Potret Buram Pentas Politik Bima
Cari Berita

Advertisement

Potret Buram Pentas Politik Bima

Senin, 08 Januari 2018

Foto : Penulis 
Indikatorbima.com - Di setiap momentum politik selalu ada fenomena yang menyita perhatian publik sehingga mengundang berbagai tanggapan serta reaksi dari berbagai pihak, baik yang terlibat secara langsung maupun tidak, baik di dalam realitas sosial maupun di media sosial. Terlebih pada saat menjelang pemilihan, baik itu pemilihan kepala desa, calon legislatif, bupati, walikota, gubernur, hingga pemilihan presiden.

Dari sekian banyak fenomena yang ada, perhatian penulis lebih dikhususkan pada saat kampanye berlangsung (tanpa mengabaikan hal lain) yang mana di dalamnya masih menorehkan citra buruk dan terkesan “kurang mendidik” yang acapkali terjadi. Ironisnya, hal ini dianggap biasa oleh sebagian orang dengan dalil dinamika dalam berpolitik, padahal itu hanyalah alasan untuk menutupi kebobrokan yang tengah terjadi.

Bila ditinjau dari konteks strategi politik, sudah barang tentu kampanye adalah suatu keharusan (keniscayaan), selama di dalam pelaksanaannya tidak melanggar aturan-aturan sebagaimana yang telah diamanahkan dalam undang-undang. Seperti halnya, black compaign, money politic, dan sederet strategi-strategi busuk lainnya guna memuluskan langkah menuju ke tampuk kekuasaan.

Pada dasarnya kampanye merupakan suatu instrumen politik yang tidak hanya sebagai media untuk mentransformasikan janji-janji supaya menarik simpati masyarakat, akan tetapi melalui instrumen tersebut ada berupa penegasan komitmen yang kelak akan dipikul di dalam pentas politik. Namun, di berbagai kesempatan justru yang terjadi berbanding terbalik.

Fakta kurang mendidik yang kerap kali terjadi pada saat kampanye (bahkan sebelum masa kampanye) adalah adanya ujaran kebencian, caci maki, saling mencela antarpendukung dan lain sebagainya seakan tak terbendung. Sebagaimana yang dikatakan oleh Andi Setiadi, kampanye telah menjelma sebagai panggung yang pongah, yang dijadikan instrumen untuk menebar fitnah, menyudutkan pihak lain, dan menggiring masyarakat ke dalam pusaran konflik yang begitu kejam.

Hal senada pun yang diistilahkan oleh Emha Ainu Najib (Cak Nun) dengan saling gonto-gontokan, bukankah adanya kampanye justru memicu keretakan dan potensi konflik antarmasyarakat semakin besar?

Fenomena tersebut membuktikan betapa kita masih belum dewasa dalam menyikapi dinamika politik dan memungkiri bahwa perbedaan adalah keniscayaan.

Sekiranya praktek seperti ini masih terus dipertontonkan oleh para elit politik dan para pendukungnya, hal ini tentu sungguh miris, maka inilah yang kemudian penulis maksud dengan Potret Buram Pentas Politik kita dewasa ini. Dengan demikian, pendidikan politik yang selama ini digaungkan guna memberikan pencerahan terhadap masyarakat hanyalah omong kosong dan buaian belaka tanpa dibuktikan dalam implementasi riil di lapangan, maka untuk mencapai cita-cita bersama pun jauh dari harapan.

Olehnya demikian, melalui momentum pilkada serentak yang sebentar lagi akan digelar, khususnya daerah Nusa Tenggara Barat dan lebih-lebih Kabupaten/Kota Bima. Penulis mengajak kita semua untuk menyukseskan setiap agenda politik daerah secara bersama-sama tanpa saling mencela, menfitnah, mencaci maki, sikut-menyikut, dan sederet hal lainnya sehingga tidak muncul garis demarkasi antarsesama. 

Penulis memiliki keyakinan bahwa masing-masing di dalam diri masyarakat Bima terpatri nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam filosofi “Maja Labo Dahu” (Malu dan Takut), dengan harapan, nilai-nilai luhur tersebut dapat dijadikan sebagai filtrasi dalam menyikapi dinamika politik yang saban hari kian sembrawut oleh karena ego kelompok yang mendominasi. 

Penulis menyadari bahwa apa yang diuraikan dalam tulisan ini tentu menuai pro dan kontra, artinya ada yang menerima dan ada pula yang tidak, bahkan bisa jadi dipertentangkan. Namun, apa pun itu, penulis menerima dengan hati terbuka. 

Wallahua’alam bissawam.

Penulis : Anwar A. Wahab (Mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Semarang).