Siapa Musuh Kita Semua?
Cari Berita

Advertisement

Siapa Musuh Kita Semua?

Sabtu, 13 Januari 2018

Presiden Joko Widodo gelar acara doa bersama sejumlah kiai, alim ulama untuk keselamatan bangsa (foto : TRIBUNNEWS)
Indikatorbima.com - Jokowi muslim. Dimusuhi karena dianggap bukan representasi Islam. Bahkan dianggap enemy yang membahayakan. Semua kebijakannya dicurigai dan ditampik karena dianggap tidak sesuai dengan Kitabullah. Pemerintahannya dianggap Rezim Thaghuts yang tidak berpihak pada kepentingan umat. Tapi gaji lancar kita terima tiap bulan tanpa pernah bertanya dari mana uang di dapat oleh rezim yang kita anggap thaghuts itu.

Apapun yang bersinggungan dengan Jokowi di cap kafer. Bersalaman dengannya apalagi duduk berdekatan, bahkan kita juga harus menghindar untuk tidak memakai baju 'kotak-kotak'. Baju ini telah dikutuk sebagai musuh umat, jadi jangan pernah memakai kalau tak-ingin dianggap berserupa. Bisa-bisa kena pasal kafer alias masuk neraka karena menyerupai kaum yang dianggap memusuhi Islam.

Hanya karena belum paham konsep pendidikan karakter, menterinya boleh dibunuh. Yang tak hadir dalam reuni 212 bukan mujahid dan harus rela dianggap bukan muslim. Menteri agama di bully habis dengan kata-kata buruk merendahkan.

Tak tahu apakah Jokowi yang muslim itu musuh Islam atau 'musuh-kita' hanya karena beda pandang dalam ikhtiar menegakkan syariat. Realitasnya dengan sesama pergerakan Islampun kita juga saling bermusuhan. Lihatlah sesama muslim saling merendahkan: senang saat HTI dibuang. Yang mengaku Islam Nusantara kita musuhi. Ber-Muhammadiyah pun dicap intoleran.

Gus Dur dibilang agen Yahudi, Buya Syafi'i dibilang tua pikun, Amien Rais dibilang si tua nakal, Aqiel Syiradz dibilang tokoh neo-lib, Quraisy Syihab dibilang agen Syiah, menteri agama dikutuk, Habib Rizieq dibilang radikal, Lalu kita ini siapa, Islam yang mana, mewakili siapa.

Ulama tak cukup, kita cari musuh lain: Bakul terompet pun menjadi sasaran amuk. Penjual kembang api kita bilang Majusi. Penjual bunga di bilang hedon. Orang bershalawat kita bilang bid'ah dan perusak agama. Pakai gamis dan berjenggot dicurigai teroris. Bahkan Yahudi dan Nasrani juga masih belum cukup maka kita perlu memperpanjang daftar deret musuh.

Semua kita musuhi, kenapa? Karena kita merasa lebih baik dari siapapun, sebagai mana syetan menyombongkan diri (wastak-baru) di depan Adam. Syetan (merasa lebih baik) itu musuh kita yang nyata (aduwwum mubin) yang merasa lebih baik dari siapapun.

Merasa lebih baik adalah sumber segala petaka, kebencian juga permusuhan, sebab itu sikap syetan, itulah musuh yang nyata. Sayangnya setiap kita mengatakan 'musuh yang nyata' (aduwwum-mubiin) kita malah menunjuk pada yang lain padahal kita sendiri harusnya. Islam yang besar itu kemudian mengeras, kemudian mengerut, kemudian mengecil, kemudian menyendiri. Bukan Islamnya, tapi kita. Benar kata Syaikh Muhammad Abduh :"Al Islam mah-jubn 'alal muslim". Kita yang membuatnya tertutup dan mengerut.

Kita yang membuat Islam mengecil karena kita saling mufaraqah. Kita yang membuat Islam jumud karena sempit pandangan. Benar bahwa: Al Islamu ya'lu wa la yu'la alaih. Tapi bukan kita yang tertinggi. Benar bahwa Islam itu sempurna tapi bukan kita yang sempurna itu. Benar bahwa Islam agama final tapi kita bukan yang final itu. Kita hanya 'pejalan' menuju titik yang telah digaris sesuai taqdir Allah ... maka rendahkan sayap .. agar kita tak mewarisi sikap syetan dan terus mencari musuh. Wallahu a'lam.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar