Tuhan, Untuk Apa Kau Lakukan Semua Ini?
Cari Berita

Advertisement

Tuhan, Untuk Apa Kau Lakukan Semua Ini?

Rabu, 03 Januari 2018

Foto : Gunung Sangiang di tengah laut, ciptaan tuhan. Tanda-tanda kebesarannya.
Indikatorbima.com - Aku tidak tau harus memulai tulisan ini dengan kata apa, aku juga tidak tau bagaimana mengakhiri tulisan ini. Tapi kata hati dan pikiranku, aku harus menulis. Tapi sebaiknya aku mengawali tulisan ini dengan kata Basmallah dan di akhiri dengan kata Hamdallah. Begitu pikiranku saat memulai tulisan ini.

Bismillahirrahmanirrahim...

Tuhan, untuk apa kau lakukan semua ini? Begitu tanyaku dalam hati dan pikiranku. Hari-hariku disibukkan dengan pertanyaan sepele itu, kapan pun dan dimana pun aku berada. Dilain pihak, aku juga bertanya-tanya pada diriku sendiri, untuk apa aku tanyakan hal sepele itu. Kira-kira dua pertanyaan itu yang selalu muncul. Mereka berdua muncul seenaknya saja, tanpa perduli, bahwa aku sedang fokus menulis tentang mereka.

"Aku ada di antara keadaan dan ketiadaan. Aku ada karena adanya orang tuaku, orang tuaku ada karena adanya kakek dan nenekku, kakek dan nenekku ada karena adanya orang-orang terdahulu, orang-orang terdahulu ada karena adanya Adam dan Hawa (manusia). Adam dan Hawa pun ada karena adanya tanah dan tulang, tanah dan tulang pun ada karena adanya tuhan (pencipta), lalu tuhan ada karena apa? Apakah tuhan ada dari keadaan seperti halnya manusia? Ataukah tuhan ada dari ketiadaan? tidak mungkin, tidak mungkin tuhan itu ada dengan sendirinya. Tidak! Pasti ada yang menciptakan seperti halanya manusia," Pikirku bodoh dan aneh kala itu. Dan aku yakin, bahwa pikiranku tentang tuhan pasti salah, sangat tidak benar. 

Kecilku tiada tahu apa-apa. Aku tidak tahu aku ini apa, aku tidak tahu aku ini siapa, aku tidak tahu kapan aku dilahirkan, aku tidak tau aku ini kenapa, aku tidak tahu aku ini dimana, aku tidak tahu aku ini bagaimana. Apalagi tuhanku. Aku tidak tahu apa-apa, sama sekali aku tidak tahu! Aku melihat apa yang aku bisa lihat.

Aku melihat diriku seadanya, aku melihat parasnya yang cantik jelita, matanya yang indah, hidungnya yang mancung sedikit pesek, aku melihat mereka. Aku juga mendengar apa yang bisa aku dengar. Aku mendengar suaranya yang lembut, mendengar suara adzan lima waktu, mendengar nasehat, mendengarkan ceramah guru dan dosen-dosen, bahkan mendengarkan suara diriku sendiri. Aku merasakan apa yang bisa aku rasakan. Merasakan pahit dan manisnya kopi hitam, nikmatnya tumis kangkung dan lezatnya ikan laut masakan ibu. Aku mencium apa yang bisa aku cium. Aku mencium bau busuk dimana-mana, aku juga mencium wangi tubuhnya yang di semprot parfum meski pun belum mandi. Panca indraku sangat berfungsi.

Pelan-pelan aku mulai tahu siapa aku, aku tahu dimana aku, aku tahu kapan aku dilahirkan, sedikit demi sedikit aku tahu bagaimana aku, aku tahu mengapa aku begini, aku pun mulai tahu siapa tuhanku. Aku tahu yang aku tahu, aku juga tahu apa yang tidak aku ketahui. Aku juga tahu kenapa aku tidak tahu. Aku tahu aku juga tidak tahu.

Aku manusia. Aku pemarah, aku marah pada diriku sendiri, aku juga pernah marah pada kekasihku hingga akhirnya ia pergi dan tidak pernah kembali. Kadang aku penyabar, aku sabar menghadapi hidup, sabar mengahdapi segala cobaan sesanggupku. Aku juga penyayang, aku sangat menyayangi orang tuaku sebagaimana aku menyayangi diriku sendiri, kadang aku adalah pembenci, kadang iri, ria, dan dengki, kadang juga bahagia, kadang sedih, aku juga kuat, kadang lemah, aku pemberani, aku juga penakut, aku berani berfikir bahkan bertindak, aku juga takut atas apa yang aku pikirkan, aku takut atas apa-apa yang sudah aku perbuat. Tapi mau bagaimana lagi, itulah pikiranku, ia meronta mencari batasnya dalam berfikir, ia ingin berfikir bebas, tanpa takut sedikitpun akan di marahi tuhan penciptanya. kadang-kadang begitulah aku. Aku mencintai dan dicintai, lalu rindu, kemudian kecewa. Aku gegabah kadang hati-hati dan lain-lain. Itulah aku yang aku tahu. Itulah aku apa adanya.

Ada kehidupan dan kematian, yang hidup pasti akan mati, setelah mati dihidupkan kembali. Ada juga langit dan bumi, ada matahari dan bulan, ada air dan api, ada hewan dan tumbuhan, ada laki-laki dan perempuan, ada banci, ada LGBT, ada perempuan setengah laki-laki, sebaliknya ada laki-laki setengah perempuan, ada anak-anak, ada yang muda juga ada yang tua, ada agama, ada negara, ada hukum tuhan ada hukum manusia, sampai akhirnya ada juga aku dan kamu, memadu kasih memuaskan nafsu, mengobati rindu atas nama cinta. Dan yang paling menyenangkan adanya surga, ada juga yang paling menakutkan adalah neraka, dan lain-lain. Semuanya ada, ada ada saja. 

Aku di suruh shalat, aku juga disuruh berbuat baik, berbakti kepada orang tua, saling membantu tolong menolong, saling menyayangi antara satu dengan yang lain. Aku dilarang menyakiti, disuruhnya aku menjaga lisanku. Aku dilarang memukul orang, apalagi membunuh. Tapi dilain pihak, aku disuruh membunuh jika tidak ingin terbunuh. Segala perintah tertuju padaku untuk dilaksanakan dan segala larangan juga tertuju padaku untuk dijauhi. Perang antar umat manusia terjadi dimana-mana.

Ribuan manusia mati dalam keadaan mengenaskan, perempuan lemah mati karena tertusuk golok di perutnya, laki-laki mati ketika peluru menembus kepalanya, orang tua, anak-anak yang tidak tau apa-apa juga mati bergelimpangan ketika di hujani bom di Palestina. Bahkan, bayi-bayi baru lahir tak sempat melihat dunia ketika nyawanya kau cabut.

Tuhan, kau maha segalanya, maha penyayang, maha kasih, maha kejam ketika semua ini terjadi atas ijinmu. Aku terus mencari alasan yang tepat untuk membenarkan segala bentuk keputusanmu.  
Aku mencari kebenaran, terkadang pembenaran. Tanpa sadar aku sangat takut, aku sangat takut masuk neraka. Tanpa sadar aku juga akan sangat bahagia jika masuk ke dalam surga. Antara sadar dan tidak sadar, terkadang aku juga tidak perduli dengan semua itu. Mungkin khilaf karna kebodohanku.

Kita diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda, ada banyak suku, bahasa, ras, agama, budaya, bahkan setiap individu itu berbeda, sekali pun kembar. Tapi baginya semua perbedaan itu, adalah semu. Ia hanya melihat satu hal, yaitu amal ibadah terhadap siapapun itu.

Sejauh mata memandang, sebanyaknya hati membolak-balikkan segala sesuatu, sedalamnya akalku berfikir dengan segala keterbatasannya. Tuhan, aku bertanya padamu, untuk apa kau lakukan semua ini. Apakah untuk dirimu sendiri atau untuk diriku, diri kami. Atau mungkinkah bukan untuk apa-apa?

Tuhan, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, untuk apa aku pertanyakan semua ini? adakah jawaban itu padamu? salahkah aku bertanya tentang semua ini? Tuhan, ampunilah aku. Amien... 

Alhamdulillahirrabilallamin...

Penulis : Mr.Fas