Tidak Ada Persaingan Sehat
Cari Berita

Advertisement

Tidak Ada Persaingan Sehat

Minggu, 07 Januari 2018

Ilustrasi (foto : iliketowastemytime.com)
Indikatorbima.com - Ada yang masih senang bersaing? Tapi buat apa bersaing? Setelah memang lalu apa? Kalau kalah apa akan murka? Kompetisi memang butuh untuk mengukur sejauh mana kehebatan kita. Itu kalau lomba, misalnya tingkat RW atau kecamatan atau tingkat dunia. Kalau antarhati jangan lah ya.

Persaingan hidup yang paling harus dihindari. Sama halnya seperti berdebat. Itu tidak baik karena masing-masing akan teguh dipendapatnya dan bila salah akan berkilah tak mau kalah. Debat hanya menimbulkan kerasnya hati. Buat apa?

"Dia sudah hampir sama denganku," kata Dudit suatu sore di teras rumahnya.

"Dia siapa?" Tanyaku sambil mengunyah tape goreng yang disuguhkan istrinya lima menit lalu dan ia berlalu masuk ke rumahnya, tapi sebelumnya tersenyum padaku menyuruh dimakan.

"Si Budi Jagal,"

"Kenapa dia?"

"Tahun lalu dia beli rumah di perumahan. Nggak besar tapi mewah. Dan sekarang udah ngupload foto ke FB nyetir Suzuki Ignis," katanya sewot.

"Punya mertuanya mungkin. Atau punya rental mobil," kataku mengkekeh ringan. 

"Katanya Andre punyanya sendiri kok, Moo."

Kubalas "Oh" saja. Lalu kuminum tehku. Kuamati kegamangan Dudit yang merasa kurang terima.

Wajahnya menyiratkan ketidakterimaan bila orang lain menyainginya. Memang dia sendiri sudah punya rumah dan mobilnya berganti-sesukanya. Dia tak ingin kalah dalam hal tersamai suksesnya. Apalagi dilangkahi.

Aku jadi berfikir kalau aku sudah punya dua novel lalu teman sekantorku mulai menulis artikel dan cerpen dan sebentar lagi bukan tidak mungkin mereka anak menerbitkan novel yang langsung best seller dan meledak ke dunia akhirat dan jauh berada di atas levelku. Apa aku harus bunuh diri dengan capaian rekan kerjaku itu? Buang-buang waktu, rasa, dan tenaga bila aku berat memikirkan mereka. Bukankah lebih baik dunia dipenuhi dengan karya.

"Kalau kalian sama atau selevel soal kekayaan harta benda, menurutku kamu harus menang dalam kekayaan hati, kak," aku mulai berkhutbah.

"Apa maksudmu?"

"Bagiku, silahkan samai atau salip capaian duniaku tapi aku harus lebih unggul di bidang kehatianku." Jelasku.

"Aku punya novel, rekanku juga punya. Bahkan best seller meski awalnya dia bukan penulis dan aku lebih dulu menulis. Tapi aku akan menang jika aku tidak jumawa, aku masih murah senyum, aku lapang dada, aku jauh lebih sabar, dan aku akan selalu membeli koran dan menyuruh kembaliannya ambil saja pada pak loper setiap hari Ahad. Itulah kemenanganku, kak."

"Berat itu, Moo,"

"Ringan, Kak. Lakoni syukuri sabari. Mek ngono tok,"

Dia menyeruput tehnya lalu meresponsku. "Hidup memang berat, Moo. Kadang hati tidak terima melihat orang lain hebat. Berat mengakui kehebatan orang lain. Susah melihat orang senang. Senang melihat orang susah." Katanya. "Itu salah ya?" 

"Tidak tahu, Kak," ucapku menggelengkan kepala. Dia menyunggingkan bibirnya. 

"Moo... Moo..." tukasnya.

Merasa paling unggul sendiri rasanya tidak sopan. Kata Rosulullah Muhammad SAW itu namanya ujub. Merasa dirinya sajalah yang paling baik. Itu tidak baik utntuk pencernaan.

"Manusia yang menang itu adalah yang mampu membesarkan hati. Apapun diterima dengan lapang dada. Kalau keras hati maka kebenaran dan kebaikan akan kalah. Kamu hanya ingin menang sendiri. Itu penyakit hati." Kata si Ebok, ibunya Dudit saat menasehati kami di ruang tamu tempat kami belajar. Itu dulu tahun 2005. Kami kelas 2 SMA. Kami belajar bersama di rumahnya.

Waktu itu kalau tidak salah aku mengingat. Dudit menceritakan ke si Ebok kalau aku turun peringkat. Semester satu peringkat 1 dan semester duanya turun jauh jadi peringkat 9. "Belajar lagi yang tekun, berbuat baik yang banyak dan jangan mudah puas apalagi mudah congkak. Jangan. Sibuklah mengurus dirimu sendiri supaya selalu berguna. Jangan repot mengurus keburukan orang lain," kata si Ebok dan lalu meneruskan membaca Quran di depan teve yang tidak menyala. Kami terus mengerjakan LKS matematika dengan lesehan.

Semoga berguna. Aamiiin...

Penulis : Mulyanto