Andai Tuhan Lupa Mencatat
Cari Berita

Advertisement

Andai Tuhan Lupa Mencatat

Rabu, 14 Februari 2018

Iluatrasi (foto : telegrap.co.uk)

Indikatorbima.com - Sebidang tanah seluas 2000 m2 milik Soebono bin Legimin Rahardjo dibelah dua. Separo dibangun rumah, ditempati bersama anak dan isterinya, separuhnya lagi buat mushala dan halaman bermain. Tak dinyana mushala yang dibangunnya ramai dikunjung jamaah. Lahir keinginan untuk menaikkan status mushala menjadi masjid. Mushola dibongkar. Puluhan kubik kayu jati didatangkan dari Saradan-Madiun. Tabungan untuk hari tua dikuras, sebagian tanah waris dijual, berikut perhiasan isterinya dipreteli, untuk membangun masjid idaman.

Masjid berdiri kokoh. Lain dari kelaziman, punya tampilan eksentrik karena berbahan kayu jati. Jamaah suka tinggal bahkan menjadi daya tarik wisata. Soebono dan isterinya setia berkunjung dan beribadah. Sebuah kesuksesan luar biasa dapat membangun masjid dekat rumah ditengah gelegak hedon dan materialisme absurd. 

Berpuluh tahun Soebono menjadi takmir masjid yang dibangunnya itu, hingga suatu waktu ketika wajahnya menua. Tubuhnya mulai merenta langkahnya gontai karena kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya yang merapuh. Ia serahkan kepengurusan takmir masjid pada generasi yang lebih muda. Pintar, kaya dan energik. 

Adalah Santoso seorang insinyur ahli mesin lulusan Jerman yang menggantikan. Visioner dan punya banyak kelebihan. Disamping ahli ibadah yang taat juga seorang yang fasih baca Al Quran. Ia kumpulkan semua pengurus takmir. Program di paparkan, visi dijelaskan. Masjid harus dibongkar. Sudah ketinggalan jaman dan tak mampu menampung jamaah. Katanya ringkas dihadapan pengurus yang antusias.

Pengurus takmir berdecak. Kagum dan bangga dengan ketua takmir baru yang pintar dan visioner. Inilah jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan. Kita akan buat masjid yang megah, insya Allah saya akan menanggung separo dari semua biaya yang dibutuhkan. Saya juga akan hubungi kolega, jadi jamaah tak perlu risau soal biaya.

Satu hal yang perlu kita segera selesaikan adalah memindah Soebono bin Legimin Rahardjo dari rumah di sebelah utara masjid. Karena rumah dan tanah itu akan menjadi bagian perluasan masjid. Kita akan carikan Soebono kontrakan. Bukankah masjid sudah berbaik hati memberikan tumpangan tempat tinggal selama puluhan tahun. Sudah waktunya dia pergi dari rumah itu, kata Santoso tangkas yang diamini hampir semua pengurus takmir baru.

Pagi Subuh di hari Jumat seperti biasanya Soebono menjadi Imam shalat shubuh. Bacaannya sudah tak lagi fasih karena sebagian giginya rontok. Sebagian jamaah ngedumel karena shalat di pimpin seorang tukang bersih-bersih masjid. Tua dan keriput, tak sedikit Soebono mendapat caci dan maki dari sebagian jamaah yang tak puas dengan cara kerjanya. Karpet sering bau apeg. Kamar mandinya juga sering bau pengab dan Soebono menjadi sasaran amuk. Sebagian ingin mengusir dari masjid dan menggantinya dengan tenaga baru. 

Soebono hanya bersabar. Dua anaknya: satu putrinya di Jerman dan satu putranya di Jakarta sudah berulang kali mengajaknya tinggal bersama, tapi Soebono menolak. Baginya masjid ini adalah prestasi puncak dalam hidupnya. Ia tak akan meninggalkannya. Walau sejengkal.

Subuh itu menjadi shalat terakhir baginya. Soebono roboh pada sujud terakhirnya. Ia tak bangun untuk selamanya. Saat pengurus takmir membersihkan rumahnya ditemukan secarik kertas bersegel, ditanda tangani notaris bahwa ia wakafkan separo sisa tanahnya untuk perluasan pembangunan masjid.

"Selamat datang generasi penikmat yang melupakan sejarah dan meremehkan kebaikan orangtua."

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar