Selamat Hari Rindu Sedunia
Cari Berita

Advertisement

Selamat Hari Rindu Sedunia

Minggu, 07 Januari 2018

Ilustrasi (foto : Vemale.com)
Indikatorbima.com - Hari-hari berlalu begitu saja. Sedang hatiku makin tak beres; bahkan tak waras. Pikiran tidak keruan, yang hadir hanya resah dan gelisah. Siapa menduga, Mas Romi semakin jauh dari kehidupanku. Dulu, sebelumnya tiada hari tanpa dia. Senyumnya. Candanya. Aku terlalu nyaman dalam buai cintanya. 

Sekarang, aku harus kuat menelan hari-hari pahit tanpa dia. Padahal ini sudah dekat dengan waktu kami wisuda. Apa yang membanggakan dari semua ini bila aku tanpa Mas Romi.

Seolah-olah Tuhan tak peduli padaku. Mas Romi semakin lenyap dari hidupku. Aku teramat rindu padanya, meski sekadar mengitari jalan desa, makan batagor favorit kami, duduk menatap langit jingga pada sore hari di alun-alun tugu. Itu... Aku rindu senyummu, Mas. Aku rindu caramu mencintaiku. Aku rindu semua tentangmu, Mas.

"Mas, aku mau wisuda dipercepat. Kamu?" Kataku di motor sepulang kuliah saat Mas Romi menjemputku.

"Aku mau.... ," dia agak berfikir.

"Nikah cepat sama kamu. Hehe."

"Aku juga mau, Mas." Kataku sambil kupeluk dia dari belakang dan mendekatkan mulutku di telinganya saat ngomong itu.

"Tapi sekarang aku paling mau batagor," katanya lalu senyum.

"Nikah apa batagor?" kataku mengerutkan hidungku.

"Nikah dan dimasakin batagor yang enak sama kamu?" tangan kirinya memperagakan simbol enak.

"Setiap hari." Katanya lagi.

"Suka batagor apa aku, Mas." Aku tanya. 

"Suka aku aja. Ha ha ha ..." tawanya.

"Kok?"

"Aku yang kamu cintai sepenuh jiwa raga." Katanya sambil mesem.

Aku seperti biasa memukul punggungnya dengan pelan. Kadang kalau geregetan aku menggigit bahunya. Tapi pakai cinta gigitnya.

Jujur, aku sangat rindu dia. Tapi kami sudah putus. Dan aku menyadari bahwa aku salah memutuskan dia. Aku khilaf. Ya sudahlah. Mau apa lagi? Mas Romi sekarang mungkin sudah punya pacar lagi. 

Tapi perlu kalian pahami. Bahwa, saat ini aku benar-benar hanya ingin melihat Mas Romi bahagia, meskipun untuk bahagia itu dia tak harus bersamaku. Insyaallah aku juga akan segera menikah dengan lelaki pilihan Allah. Dan aku akan bahagia.

Eiiit... Maaf...

Tapi, Jujur aku lebih bahagia bila sama kamu, Mas. Hanya kamu yang ngerti aku. Bahkan di saat aku lagi dapet sekalipun kamu selalu rela membantuku. Merubah ceria di muramku. Merubah tawa di marahku. Orang M kan meledak-ledak, tuh. Itulah wanita. Dan untungnya ada dia. 

"Yuli, mau bantu aku nggak?" katanya di telepon, pagi hari Ahad.

"Bantu apa?"

"Mau nggak, dulu."

"Apa dulu, Mas?"

"Mau nggak?"

"Mmmm... mau.. eh.. nggak, ahgg. Apa sih, Mas?"

"Mohon bantu pacarku disuruh cepat mandi, dibersihkan tubuhnya, didandani wajahnya, dipakein baju bagus, diberi parfum, dan dipercantik pokoknya. Karena sebentar lagi aku mau ajak dia jalan-jalan. Oke...?" katanya. Aku merasakan Mas Romi sedang senyum-senyum di sana. 

"Mmmmm... mau... Mas... he he he... " aku mengkekeh.

Itu berkesan. Dan banyak lagi yang berkesan dari Mas Romi.

O...iya, aku belum cerita kenapa aku panggil dia 'Mas' kenapa tidak manggil sayang --dan sebenarnya panggilan sayangku ya 'Mas' ini. Karena Mas Romi memang lebih tua tiga tahun di atasku. Kami seangkatan kuliah 2007 di jurusan yang berbeda. Mas Romi lulus SMA tak langsung kuliah tapi mengurus usaha material bangunan milik orangtuanya, lalu ditahun ketiga ia merasa jenuh akhirnya kuliah. Dan, aku jatuh cinta padanya sejak sama-sama diospek. Jatuh cinta padanya berkali-kalai dan selamanya. Tapi dia sudah nikah.

Semoga menghibur, sobat! Ini bab sebelum judul "Asal Engkau bahagia".

Penulis : Mulyanto