Benang Merah dan Peta Konflik Antar Desa di Kabupaten Bima
Cari Berita

Advertisement

Benang Merah dan Peta Konflik Antar Desa di Kabupaten Bima

Selasa, 13 Februari 2018

Perang antar Desa di Kabupaten Bima (foto : medianusantaranews.wordpress.com)
Indikatorbima.com - Kabupaten Bima adalah salah satu daerah yang kaya akan sumber daya alam. Namun, kemajuan daerah tetap stagnan dan tidak berkembang pesat sesuai dengan harapan kita bersama karena tidak ditopang oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan juga kurangnya peran pemerintah dalam mendukung kemajuan sumber daya sebagaimana yang diinginkan bersama. 

Salah satu contoh sumber daya yang masih kurang adalah dengan adanya konflik antardesa, dalam hal ini budaya konflik antardesa yang sering terjadi di Kabupaten Bima, NTB. Konflik yang sering terjadi ini dapat merugikan kelompok dan individu dalam masyarakat, maka diperlukan penanggulangan khusus oleh pemerintah sehingga tidak menyebabkan kerugian, baik secara fisik yang ditandai dengan korban jiwa akibat konflik maupun kerugian secara materil (kekayaan-kekayaan individu atau kelompok). 

Banyaknya konflik di Kabupaten Bima menggambarkan betapa kurangnya solidaritas kolektif keBimaan/keMbojoan dalam masyarakat modern ini. Konflik sosial di Kabupaten Bima menurut Mansyur, M.Pd. lebih kepada terkikisnya budaya “Maja Labo Dahu” sebagai identitas dan falsafah masyarakat Bima/Mbojo. Beliau juga menekankan bahwa, salah paham budaya “Maja Labo Dahu” juga dapat menyebabkan para pemuda lebih memberanikan diri untuk berkontradiksi karna malu untuk tidak berkelahi dan minum-minuman keras.

Dilansir dari Visioner, 2017 bahwa kejadian konflik antar desa disebabkan oleh tramadol. Kapolres Kabupaten Bima, AKBP M. Eka Fatur Rahman SH., SIK mengaku tak menafikkan bahwa peredaran obat keras dalam bentuk tramadol. Peredarannya sudah merembes hingga ke desa-desa di Kabupaten Bima. Bahkan Eka menyebutkan “Banyak konflik yang terjadi di Kabupaten Bima, baik perorangan maupun kelompok hingga menyebabkan perkelahian antarkampung juga dipicu oleh pelaku yang terlebih dahulu mengkonsumsi tramadol”.

Maraknya perlakuan remaja ini memicu terjadinya konflik-konflik sosial di Kabupaten Bima. Dilansir dari jurnal M. Tahir (2017) yang telah melakukan penelitian tentang konflik di daerah Kecematan Woha, Kabupaten Bima mengatakan bahwa “Ada satu sikap yang diwarisi dari generasi ke generasi yaitu ingin mencoba sesuatu yang baru”. Lebih lanjut M. Tahir menguraikan penyebab konflik adalah “... akibat sikap arogansi kelompok pemuda di salah satu desa tersebut yang suka minuman keras, dan membuat onar di berbagai kegiatan, baik olah raga maupun hiburan malam”. 

Perilaku tidak sehat pemuda inilah yang membuat konflik di Bima selalu terjadi, perilaku yang membuat onar dan menganggap diri paling hebat di antara yang lain sehingga menimbulkan pertikaian-pertikaian antarkelompok pemuda dan yang menjadi imbasnya adalah kepada masyarakat luas yang ada di desa.

Perilaku ini erat kaitanya dengan "Tindakan Sosial" Max Weber dalam hal tindakan efektif/emosi. Pemuda lebih mengedepankan emosi tanpa berpikir akan dampak dari apa yang mereka lakukan nantinya. Tindakan pemuda ini lebih kepada tindakan tanpa dasar nilai. 

Menurut Ahmadin (2017) yang juga meneliti tentang konflik dan sejarah di Bima, menguraikan salah satu penyebab konflik yang terjadi di Bima adalah “... faktor kenakalan para remaja, kebiasaan para remaja dan anak muda desa yang duduk di pinggir jalan sambil menggangu masyarakat desa lain yang melintas di jalan tersebut. Bentuk gangguannya seperti perampasan, penganiayaan, bahkan pelecehan ....” Tindakan kebiasaan/tradisi Max Weber yang dikaitkan dengan penyebab konflik ini adalah kebiasaan yang dilakukan pemuda adalah duduk dipinggir jalan dan merampas milik orang lain dan mereka menganggap hal tersebut merupakan suatu tindakan untuk menunjukkan eksistensi daerahnya supaya bisa ditakuti oleh daerah lain. Ego daerah dan kebiasaan yang salah menyebabkan terjadinya konflik ini.

Menurut saya, tindakan yang rasional instrumental dan bernilai dari teori Max Weber ketika dikaitkan dengan konflik sosial ini hanya pada persoalan menciptakan kebersamaan dalam kelompok pemuda dan desa yang terlibat dalam konflik, kebersamaan akan tercurahkan ketika ada perselisihan dengan kelompok lain. Seperti yang diungkapkan oleh Ritov dan Kogut (2017) mengatakan “Peningkatan kohesivitas kelompok dapat dicapai melalui interaksi antarkelompok anggota dan bekerja sama menuju tujuan bersama, atau dengan mengalami persaingan eksternal”.

Kemudian untuk mencegah terjadinya konflik sosial ini, diperlukan tokoh masyarakat dalam sebuah kelompok/desa yang mampu berpikir positif dan bisa mengarahkan anggotanya kearah yang lebih baik. Faktanya bahwa kebiasaan di beberapa desa yang ada di Kabupaten Bima, tokoh yang selalu dijadikan figur adalah mantan-mantan preman yang ditakuti dan suka akan kekerasan, ini sesuai fakta lapangan. Berdasarkan penelitian dari Isakov Et Al (2016) mengatakan “Crucially, we have shown that, even within a population in which violence is already present, the presence of central nodes with non-violent attitudes can inhibit the spread of violence”. Dalam hal ini untuk mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan, harus ada tokoh utama atau pemimpin yang berpusat yang anti terhadap kekerasan.

Penulis : SubComandan Ilmidin
Editor   : Sirsulk