Hebat! Anak Nelayan di Wera ini Siap Jadi Doktor Termuda
Cari Berita

Advertisement

Hebat! Anak Nelayan di Wera ini Siap Jadi Doktor Termuda

Minggu, 11 Februari 2018

Foto Andri Ardiansyah bersama kedua orang tua lnya  wisuda pascasarjana
Indikatorbima.com - Anak pertama dari 5 bersaudara dari pasangan bapak M. Nor dan ibu Sabariah warga Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Andri Ardiansyah lahir di Desa Sangiang, pada tanggal 01 Februari 1992. Di umurnya yang masih muda, laki-laki yang akrab disapa Andi ini, berhasil menyelesaikan strata pendidikan S1 dan S2, bahkan sekarang sedang melanjutkan strata S3 di Kota Jakarta. Andri Ardiansyah mungkin satu-satunya pemuda Desa Sangiang yang berhasil melanjutkan strata pendidikan sampai dengan S3. Tentunya ia siap jadi Doktor termuda.

Baca Juga : Kuliah 3,5 Tahun di UI, Perempuan ini Jadi Calon Dokter Pertama di Lambitu

Kisah anak seorang nelayan dari pesisir pantai Desa Sangiang yang juga berprofesi sebagai petani wijen di pulau Sangiang ini menjadi sumber inspirasi bagi kita semua, masyarakat Bima khususnya masyarakat dan generasi Desa Sangiang. Pasalnya Andi berasal dari keluarga yang tidak mampu, tapi mampu menyelesaikan dan melanjutkan pendidikannya sampai pada strata S3.

Bagi alumni mahasiswa jurusan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Makassar (UMM) ini, pendidikan adalah jalan terbaik untuk bangkit dari kebodohan dan keterpurukan hidup. Dengan cara belajar dan terus belajar menuntut ilmu setinggi-tingginya.

"Satu hal yang harus kita ingat mas, bahwa kita terus diliputi oleh kebodohan, dan untuk menghilangkan rasa kebodohan adalah dengan terus belajar setinggi-tingginya," kata Andi kepada Indikator Bima.

Tentu setiap perjuangan memiliki tantangan dan rintangan yang menghadang, namun bagi alumni mahasiswa pascasarjana jurusan Pemikir Islam (Filsafat Islam) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, rintangan dan tantangan bukanlah apa-apa bagi orang-orang besar yang berani mengambil resiko. Dibutuhkan orang-orang yang berjiwa besar agar mampu mengubah halangan dan rintangan menjadi motivasi. 

"Kalau di bilang halangan dan rintangan sih tetap ada, tapi bagaimana kita memoles rintangan dan halangan itu menjadi motivasi kita, bukan menjadi sebuah masalah untuk melanjutkan pendidikan. Intinya, harus berani ambil resiko. Tidak ada orang besar yngg berjiwa kerdil, tapi orang besar dia memiliki jiwa besar," tutur mantan ketua umum HMI Cabang Makassar Komisariat Mapaodang ini.

Pesan orang tua yang selalu terniang di benak Andi di mana pun ia berada. Orang tua Andi selalu berpesan kedapanya agar bergaul dengan manusia yang baik, dan menjadikan semua manusia sebagai teman. Andi dilarang pulang tanpa ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk masyarakat, khususnya untuk masyarakat di Desa Sangiang.

"Yang selalu saya ingat pesan beliau. Bahwa bergaul dengan manusia baik adalah sebaik-baiknya pergaulan dan jangan cari musuh di perantauan. Jadikan semua manusia menjadi temanmu. Dan jangan pulang kalau nggak pulang dengan ilmu, karena orang kampung menunggu ilmu anda untuk mereka," terang sekertaris umum Pusat Study Mahasiswa Mbojo (PUSMAJA) ini.

"Kulepas engkau bagaikan layang-layang yang lepas dengan talinya, engkau bisa menari dengan sesuka hatimu di atas awan sana, tapi jangan sekali-kali ketika engkau jatuh ke bumi engkaupun menari-menari di atas penderitaannya orang lain," kata Andi mengutik pesan bapaknya.

Sekalipun tinggi pendidikannya, Andi sepenuhnya sadar bahwa dirinnya milik Tuhan. Berbakti kepada Allah Swt dan kepada kedua orang tua adalah salah satu cara membahagiakan kedua orang tuanya. Lantunan do'a tetap tercurahkan kepada mereka. Andi ingin membalas jasa kedua orang tuanya dengan cara yang cukup sederhana, yaitu ta'at kepada Allah Swt. 

"Kita dilahirkan dari rahim mereka, dengan susah payah mereka melahirkan kita, menyusui kita selama 2 tahun lamanya. Dan tidak ada yang pantas yang bisa diberikan kecuali kita selalu berdo.a untuk mereka, semoga dengan syurganya Allah Swt bisa menjadi kebahagiaan mereka kelak. Karena dengan uang sekalipun belum tentu hati mereka bahagia. Tapi dengan ta'atnya kita kepada Allah Swt dan berbakti kepada mereka berdua, maka luluh lah segalanya," ungkap laki-laki 27 tahun ini.

Tidak hanya untuk kedua orang tuannya, sesuai dengan pesan orang tuannya (bapak), Andi juga sangat sadar bahwa dirinya ingin bermanfaat untuk orang banyak, tidaklah berguna dirinya jika tidak kembali pada masyarakat untuk mengabdi. Ilmu pengetahuan yang ia dapatkan haruslah diamalkan kepada masyarakat Bima, khususnya kepada keluarga dan masyarakat Desa Sangiang.

"Untuk keluarga dan masyarakat bahwa, kita ini milik mereka dan suatu sa'at akan kembali kepada mereka (mengabdi) kita ini titipan mereka di kampus-kampus sehingga nantinya dengan harapan kita kembali mengamalkan ilmu kita kepada mereka," jelas Mantan Ketua Bidang Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Tarabiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Andi Ardiansyah merupakam alumni siswa SDN 1 SANGIANG, SMP 12 BIMA, dan alumni siswa MA IBNU MAS'UD LOMBOK TIMUR. Saat ini Andi Ardiansyah sedang mengenyam dan berjuang menyelesaikan study S3 jurusan Pemikir Islam di UIN Syarif Hidayatullah Kota Jakarta. Semoga diberikan kemudahan kepadanya dalam berjuang. Aamiin.

Reporter : Furkan As
Editor      : Misbah