Benarkah Sebab Meninggalnya Ince Moa Karena Depresi, Komplikasi dan Jantungan?
Cari Berita

Advertisement

Benarkah Sebab Meninggalnya Ince Moa Karena Depresi, Komplikasi dan Jantungan?

Jumat, 02 Februari 2018

Mayat Sukirman alias Ince Moa ditemukan tergeletak di sebuah gang buntu (foto : metromini.co.id).
Indikatorbima.com - Peristiwa ditemukannya mayat Sukirman alias Ince Moa warga Rt11/Rw04 Kelurahan Rabangodu Selatan, Kecamatan Raba, Kota Bima. Oleh warga setempat pada hari Selasa (30/01/18) lalu, masih menimbulkan tanda tanya besar. Pasalnya pihak Polres Bima Kota melalui IPDA Wongso Mengatakan, bahwa berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan oleh tim Forensik dari Polda NTB tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Lalu dikatakan korban mengalami depresi berat dan mengalami komplikasi sehingga jantungan. Tapi pertanyaan terus bermunculan, benarkah Ince Moa meninggal karena jantung?, Jum'at (02/01/18).

Dilansir dari media metromini.co.id KBO Sat Reskrim Polres Bima Kota, IPDA Wongso mengungkapkan, bahwa pihaknya telah meminta keterangan terhadap 4 orang warga. Mereka berinisial AR dan NF asal Kelurahan Panggi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Dan juga AF dan WF asal Kelurahan Manggemaci, Kecamatan Mpunda, Kota Bima.

"Dalam kasus ini sudah 4 orang yang dimintai keterangan. Karena sebelum korban meninggal. Mereka mendatangi rumah korban sebanyak 2 kali," ucap IPDA Wongso.

Lebih lanjut, pada media itu (metromini.co.id) juga menyampaikan hasil otopsi yang katanya disaksikan langsung oleh pihak keluarga mengatakan, bahwa pada tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan.

"Saat proses otopsi disaksikan Iangsung oleh pihak keluarga korban. Hasilnya menyebutkan kematian korban tidak ditemukan adanya kekerasan," ungkap dia. 

"Korban mengalami depresi berat dan mengalami komplikasi sehingga jantungan," tambah Wongso.

Sementara itu, dilansir dari media CNNIndonesia.com, menurut keterangan Dokter Spesialis Penyakit Jantung Beni Hartono mengatakan, bahwa kematian secara mendadak tidak melulu karena serangan jantung.

"Kematian secara mendadak yang terjadi di usia muda misalnya, biasanya belum tentu karena serangan jantung. Bisa karena kelainan irama atau ritme jantung, kelainan genetik, otot jantung yang menebal, ini bisa jadi penyebab kematian mendadak dan tidak ada keluhannya," ujar Beni kepada media CNNIndonesia.com.

Lebih lanjut dikatakan, bahwa adapun penyakit jantung itu sendiri tidak serta-merta terjadi begitu saja. Ada berbagai faktor yang memicu terjadinya risiko penyakit tersebut.

Salah satu faktornya ialah obesitas atau kegemukan. Menurutnya, orang-orang gemuk cenderung memiliki risiko lebih besar dibandingkan mereka yang memiliki tubuh ideal.

"Orang yang bertubuh gemuk cenderung kurang gerak, kurang beraktivitas fisik, kolesterol juga meningkatkan risiko, ini yang kemudian memicu risiko jantung koroner," katanya.

Beni juga mengatakan, ciri kematian mendadak karena penyakit jantung itu tidak dapat dilihat secara kasat mata. Otopsi sangat diperlukan dalam hal ini.

"Itu perlu otopsi, dari gejalanya mengapa tiba-tiba meninggal. Biasanya dapat dirasakan dengan nyeri dada, itu sakitnya hebat sekali sampai keringat dingin," ujarnya.

"25 persen dari yang mengalami gejala seperti itu dalam dua jam pertama bisa meninggal, tidak bisa apa-apa," katanya. 

Dia pun membantah terkait adanya anggapan ditemukannya bagian tubuh yang membiru saat diketahui meninggal secara tiba-tiba, bahwa hal itu tidak semata mengacu pada kematian karena serangan jantung.

"Ketika tidak ada oksigen tubuh itu akan membiru. Tidak benar kalau membiru itu identik karena serangan jantung," katanya. 

"Kalau waktu kematian yang tidak diketahui itu dan ditemukan sudah membiru dapat dikatakan dia sudah meninggal sekitar setengah jam, tapi kalau sudah sampai kaku, itu lebih lama sekitar dua jam," tutup Beni.

Hal yang sama juga tertuang dalam artikel yang dilansir dari Halosehat.com, Bahwa sebab orang meninggal mendadak tidak semata karena serangan jantung, melainkan masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang menjadi penyebab mati mendadaknya seseorang. Berikut 10 kemungkinan yang dimaksud :

1. Overdosis

Salah satu penyebab penting dari kematian mendadak yang dialami oleh manusia adalah overdosis alias kelebihan dosis akan obat-obatan tertentu. Biasanya overdosis dikaitkan dengan obat-obatan terlarang dan jenis narkoba. Namun bukan tidak mungkin, kelebihan dari dosis obat-obatan ini, jenis obat yang diizinkan secara medis dapat menyebabkan kematian secara mendadak.

Overdosis akan menyebabkan melemahnya kondisi tubuh dan menyebabkan kematian yang langsung beberapa saat setelah mengalami kondisi overdosis. Sudah banyak sekali kejadian kematian mendadak yang disebabkan oleh kondisi overdosis, dan kebanyakan overdosis terjadi karena konsumsi obat-obatan terlarang atau narkoba.

2. Stress dan Depresi yang Berlebihan 

Jangan meremehkan stres dan beban pikiran yang dialami oleh seseorang. Kita tidak pernah tahu seberapa parah kondisi stess dan beban pikiran seseorang. Beberapa kasus tercatat bahwa penyebab kematian mendadak bisa saja disebabkan oleh kondisi mental yang tidak stabil, stress dan penuh dengan beban pikiran. Hal ini dapat berpengaruh pada dua hal, yaitu : 

Psikosomatis, yaitu terjadinya suatu gangguan kesehatan dan organ tertentu yang diakibatkan oleh kondisi psikologis, seperti stress dan depresiBunuh diri, Hal yang dilakukan oleh orang yang mengalami stress akut ini, karena sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk memperbaiki hidupnya.

3. Penyumbatan Pembuluh Darah

Penyebab kematian mendadak pada manusia lainnya adalah adanya suatu penyumbatan pembuluh darah, yang menyebabkan organ-organ tubuh mengalami kekurangan suplai darah dan juga suplai oksigen. Hal ini akan menyebabkan beberapa kemungkinan dan kemungkinan terburuknya adalah kematian secara mendadak karena berhentinya kerja jantung yang tidak menerima pasokan darah yang cukup. Biasanya penyumbatan pembuluh darah ini tejadi karena :

Gaya hidup tidak sehat, seperti rokok dan alcoholSakit kronis yang tidak dirasakan, seperti diabetes dan darah tinggi (hipertensi).

4. Penebalan pada Otot Jantung (kardiomiopati)

Penyebab lainnya dari kematian yang mendadak adalah adanya suatu penebalan pada otot-otot jantng atau yang istilah dalam dunia medisnya dikenal dengan nama kardiomiopati.

5. Kelainan pada Irama Detak Jantung (aritmia)

Aritmia merupakan suatu kondisi dimana adanya kelainan pada irama detak jantung. Kondisi ini terjadi karena adanya faktor keturunan, yang menyebabkan penderitanya mengalami kelainan pada irama detak jantungnya dan akan menimbulkan penyebab kematian mendadak apabila tidak ditangani dengan baik.

6. Pecahnya Pembuluh Darah

Penyebab lainnya dari kematian mendadak adalah pecahnya pembuluh darah. Pecah pembuluh darah dapat terjadi dimana saja, dan yang terparah apabila terjadi pada bagian otak dan pembuluh darah jantung. Hal ini akan menyebabkan kematian mendadak. Biasanya, pecahnya pembuluh darah dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain :

Kelainan pembuluh darahTekanan udara yang berubah-ubahHipertensiStress dan depresi.

7. Ayan atau Epilepsi 

Penyakit epilepsi (ayan) merupakan salah satu jenis penyakit yang penyebab utamanya belum diketahui secara pasti. Namun ciri-ciri epilepsi dan gejala yang muncul dari penyakit ini adalah penderitanya akan mengalami kejang – kejang dan tidak dapat bergerak dalam beberapa waktu. Dalam kondisi yang cukup parah ketika kambuh, penyakit ini dapat menyebabkan kematian yang mendadak.

8. Trauma Kepala

Berhati -hatilah dengan bagian kepala anda, karena banyak kematian mendadak disebabkan oleh kondisi trauma yang dialami kepala. Hal ini biasanya dapat terjadi karena adanya faktor kecelakaan, seperti terjatuh atau dipukul dengan benda keras. Dengan adanya trauma pada kepala, maka kemungkinan akan terjadi kondisi pecah pembuluh darah pada bagian kepala, atau bahkan pada bagian otak, yang dapat menyebabkan kematian mendadak.

9. Kecelakaan

Faktor kecelakaan juga merupakan salah satu penyebab kematian mendadak. Kecelakaan merupakan salah satu kejadian yang tidak bisa kita ramalkan, sehingga menjadi salah satu penyebab kematian mendadak pada manusia. Meskipun tidak semua kecelakaan dapat menyebabkan kematian mendadak. Hanya beberapa kecelakaan, terutama yang mengakibatkan pendarahan hebat dan juga trauma pada bagian tubuh tertentu yang akan menyebabakan kematian mendadak.

10. Serangan Jantung

Serangan jantung juga merupakan salah satu penyebab kematian yang sering terjadi pada kalangan masyarakat. Hal ini juga sering dikenal dengan istilah penyakit jantung koroner. Biasanya orang yang mengalami serangan jantung, terutama pada fase yang parah akan mengalami kematian mendadak.

Seperti yang diketahui, sebagaimana yang dilansir dari website Alodokter.com mengungkapkan ada beberapa kondisi yang membutuhkan Otopsi dan cara melakukan otopsi. Berikut ini beberapa kondisi yang membutuhkan otopsi : 

Kematian terkait masalah hukum. Kematian terjadi selama proses pengobatan eksperimental atau penelitian. Kematian terjadi tiba-tiba selama prosedur medis seperti prosedur pengobatan gigi, bedah, atau proses pengobatan.Kematian terjadi bukan akibat kondisi medis yang didiagnosis sebelumnya. Kematian mendadak pada bayi.Kematian tidak wajar yang diduga akibat kekerasan, bunuh diri, atau overdosis obat-obatan. Kematian akibat kecelakaan.

1. Prosedur Otopsi

Proses otopsi meliputi tiga tahap yaitu sebelum, selama, dan sesudah. Secara umum, berikut proses otopsi pada jenazah :  
A. Sebelum Otopsi

Semua informasi terkait orang yang meninggal akan dikumpulkan dari berbagai sumber. Catatan medis, keterangan dokter serta keterangan keluarga akan dikumpulkan guna memperkaya pengetahuan. Selain itu, akan dilakukan juga penyelidikan pada lokasi kematian dan lingkungan tempat orang tersebut meninggal. Jika kematian terkait dengan masalah hukum, maka ahli koroner dan pihak berwenang lain akan dilibatkan. Dalam beberapa kasus, pihak keluarga bisa memberikan batasan sejauh mana otopsi bisa dilakukan.

B. Selama Otopsi

Prosedur otopsi pertama kali dilakukan melalui pemeriksaan eksternal atau tubuh bagian luar. Segala data dan fakta mengenai jenazah seperti tinggi, berat badan, dan pakaian akan dikumpulkan untuk proses identifikasi. Pemeriksaan tubuh bagian luar juga dilakukan untuk menemukan ciri khusus yang berguna memperkuat proses identifikasi seperti bekas luka, tato, tanda lahir, dan temuan penting lainnya seperti luka, memar, atau cedera lainnya. Setelah proses eksternal maka proses pemeriksaan organ-organ internal tubuh dilakukan. Dada, perut, dan kepala akan disayat demi mendapatkan informasi penting terkait organ-organ yang ada di dalamnya. Untuk menguji adakah pengaruh obat, infeksi serta mengevaluasi komposisi kimia atau genetika pada jenazah dilakukan pemeriksaan darah, jaringan organ, dan cairan tubuh.

Di ujung pemeriksaan otopsi, organ-organ akan dikembalikan sesuai lokasinya dan sayatan pun dijahit. Jika dirasa perlu, pemeriksaan lebih lanjut mungkin akan dilakukan seperti tes genetika dan toksikologi atau tes pemeriksaan keberadaan unsur beracun.

C. Sesudah otopsi Jika otopsi dilakukan untuk keperluan hukum, setelah otopsi selesai, ahli patologi, koroner, atau pemeriksa medis akan melengkapi dan menandatangani penyebab dan cara kematian pada sertifikat kematian. Namun bila bukan untuk keperluan hukum, dokter yang menangani sejak awal sebelum orang tersebut meninggal yang akan bertanggung jawab.

Pertanyaannya adalah, apakah benar sebab matinya Ince Moa disebabkan oleh depresi yang mengakibatkan komplikasi sehingga Ince Moa Jantungan? Apakah korban memiliki riwayat penyakit jantung, atau dalam otopsi tersebut ditemukan tanda-tanda adanya penyakit jantung? Apakah otopsi yang dilakukan oleh tim Forensik dari Polda NTB seperti yang dikatakan oleh IPDA Wongso sudah sesuai dengan prosedur? Apakah otopsi yang dimaksud adalah otopsi eksternal atau internal ataukah keduanya? Entahlah, yang jelas beberapa prosedur yang dijelaskan di atas menunjukan, bahwa usai otopsi harus ada sertifikasi meninggal atau laporan tertulis hasil otopsi yang disampaikan kepada keluarga. Setahu saya, jika penyebab matinya seseorang itu karena serangan jantung atau jantungan. Maka otopsi internal/bedah tubuh (angkat organ tubuh) korban adalah satu-satunya cara untuk meneliti dan memeriksa jantung korban. 

Lagi pula yang menyampaikan informasi hasil otopsi kepada media metromini.co.id tersebut, bukan tim Forensik yang melakukan otopsi, melainkan seorang polisi.

Tidak dijelaskan pula dalam media tersebut, bagaimana data-data hasil otopsi yang dimaksud.

Sampai dengan berita ini ditulis, pihak keluarga dan Polres Bima Kota masih dalam proses konfirmasi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Reporter : Furkan As
Editor      : Fuad De Fu