Perempoean dan Jalan Pulang
Cari Berita

Advertisement

Perempoean dan Jalan Pulang

Kamis, 18 Januari 2018

Ilustrasi (foto : istimewa)
Indikatorbima.com - Kamu hanyalah sesobek kertas.
Yang ditulis.
Yang lusuh dan kumal setelah dibaca berulang.
Kemudian dilipat.
Dikirim ke benua yang lain ...

Sepotong sajak dari Adriene Lich untuk perempuan yang terpojok karena kepongahan suami. Perempuan hanya bagian yang tak begitu penting. Secerdas dan sepintar apapun. Hanya pelengkap. Mendapat aplaus sebentar sebelum kemudian dilipat karena telah kumal.

Ini dunia laki laki. Perempuan hanya teman minum kopi saat rehat. Sebelum perempuan lain berebut menggantikan, sosok perempuan tak ubahnya hanya sebuah kertas yang ditulis sebelum sobek tak berguna.

Hanya penghargaan basa-basi dan pernyataan yang dibuat untuk menjaga suasana tetap riuh menyenangkan. Perempuan dibutuhkan sebagai pewangi atau penyegar. Sebelum dibuang tak dibutuhkan.

Harian kompas tahun 1990 setidaknya pernah memberitakan perempuan paruh baya yang sengsara. Dan gagal bunuh diri karena tak cukup uang membeli racun. Darmanisiah isteri Asmawi buruh bangunan dari Jambi yang merantau. Di Jakarta mereka tinggal di rumah petak, tak punya apapun kecuali sprei kumal dan rak piring reot dimakan rayap. Lima anak yang mereka titipkan pada sanak famili di kampung halaman karena tak mampu menopang hidup.

Di Jakarta yang keras. Dimana pertumbuhan ekonomi tumbuh pesat. Darmanisiah hidup dan sengsara. Saat secangkir kopi seharga 50 ribu hingga 160 ribu diseruput. Harga kamar hotel bintang lima antara 2 hingga 3 juta semalam. BMW dan Harley ramai dipamerkan. Darmanisiah hidup dengan gaji 70 ribu sehari. Ia bersama Asmawi suaminya harus bekerja keras membagi. Dari upah yang tak kunjung cukup.

Darmanisiah keras berpikir. Mencari tambahan nafkah. Untuk mengurai ongkos hidup yang terus naik. Ia ingin membantu dan mencari jalan pulang. Bekerja apapun yang penting beban terkurangi. Tapi Asmawi melarang dan tak mengijinkan. Pantang bagi Asmawi perempuan bekerja. Ke laki-laki-annya terusik. Perempuan harus patuh pada suami termasuk menerima belanja berapapun, meski tak cukup. Dan perempuan harus hidup sesuai keadaan suami. Tidak bertanya, apalagi membantah, karena bekerja adalah cara keras tidak percaya pada suami.

Pada pagi menjelang siang Darmanisiah pergi ke pasar loak membawa sprei satu-satunya. Dijual. Dibelikan baygon paling kecil. Di rumah ia tenggak seluruhnya. Ia ingin mati. Keluar dari jalan buntu. Tapi sayang harga spreinya tak cukup membeli baygon yang agak besar. Ia gagal mati karena racun yang dibeli terlalu sedikit. Ia ditolong tetangga sekitar dibawa ke Puskesmas.

Malang kian bertambah, karena Asmawi harus menebus ongkos rawat inap di rumah sakit dan obat di apotek. Dan Asmawi pun harus menjual rak piring, hartanya yang terakhir untuk ongkos pulang pergi bezook ke rumah sakit karena tak bekerja. Darmanisiah hanya diam. Dari mata yang mengering.

Malam Ied itu keduanya telungkup tanpa teman. Tuhan dipuji dengan takbir. Suara bedug. Mercon dan baju baru. Hanya sayup terdengar suara tangis lima anaknya di Jambi. Tanpa baju baru dan peluknya. Air mata entah kemana. Seakan Tuhan lupa Darmanisiah ada dimana.

Kepada siapa akan mengeluh. Ketika Tuhan mengalami reduksi. Dijauhkan dan dibuat elitis. Agamawan paling bertanggung jawab. Sebab Tuhan dipersepsi tak bisa tersenyum. Serius dan suka menghukum. Lantas kepada siapa Darmanisiah berkeluh. Baygon kecil mungkin dianggap sebagai cara pintas bertemu Tuhan untuk mengadu soal hidup berat tak berkesudahan. 

Darmanisiah mungkin tidak sendirian. Ada puluhan atau ratusan yang lain. Senasib dan punya cerita sama atau lebih. Pun dengan Asmawi, laki-laki pongah tapi tak mampu mencukupi.

Mungkin kita berpikir apakah ada kisah itu di jaman seperti ini. Tapi perempuan terus saja berkisah tentang kelemahannya dan laki-laki meski tak pecus tetap saja ingin berkuasa dengan kedunguan yang ia punya.. pada akhirnya perempuan tetap saja sebagai sesuatu yang gampang dikurbankan.., dan laki-laki tetap pongah berdiri.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar