Pilkada dan Hari Raya Parpol
Cari Berita

Advertisement

Pilkada dan Hari Raya Parpol

Sabtu, 13 Januari 2018

Iluatrasi (foto : beritagar.id).
Indikatorbima.com - Demokrasi tidak menjanjikan kesejahteraan tapi kebebasan. Kebebasan bila diberikan kepada orang dengan status sosial rendah maka dia akan jual kebebasan itu dengan harga murah. 

Tak pernah disebut korelasi voting pada bilik suara dengan segala macam janji hidup enak. Harga kebutuhan pokok murah terjangkau. Pendidikan egaliter dengan tidak membedakan si bodoh yang kaya dengan si miskin pintar.

Demokrasi kehilangan konteks dan relevansi sebab demokrasi telah dikerdilkan dengan suasana voting untuk memilih seorang pemimpin. Demokrasi kehilangan rohnya yang adi luhung, hanya menjelma menjadi sebuah cara lain untuk menindas dan mengeksploitasi rakyat.

Di tengah kehidupan yang makin menyempit harga kebutuhan melambung tinggi, rasanya tak elok jika kemudian perhatian para pemimpin hanya fokus pada bagaimana cara meraih dan mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara.

Rakyat tak ubahnya hanya kumpulan para ikan yang akan dijaring entah dengan cara apa. Maka Socrates pun menampik. Demokrasi adalah tipuan para pemilik partai. Kehebohan yang diciptakan untuk membuat partai terlihat sibuk bekerja. Socrates pun harus mengaku kalah. Ia kemudian dihukum meminum racun hingga mati sebab ia berada pada demokrasi yang kalah.

Sampai disini saya tak menemukan secuil pun relevansi Demokrasi yang kemudian diterjemahkan dengan Pilpres, Pilgub dan pil-pil yang lain dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat, keadilan atau persamaan.

Yang saya tahu adalah kesibukan para pemilik partai meningkat berbanding lurus dengan kesejahteraan dan kemewahan yang mereka dapat. Lantas dimana rakyat yang katanya pemegang otoritas kekuasaan tertinggi itu, hanya sekedar menentukan harga lombok untuk sambal saja tak lagi mampu. Ah demokrasi ...

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar