Kekacauan Bahasa, Seakan Menjadi Bahasa Bima Modern
Cari Berita

Advertisement

Kekacauan Bahasa, Seakan Menjadi Bahasa Bima Modern

Rabu, 28 Februari 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Suatu hari, Penguasa Eropa dan petinggi Gereja Katolik bersepakat untuk menghdirkan Martin Luther di sebuah aula besar. Tujuannya adalah agar Martun Luther bersaksi di hadapan khalayak bahwa ajaran yang dia bawa adalah ajaran sesat dan melenceng dari Dogma Gereja Katolik.

Jika dia tidak bertaubat, maka dia akan dimusnahkan bersama ajaran yang dia bawa.

Baca Juga : 11 Bahasa Telah Punah; Tidak Ada Kata Aman Untuk Bahasa Bima

Pada hari dan saat di mana Martin Luther akan memberikan kesaksiannya. Martin Luther tidak sedikit pun mengakui bahwa ajaran yang dia bawa adalah ajaran sesat, justru dia semakin teguh pada pendiriannya dan akan tetap menghidupkan ajarannya (Kristen Protestan).

"Hier stehe ich und ich kann nicht anders" (Di sini aku berdiri dan aku tidak bisa lain). Martin Luther menutup kesaksiannya dengan penuh semangat walaupun ancaman kematian, berada tepat di hadapannya.

Etika Kant adalah pilihan kebahagian berdasarkan nurani walaupun bertentangan dengan lahiriah, sedangkan etika Aristoteles adalah pemenuhan kebahagiaan lahiriah walaupun bertentangan dengan nurani. Martin Luther, memilih menunaikan tuntutan nurani walaupun fisik dan nyawanya (lahiriah) terancam.

Jika kedua etika tersebut dikaitkan dengan penggunaan bahasa, maka memilih bahasa adalah kebesan, akan tetapi melestarikan bahasa leluhur sebagai budaya bagi kelompok masyarakat yang memiliki bahasa leluhur adalah keharusan yang tidak bertentangan dengan nurani.

Ketika berhadapan dengan asumsi bahwa berbahasa daerah itu kolot, kuno, stagnan, dan tidak menjawab tuntutan zaman, maka pilihan melestarikan bahasa leluhur seakan menjadi dilema, melanjutkan tradisi bahasa leluhur atau mengikuti perkembangan dengan "menghianati" nurani demi sebuah gengsi.

Harus diakui, bahasa daerah terkadang memang tidak memenuhi tuntutan zaman karena pemakaiannya yang terbatas, maka dianjurkan menguasai banyak bahasa. Tetapi, keharusan menguasai banyak bahasa bukan berarti menggilas bahasa daerah dan menghancurkan tatanan gramatika bahasa daerah.

Kasus berbahasa yang lazim ditemui di Bima adalah kerancuan tatanan bahasa yang secara sadar dibiarkan dan berkembang. Pola gramatika bahasa lisan yang sudah bercampur dengan bahasa lain seakan menjadi Bahasa Bima modern. 

Nurani kedaerahan tentu akan menolak Bahasa Bima yang tatanan gramatikanya telah kacau, tetapi gengsi komunikasi sosial mengharuskan pemakainya untuk terus digunakan dalam tindak tutur.

Bahasa daerah, dalam hal ini Bahasa Bima adalah hak generasi penerus untuk dikuasai, maka wariskan Bahasa Bima sebagaimana adanya (bukan bahasa interferensi [Bahasa campuran] yang sistem gramatikanya telah dikacaukan) dan biarkan bangsa lain mengenal Bima karena bahasa, tradisi, serta budayanya.

Penulis : Nasrullah Syaf