11 Bahasa Telah Punah; Tidak Ada Kata Aman Untuk Bahasa Bima
Cari Berita

Advertisement

11 Bahasa Telah Punah; Tidak Ada Kata Aman Untuk Bahasa Bima

Selasa, 27 Februari 2018

Foto : Ilustrasi
Indikatorbima.com - Berdasarkan pendataan dari Ethnologue (Badan Bahasa Dunia) tahun 2017, Negara Indonesia menduduki peringkat nomor 2 di bawah Papua Nugini dengan jumlah bahasa sebanyak 707 bahasa (98 bahasa di antaranya terancam punah). Sedangkan hasil pendataan sementara Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada awal 2017 lalu, mencatat ada 646 bahasa daerah.

Dilansir dari Antaranews.com, data jumlah bahasa daerah yang berhasil diverifikasi sampai awal 2018 adalah 652 bahasa daerah. Dadang Sunendar selaku Kepala Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa memperkirakan pendataan bahasa daerah ini akan rampung pada tahun 2019 mendatang.

Jika dilihat dari pemetaan jumlah bahasa pada tiap-tiap daerah tahun 2017, dengan pembagian Sumatra 21 bahasa daerah, Jawa 5 bahasa daerah, Kalimantan 53 bahasa daerah, Sulawesi 53 bahasa daerah, Nusa Tenggara (Bali, NTB, dan NTT) 73 bahasa daerah, Maluku 65 bahasa daerah, dan Papua 376 bahasa daerah, maka dapat disimpulkan bahwasanya aset terbesar kekayaan bahasa daerah berada di wilayah Indonesia bagian timur.

Khazanah kebahasaan sebagai budaya warisan ini seakan berbanding lurus dengan ancaman kemerosotan dan kepunahan.

21 Februari lalu, bertepatan dengan hari Bahasa Ibu Dunia, Dadang Sunendar mengumumkan bahwa ada 11 bahasa yang telah mengalami kepunahan, 19 bahasa terancam punah, dan 4 bahasa berstatus kritis. Parahnya, bahasa-bahasa yang mengalami degradasi tersebut adalah bahasa dari Indonesia bagian timur yang notabenenya adalah wilayah yang kaya akan keanekaragaman bahasa.

11 bahasa yang telah punah tersebut adalah Bahasa Kajeli/Kayeli, Piru, Moksela, Palumata, Ternateno, Hukumina, Hoti, Serua, dan Nila yang berasal dari Maluku serta Bahasa Tandias dan Mawe yang berasal dari Papua.

Budaya warisan (bahasa daerah) seharusnya menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga dan terus dilestarikan. Tidak ada kata aman, karena kuantitas (jumlah) penutur suatu bahasa tidak menjamin keberlangsungan hidup suatu bahasa.

L.R. Stroto yang dikutip oleh Carmen Llamas memberikan perbandingan Bahasa Karitiana di Brazil yang digunakan oleh penutur aktif 185 pembicara dengan Bahasa Yiddish yang dituturkan oleh 3 juta pembicara. Namun, L.R. Stroto meramalkan bahwa Bahasa Karitiana akan bertahan lebih lama dibanding Bahasa Yiddish karena digunakan secara konsisten dan diteruskan kepada generasi.

Contoh kasus Bahasa Yiddish tersebut sangat erat kaitannya dengan Bahasa Bima dan Bahasa Sambori. Bahasa Bima adalah bahasa mayoritas dalam komunikasi di wilayah Dompu dan Bima. Namun, sekonsisten apa masyarakat menurunkan Bahasa Bima kepada generasi penerus telah menjadi tanda tanya besar.

Anehnya, ada mindset yang terbentuk secara tak sadar pada masyarakat Bima. Mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai B1 (Bahasa Ibu) dan Bahasa Asing sebagai B2 (Bahasa Kedua) dianggap sebagai pembeda kelas sosial dalam masyarakat. Sehingga penutur Bahasa Bima tulen dianggap kelas rendahan yang kolot dan tidak peka terhadap kemajuan zaman.

Pada akhirnya banyak dijumpai penggunaan bahasa interferensi (bahasa campuran) antara Bahasa Bima dan Bahasa Indonesia yang dituturkan sebagai alat komukasi. Contoh penggunaan bahasa campuran ini banyak dijumpai di daerah Kota Bima dan sebagian wilayah kabupaten.

Bahasa interferensi yang menyalahi aturan gramatika bahasa asal maupun bahasa serapan ini seperti virus yang penyebarannya sulit untuk ditanggulangi, dan di antara banyaknya penyebab kepunahan bahasa, ini adalah salah satu cara untuk mengantarkan bahasa menuju kepunahan.

Penulis : Sirsulk