Ketika Pastur Dan Pendeta Enggan Hadir
Cari Berita

Advertisement

Ketika Pastur Dan Pendeta Enggan Hadir

Kamis, 22 Februari 2018

Ilustrasi (Foto : Kompansia.com)
Indikatorbima.com - Agamawan adalah gembala bagi umatnya. Dan Buya Syafi'i Maarif menjadi gembala pada sebagian yang sedikit keluar track. Beliau dihujat kanan-kiri untuk sesuatu yang belum mereka pahami, direndahkan bahkan tak sedikit yang memberi cap kafer atau sebutan lainnya yang menyakitkan. Beliau tetap bersabar dan istiqamah pada jalan kebenaran yang diyakini.

Beberapa saya bersetuju dengan pikiran dan sikap beliau dan beberapa yang lain saya menolak dan melawan. Tapi tidak mengurangi rasa ta'dzimku. Semua dengan niat sama, menjaga izzul Islam, ditengah arus deras perubahan dan semua boleh berijtihad sesuai kemampuan. Saya, kita atau siapapun berhak sama. Sesuai kemampuan dan maqam yang dimiliki. Jadi tak patut menanggap ijtihadnya paling benar sambil merendahkan yang berbeda. 

Siapa tak galau dengan kondisi keberagama-an sekarang. Politisasi dan kapitalisasi agama bisa dilakukan siapapun dengan tujuan apapun. Bahkan radikalisasi juga kian tidak terbendung. Agama begitu rapuh dan mudah dijadikan alat untuk kepentingan politik praktis. Perusakan dan intimidasi terhadap agamawan kian marak, tapi siapa peduli, bahkan sesama agamawan pun tak dijumpai sikap peduli meski sekedar ucapan tanda empati.

Orang gampang tersinggung dan mudah marah untuk melakukan tindakan anarkhis atas nama agama yang diyakini. Semua penganut agama bisa melakukan apapun, baik terang-terangan atau sembunyi-sembunyi semua berakibat sama. Radikalisasi terjadi di semua agama dan kepercayaan tanpa kecuali dengan skala berbeda. Kita hanya tinggal menunggu waktu kapan pertengkaran puncak antar agama dan manhaj meletus.

Dalam kondisi demikian agamawan ditagih hadir. Bukan terus bersembunyi dibalik jubah kebesaran. Bersembunyi dibalik tembok tinggi atau khusyu di mihrab tak hirau pada kondisi umatnya yang digembalakan. Para agamawan mestinya turun ke bumi, menyapa siapapun yang melawan Tuhan, tak perduli dari agama dan kepercayaan apapun. Sebab Radikalisasi sejatinya melawan ajaran semua agama. 

Di tengah silang sengkarut, saling menyapa dan ber-empati sangat diperlukan. Bukan sekedar hadir untuk menjaga eksklusifitas. Setidaknya mengurangi stigma bahwa agama adalah sumber sengketa, konflik dan kerusuhan. Tapi hadir mendamaikan dan memberi rasa aman bagi siapapun. 

Peran ini begitu urgen, dengan resiko yang teramat berat. Pertaruhan marwah dan kepercayaan. Tapi percayalah, ini tugas teramat mulia. Beberapa ulama, pendeta, pastur, rahib mengambil jalan ini, tapi lebih banyak yang memilih jalan aman. Menjaga eksklusifitas. Asyik dengan dirinya sebab takut jubah yang dikenakan kotor bernoda. Bahkan tak sedikit yang hanya duduk berpangku tangan sambil mengeluhkan semua yang ada. Tapi semua punya alasan untuk semua sikap yang diambil. 

Terlalu banyak sudah untuk disebut berbagai peristiwa menyangkut SARA tapi Pastur dan Pendeta enggan hadir. Berkhotbah di atas mimbar kemudian melihat dari bilik mihrab ternyata lebih asyik.... kenapa harus repot belepotan dengan segala soal tak ada ujung. Ini juga pilihan menarik.

Penulis : Nurbani Yusuf@Komunitas Padhang Makhsyar