Siapa Sih Prof. Muhadjir Effendy?
Cari Berita

Advertisement

Siapa Sih Prof. Muhadjir Effendy?

Kamis, 11 Januari 2018

Muhadjir Effendy (foto : Florespost.co)
Indikatorbima.com - Beliau bukan dosen saya secara langsung, hanya mengepalai kampus tempat saya berteduh di sekian tahun itu. Berarti memang tidak ada kedekatan emosi apalagi hati dengan beliau. Hanya sebatas itu saja. Itu kesimpulan awal.

Tapi saya bangga beliau. Sampai saat ini minimal ada dua hal yang saya catat dan kenang dari beliau sehingga saya ikut bungah bila beliau kini jadi orang besar di republik ini.

Pertama, saat saya jadi pengurus IMM Cabang Malang. Saya sempat beradu mata dan mempertahankan mulut beserta yang dikeluarkan dari dalamnya di hadapan beliau. Bahwa acara nasional yang akan kami gelar butuh beliau dan benar saja beliau mau mendukungnya sepenuh hati, bahkan beliau ridho menjadi salah satu pematerinya.

Kedua, saat saya jadi ‘tukang ketik’ di sebuah koran besar di Malang. Saya berkesempatan lagi menatap mata tajamnya, memandangi kepalanya yang kian gundul, menjadi pendengar baiknya saat dari dalam lisannya menyembul mantra-mantra kisah hidup singkatnya juga kegemarannya yang kemudian saya ketik dan kabarkan di koran kami. Baru saat itulah saya tahu bahwa jadi orang nomor satu di kampus besar tak harus berumah istana. Beliau membuktikan bahwa kesederhanaanlah yang justru mendatangkan kebahagiaan teramat dahsyat.

Saya akan kabarkan kepadamu karena saya juga baru tahu bahwa rumah beliau itu sangat biasa, jauh dari kesan mewah, tidak begitu luas, ada halamannya, ada sebuah mobil sederhana terparkir di garasinya, dan ini yang menarik ada pekarangan yang dijadikan kebun mini beliau di depan dan samping rumahnya. Yang ditandur adalah yang bisa dijadikan obat tradisional: kunyit, temu lawak, daun jarak, kumis kucing, beluntas, dan lainnya saya lupa.

Setidaknya itu yang baik yang saya kenang dari beliau.

Ada juga loh yang tidak baik, bahkan kurang ajar. Itu saya lakukan semasa berteduh di kampus yang beliau kuasai. Dan ini mesti harus saya sampaikan permohonan maaf kepada beliau langsung –meski tidak berhasil. Itu niatan saya pasca meliput beliau sambil membawa korannya ke kediaman beliau. Ehh.. ternyata sayanya keburu hijrah ke Surabaya dan itu jadi terabaikan. Ini peristiwa 2014.

Lalu ada niat untuk meminta maaf lagi pada beliau di awal-awal tahun 2016 lalu. Ehh… 27 Juli 2016, ayah tiga orang anak ini malah jadi menteri. Saya kan masih punya nomornya, jadi saya putuskan meminta maaf kepada beliau lewat WA tepat di hari beliau dilantik jadi orang besar itu dan tak berbalas. Tidak apa-apa yang penting saya plong. Meminta maaf adalah urusan saya dan memaafkan adalah urusan beliau, yang sangat ngefans sama Sir Alex. Katanya suka caranya memimpin sehingga tim menjadi hebat.

Sekarang beliau jadi orang besar dan saya bangga beliau. Saya bangga beliau yang selalu berpendidikan dan bermuhammadiyah dalam banyak menyelesaikan persoalan bangsa –meski beliau bukan atau tak ada garis darah senior organisasi di tubuh saya. Saya bangga.

Dan, saya ikut sedih bila orang lain menghujat beliau yang sempat melakukan kebijakan tak pro mereka. Beliau guru saya, teman! Mohon jangan keterlaluan menyakitinya. Karena, bila dia sakit, saya ingin sekali menggorokkan celurit saya di lehermu, wahai orang-orang yang menyakit beliau. Ingat!

Penulis : Mulyanto