Jaga Diri dan Keluargamu
Cari Berita

Advertisement

Jaga Diri dan Keluargamu

Rabu, 14 Februari 2018

Iluatrasi (foto : arifnur.blogspot.co.id)

Indikatorbima.com - Bukan tidak bersetuju membantu tetangga sesama muslim di Rohingyae, bermilyar-milyar kita perbantukan sementara di sekitar kita masih ada sekolah-sekolah MUHAMADIYAH yang hampir ambruk atau dililit uang sewa karena tak kunjung bisa bayar utang. 

Bukan tak boleh membantu orang-orang lain, jamaah dan komunitas lain yang miskin sementara banyak jamaah Muhammadiyah sendiri yang masih membutuhkan, bergelimpangan tak mampu beli resep obat di apotek, sekilo beras dan tabung gas. Tak sedikit warga MUHAMADIYAH harus memutus dan memenggal cita-cita menjadi sarjana karena tak mampu bayar DPP atau uang semester di perguruan yang tiap hari ia banggakan.

Dalam Al Baqarah 215 Allah taala berfirman : 'Mereka bertanya kepadamu Muhammad tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah :"Harta apa saja yang kamu infakkan hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, sanak kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan maka sesungguhnya Allah maha mengetahui". 

Ayat itu untuk membedakan dengan 8 golongan (asnaf) penerima zakat dalam surah at Taubah 60. Sekaligus memilah antara sedekah wajib (zakat) dan sedekah sunah (infak) yang sering rancu dan tidak proporsional dalam aplikasinya.

Mungkin acuan kita adalah 'syiar' atau membantu siapapun tak harus membedakan golongan atau aliran tapi jangan lupa Rasulullah saw bahkan membedakan pahala infak yang kita lakukan. Infak kepada kedua orang tua diberi pahala dua: pahala sedekah dan pahala bakti. Infak kepada kerabat juga diberi pahala dobel: pahala infak dan pahala silaturrahim. Sedangkan infak biasa diberi satu pahala saja.

Perlunya merekonstruksi pemahaman :"Jagalah diri dan keluarga-mu" dalam konteks komunitas dan oraganisasi. Banyak jamaah yang miskin, para janda pejuang MUHAMADIYAH yang purna dan tak mendapat perhatian. Para mantan aktifis yang dilupakan. Para tokoh yang mulai surut karena usia. Para donatur yang kini bangkrut tak mampu bayar putra dan putrinya ke jenjang perguruan tinggi. Bagi saya itu jauh lebih utama kita bantu meski hanya sekedar dengan ucapan salam dan kata-kata baik.

Saya merasakan ketakutan dan kerendah-dirian para jamaah yang kecil tak berkecukupan itu masuk ke gedung-gedung milik Persyarikatan yang terus tinggi menjulang tapi tak ramah dengan jamaahnya sendiri. Betapa susahnya mendapatkan sekedar senyum apalagi sedikit toleransi.

Penulis : @nurbaniyusuf (Komunitas Padhang Makhsyar-Ketua PDM Kota Batu).