Trias Politika dan Industri Politik
Cari Berita

Advertisement

Trias Politika dan Industri Politik

Kamis, 11 Januari 2018

Ilustrasi (foto : Istimewa)
Indikatorbima.com - Dalam diri Nabi saw terdapat tiga kekuasaan: Kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif. Tiga kekuasaan dipegang Nabi sekaligus tanpa batas dan Nabi bisa dengan sempurna melakukannya tanpa cela. Tak heran jika Michael Heart menempatkan Nabi di urutan pertama sebagai orang paling berpengaruh mengubah dunia.

Nabi adalah pusat episentrum kekuasaan yang tidak terpisah apalagi terbagi. Dalam diri Beliau terdapat segala macam kebaikan. Ma'shum terjaga dari kesalahan dan kekurangan. Jadi meski memiliki kekuasaan absolut Nabi tak mungkin melakukan kesalahan.

Pun dengan para penerusnya: Abu Bakar as Sidiq, Umar Ibnul Khattab, Ustman Ibnu Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka pewaris Nabi meski tak sempurna dan mendapat kekuasaan dengan cara yang rumit dan menyisakan banyak masalah. Melahirkan kelompok, aliran dan manhaj. Bahkan tiga khalifah selain Abu Bakar dibunuh karena persekongkolan politik dari pengikut yang kecewa.

Adalah JJ Reasseau dan John Locke yang pertama kali mengenalkan paham trikotomi kekuasaan yang sebelumnya dipegang absolut para raja dan ratu. Doktrin Trias Politika ini kemudian dijadikan fundamen mengurangi kewenangan dan membaginya.

Demokrasi berlangsung masif. Kekuasaan berpindah kepada rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Semua diputus berdasar voting suara terbanyak begitu seterusnya. Musyawarah dan mufakat sebagai ruh demokrasi dibenam digantikan voting dan suara terbanyak. Lantas apa yang tersisa kecuali riuh suara bandar dan cukong yang membagi recehan pada pemilik suara.

Socrates pun harus rela diracun mati sebagai hukuman atas kekalahan pada kelompok yang banyak. Pada akhirnya demokrasi tetap saja sebuah kekuasaan mengalahkan yang sedikit. Musyawarah mufakat dibenam pada hitung voting. 

Pembagian kekuasaan tak lebih hanya sebuah tipuan. Ketiganya hanya konspirasi untuk membungkam aspirasi rakyat banyak. Dan rakyat sekali lagi hanya alat untuk memenuhi segala keinginan para penguasa. Atas nama nama rakyat pula rakyat di tindas. Lalu siapa sebenarnya berkuasa ....

'Demos' tetap dengan satu voting suara yang ditukar dengan satu kertas yang telah dibeli para bandar dan cukong pada pilihan yang sudah dipilhkan.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar