Puisi : Nostalgila, Suatu Waktu, dan Sederhana yang Terlupa
Cari Berita

Advertisement

Puisi : Nostalgila, Suatu Waktu, dan Sederhana yang Terlupa

Jumat, 26 Januari 2018

Ilustrasi (foto : pinterest.com)
Nostalgila

Hari itu, pukul tujuh belas
Kau pernah mengajakku di sore yang hampir tuntas

Aku lebih dulu duduk di sebuah pohon tua dengan banda neira yang merdu berlagu, sementara kecemasan lebih menakutkan dari angin mengempaskan daun berjatuhan.

Jangan menyerah; katamu, sambil berpayah-payah memperbaiki helai rambutku yang tak searah.

Jawabku sederhana; Jika kau siap menaruh hati, berarti kau bersedia menggenggam lebih kuat amukan badai; dan kita hanya gerombolan semut yang tak sengaja terselamatkan oleh pijakan kaki.

(Patang puluhan, 2018)

Ilustrasi (foto : Pinterest
Suatu Waktu

Kapan kau jatuh cinta pada sebuah pertemuan?
Kapan kau menaruh hati pada sebuah kenyamanan?
Kapan kau tertawa pada sebuah kesedihan?
Kapan kau menolong pada sebuah kesusahan?
Aku pun lupa kapan hari itu.

Konon, hal sekecil apapun kita lakukan akan menjalar menjadi akar yang terus bercabang.
Mungkin hari ini akan mati, esok dijenguk kembali atau tidak sama sekali.

(Patang puluhan, 2018)

Ilustrasi (foto : pinterest.com)
Sederhana yang Terlupa

Pergantian musim telah tiba
Hujan mulai mengetuk daun jendela 

Sebuah jawaban telah kudapatkan, Di ujung punggungmu; hujan sama sekali tidak punya alasan mencicipi bajumu yang kusut.

Tidak seorang pun tahu, kapan ia akan mereda; berapa lama waktu yang dihabiskannya memenuhi bibir tanah yang telah lama menganga.

Perihal bahagia sangat sederhana.
Kau bisa melakukannya tiap hari semampu yang kau suka,
Tapi kau tidak pernah tahu sampai kapan kebahagiaan kau beri untuk seseorang yang kau suka.

(Patang puluhan, 2018)

Penulis : Khairul Farid