Rosh Hoshana Ritual Yahudi
Cari Berita

Advertisement

Rosh Hoshana Ritual Yahudi

Senin, 01 Januari 2018

Ilustrasi (foto : Newsweek)

Indikatorbima.com - Bukan hanya terompet dan mercon tapi cuti dan libur pada tahun baru 1 Januari adalah kebiasaan pagan sebagai dedikasi terhadap dewa Janus. Orang Yahudi merayakan tahun baru sebagai perayaan Rosh Hoshana dimana orang Yahudi libur dan cuti sebagai simbol pertemuan kudus (imamat:23/24).

Tahun baru yang lazim diperingati setiap tanggal 1 Januari sebenarnya adalah perayaan mengenang Dewa Janus. Salah satu dewa yang diyakini membawa banyak kebaikan di awal tahun.

Dewa Janus disebut juga dewa pintu gerbang adalah mithos yang diyakini para penyembah pagan pada jaman Romawi kuno. 1 Januari sendiri adalah satu nama bulan dalam tahun Masehi yang disusun oleh Julio Caesar yang kemudian dirayakan sebagai awal kalender.

Kaum Yahudi kemudian memberi tambahan, perayaan awal tahun baru satu Januari sebagai perayaan Rosh Hoshana (tahun baru), sebagai hari cuti atau hari libur ada terompet atau shofarot sebagai simbol pertemuan kudus. Pada awalnya terompet digunakan sebagai piranti aba-aba dalam peperangan sebelum kemudian dijadikan alat musik sejak jaman renaisance.

Membincang:"barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia menjadi bagian dari kaum itu, memang menarik. Semua stigma diarahkan kepada siapapun yang berserupa dianggap kafer. Termasuk merayakan tahun baru dengan semua perangkatnya: terompet, mercon, kembang api dan cuti atau liburan tahun baru adalah bagian dari ritual agama pagan.

Kita juga ikut menikmati dengan cara yang kita sukai. Beragam aktifitas di hari libur kita lakukan. Nge-mall, nonton, gathering, pelesir hingga bershalawat atau sekedar makan dan kumpul-kumpul bersama keluarga di rumah, semua dilakukan untuk mengurai jenuh persis sama dengan para penyembah pagan.

Apakah liburan cuti Natal dan tahun baru juga menjadi bagian dari bersetia kepada Dewa Janus atau Rosh Hoshana. Lantas disebut kafer seperti halnya peniup terompet dan pembakar mercon. Saya pikir terlalu keburu memberi stigma kafer. Tak segampang itu, hanya meniup terompet lantas iman tercabut.

Informasi berkembang cepat, pengetahuan bisa di dapat dari manapun jadi tak elok menganggap bodoh masyarakat, agar nasehat dan fatwa tak jadi bahan tertawaan karena dianggap lelucon di siang bolong.

Berdoa saja kepada Allah taala agar iman kita diselamatkan dan tak gampang membuat stigma siapa yang meniup terompet atau liburan dan cuti di tahun baru dia telah kafer ... ah yang bener ?? 


Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar