'i kalau kamu tak tahan lelahnya belajar maka kamu harus menanggung perihnya kebodohan" ungkapnya kepada Indikator Bima.

Selain aktif belajar di kampus ia juga rutin mengikuti organisasi Intra Kampus, seperti Forum Lembaga Dakwah Kampus. Selain itu, banyak membaca juga merupakan salah satu kegiatan wajibnya.

"Banyak sekali waktu untuk membaca. Terkadang, saya menargetkan satu buku untuk tiap akhir pekan, jika tidak ada tugas kuliah yang harus segera diselesaikan," kata Ma'sita.

Mimpi dapat mengubah dunia, bermafaat bagi diri sendiri dan orang lain, yaitu dengan berusaha, berdo’a dan dengan restu kedua orang tualah yang menjadi kunci keberhasilan dan keberkahan yang akan kita dapat karena ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua.

"Sudah banyak fasilitas yang didapatkan, jangan dipakai buat main sosmed saja. Jangan pacaran udah kelar deh hidup kalau banyak neko-nekonya," tutur gadis 21 tahun ini.

Selain bercita-cita menjadi dokter, ia juga ingin menjadi Enterpenur. Agar bisa terus belajar dan berbagai kepada masyarakat sekitarnya.

"Alasannya, agar bisa terus belajar dan berbagi kepada Masyarakat. Maka dari itu, kita harus pandai memilih lingkungan dan pergaulan yang baik untuk diri kita, apalagi ketika sedang di tanah rantauan," tutupnya.  
Setelah lulus dari perkuliahan tingkat Strata 1 atau sarjana dan mendapat gelar S.Ked (Sarjana Kedokteran). Tahap selanjutnya adalah meraih titel dokter (dr.) yang mana harus melalui program profesi atau istilahnya menjadi seorang koas. Tahapan koas ini sedang dilaksanakan oleh Ma'sita di RSMC Jakarta Pusat dengan kurun waktu minimal 1,5 tahun. 

Reporter : Taufiqurrahman
Editor      : Misbah