Pesta Demokrasi di Kota Bima Rawan Money Politik
Cari Berita

Advertisement

Pesta Demokrasi di Kota Bima Rawan Money Politik

Senin, 01 Januari 2018

Gedung kantor Wali Kota Bima (foto : nasional.republika.co.id)
Indikatorbima.com - Pesta politik sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya, bermula pada tahun 2004, Indonesia pertama kali menerapkan metode pemilihan dalam menentukan para wakil dan pemimpin. Partisipasi politik sangatlah urgen, dikarenakan politik merupakan salah satu penunjang majunya suatu bangsa yang demokratis, salah satunya bangsa indonesia.

Politik merupakan salah satu cara dalam meraih tujuan tertentu, karena secara harafiah politik merupakan siasat dalam mencapai tujuan bersama. Politik hari ini, sudah banyak sekali definisi yang kerap di berikan oleh individu maupun suatu kelompok tertentu, dan terkadang politik yang menjadi suatu cara dalam mengajak, kini bisa saja berubah menjadi mencerai-beraikan, dikarenakan pemahaman tentang politik sudah berbeda-beda.

Politik yang merupakan sebagai sarana dan prasarana dalam menyeru untuk bersatu kini bisa berubah menjadi terpecah belah karna pemahaman berpolitik masih minim di tengah-tengah masyarakat umum. Politik yang sebenarnya adalah suatu cara dalam merancang strategi maupun taktik yang tidak menciderai sesama, kini bisa saja berubah menjadi strategi maupun taktik yang melumpuhkan orang banyak. Sehingga antara saudara dengan saudara, keluarga dengan keluarga tidak lagi akrab sebagaimana biasanya, karena strategi dan taktik politiknya yang salah.

Politik dalam pandangan saya pribadi, yaitu sebagai penunjang kemajuan bangsa yang demokratis. Tetapi kini tidak lagi relevan, dikarenakan beberapa cara orang dalam berpolitik sudah berbeda-beda, tapi itulah politik dalam pandangan saya yang berbeda dengan orang lain. Katakan dalam pesta demokrasi yang menentukan pilihan, entah itu pemilihan DPRD ataupun Wali Kota, banyak cara yang dilakukan oleh individu maupun kelompok dalam mendapatkan suara, sehingga bisa memenangkan pertarungan politiknya. 

Katakan cara yang sebenarnya adalah menyeru dan mengajak kepada masyarakat bersama-sama untuk membangun suatu wilayah ataupun daerah yang lebih baik lagi ke depannya, kini bisa saja berubah menjadi ajakan pemaksaan ataupun dengan bayaran sehingga orang-orang bisa memilihnya untuk memimpin beberapa tahun ke depan. Hal-hal yang demikian itu merupakan salah satu cara yang tidak dicontohkan dalam berpolitik, atau sudah keluar dari koridor politik yang sebenarnya. Sedikit saya menyinggung pesta demokrasi yang ada di tanah kelahiran saya, yaitu Kota Bima.

Pesta demokrasi yang ada di Kota Bima begitu luar biasa, sehingga antusias masyarakatnya bisa di katakan 80% dalam membicarakan politik. Hal yang demikian, merupakan suatu kebutuhan bersama, karena berbicara politik atau pesta demokrasi berarti berbicara nasib masyarakat ataupun daerah yang lebih baik lagi ke depannya. Akan tetapi kebanyakan yang saya lihat, pembicaraan orang-orang terkait politik di Kota Bima cenderung keluar dari pembicaraan politik yang sebenarnya. Itu semua dikarenakan masyarakat Kota Bima masih tidak melek akan politik, sehingga dengan janji-janji manis para calon atau dengan memberikan sumbangan untuk pembangunan suatu wilayah, masyarakat langsung terlena untuk memilih dan mendukung orang tersebut.

Pernah dalam suatu pemilihan wakil rakyat di Kota Bima, saya pribadi dimintai untuk mencarikan suara dengan janji, saya akan difasilitasi dalam biaya perkuliahan setelah dia menang, dan suara yang saya dapat itu akan dibayar dengan rupiah olehnya atau yang biasa kita kenal sekarang dengan sebutan mony politic, tapi tidak usahlah saya ceritakan siapa orangnya dan bagaimana dia hari ini. Yang jelas hal yang demikian itu sudah keluar dari koridor politik yang sebenarnya. Sering saya jumpai atau saya temukan juga di beberapa kelurahan yang ada di Kota Bima, menjelang pemilukada seperti sekarang ini, banyak orang-orang atau kelompok yang mendatangi beberapa kelurahan dengan berbagai pertanyaan ataupun janji serta ajakan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam memilih calonnya atau bahkan dirinya sendiri di pesta politik yang segera tiba.

Siapa sih yang tidak mau menang dalam pertarungan, apa lagi itu pertarungan politik. Tapi satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya, toh..kenapa baru sekarang atau pada saat menjelang pemilu mereka mendatangi masyarakat dan bertanya tentang pembangunan di wilayah tersebut, dan kenapa bukan jauh sebelum moment tersebut mereka bertanya dan mendatangi masyarakat itu ?

Bagi saya sangat miris, karena bisa saja saya mengatakan hal yang demikian itu karena ada maunya terhadap masyarakat. Bukannya jauh sebelum moment itu mereka harus mendatangi dan mengujungi beberapa tempat atau kelurahan, toh pada saat moment pesta demokrasi mereka baru muncul dengan banyaknya janji lagi. 

Hahaha....tapi itu pandangan saya bukan pandangan anda yang membaca tulisan ini. Saya ingin mengajak para pembaca agar sedikit aktif dalam bertindak dan berpikir sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam pesta demokrasi hari ini, terkhususnya di Kota Bima.

Politik yang sebenarnya itu adalah suatu cara yang menyelamatkan kita di masa yang mendatang dengan memilih orang yang tepat, bukan memilih orang karena bayarannya. Karena hal yang demikian itu merupakan salah satu perpanjangan garis perbudakan di bangsa kita ini, terkhususnya di Kota Bima. Dimana kaum elit sebagai penguasa, dan mayoritas kaum tertindas sebagai realitas sehingga itu akan menjadi dehumanisasi atau berlangsungnya situasi penindasan sebagai tujuan. Jangan heran ketika orang yang membayar kita itu memenangkan pertarungan politik hari ini, lalu dia tidak mau peduli dengan situasi dan kondisi kita ke depannya, karena dulu suara kita di bayar oleh mereka.

Maka dalam hal ini, saya mau mengajak pembaca agar jeli dalam memilih pemimpin, pilihlah seorang pemimpin sebagai pembaharu yang selalu berinteraksi dengan masyarakat setiap harinya, sehingga cita-cita dan tujuan bersama akan tercapai dan bisa kita nikmati secara bersama pula. Berbicara konstalasi politik, Kota Bima merupakan salah satu daerah yang rawan akan politik, karena mulai dari orang-orang yang tidak berpendidikan sampai yang berpendidikan tingkat tinggi sudah pintar berbicara politik, dan bahkan orang yang tidak bergelut dalam dunia pendidikan politik sudah tahu bagaimana mengatur strategi politik.

Maka dari itu kita harus bisa memberikan penjelasan yang lebih terperinci lagi kepada masyarakat awam terkait pesta demokrasi atau berpolitik yang baik dan benar. Lewat tulisan ini saya ingin membagi sedikit apa yang saya tahu terkait kesadaran dalam berpolitik, yang pertama adalah kita harus bisa menjadi pelopor untuk mempropoganda masyarakat atau kelompok untuk melakukan penyadaran berpolitik, untuk memahami apa yang dimaksud dengan tingkat kesadaran berpolitik, kita harus memahami kenyataan kultural-historis sebagai superstruktur dalam hubungannya dengan infrastrukur. 

Politik yang merupakan salah satu cara dalam mengajak masyarakat untuk memilih pemimpin dengan hati nurani mereka sendiri, bukan karna suatu paksaan atau bayaran. Karena dalam politik yang sebenarnya kita harus jujur adil serta terlepas dari suatu paksaan dan tekanan orang lain.

Oleh sebab itu, kita harus melakukan studi tentang konfigurasi yang historis-kultural, atau yang di sebut dalam bukunya paulo freire dengan budaya bisu. Budaya ini merupakan bentuk superstruktur yang mengkondisikan sebuah bentuk kesadaran khusus. Dimana seorang individu yang melakukan penyadaran politik terhadap suatu kelompok, sehingga kelompok itu tidak lagi berpolitik buta, atau menjadi pengikut buta dalam berpolitik.

Semoga dalam pemilukada Kota Bima di tahun 2018 ini, kita sebagai salah satu pemilih yang tidak lagi menjadi pemilih yang buta atau pengikut buta dalam berpolitik. Sehingga garis perbudakan tidak bertambah panjang di bangsa ini dan terkhususnya di Kota Bima.

Penulis : Abang Jebra
Editor   : Fuad De Fu