Nistakah Jika Berpolitik?
Cari Berita

Advertisement

Nistakah Jika Berpolitik?

Kamis, 25 Januari 2018

Ilustrasi (sumber : Facebook @Nurbani Yusuf)
Indikatorbima.com - Jika orang-orang baik tak mau berpolitik maka jagat politik akan di isi orang-orang jahat, demikian Erdogan seorang politisi muslim dari Turki yang memenangi kursi perdana menteri berujar. Jargon 'politik itu kotor' telah membuat sebagian orang Islam menjauh, meninggalkan dan tidak sedikit yang membenci dianggapnya wilayah najis yang harus dijauhi.

Bagaimanapun tak dipungkiri bahwa politik selalu identik dengan konflik, intrik, untuk mendapat dan mempertahankan kekuasaan, Niccollo Machiavelli penulis buku Le principe memberi nasehat bagaimana mendapat dan mempertahankan kekuasaan yang efektif, tujuan menghalalkan semua cara, katanya pendek. Apapun bisa dan boleh dilakukan asal tujuan tercapai.

Konsep politik mengalami reduksi makna termasuk stigma negatif yang ditabalkan. Politik itu kotor kata beberapa ulama dan mubaligh berapi-api, maka pandangan miring kepada para politisi kita terus merebak disamping berbagai kasus politik yang terus menerus seakan menjadi pembenar bahwa politik adalah dunia hitam yang harus dijauhi setiap muslim.

Zoon Politicon. Manusia adalah 'makhluk politik' meski keras membantah. Realitasnya kita semua berpolitik praktis dengan kepentingan dan ruang berbeda. Nilai dan norma politik itu yang perlu ditegakkan ada kesantunan dan keadaban yang harus dijaga dan dihormati bersama. 

Kita semua berpolitik praktis tanpa kecuali. Dakwah Islamiyah juga politik praktis. Bagaimana syariat agama Islam tegak juga politik praktis. Menegakkan khilafah juga politik praktis. Musran, Musycab, Musyda, Musywil hingga Muktamar juga politik praktis. Bahkan membuat rumah tangga kita tetap utuh terjaga, kita juga harus berpolitik praktis di hadapan istri atau suami.

Artinya makna politik begitu luas, sayangnya kemudian kita kurung hanya pada persoalan kekuasaan dan strategi nya dengan mengurangi makna dan substansi politik secara luas. Lantas kita berpikir bahwa politik itu kotor, sesuatu yang harus dihindari atau dijauhi.

Ketika stigma politik itu kotor diiyakan dan harus dijauhi maka yang mengambil peran politik justru orang orang buruk. Karena orang baik tak mau mengambil peran itu. Lantas siapa sebenarnya yang baik. Ketika orang yang mengaku baik lari dari realitas hidup, menyepi di bukit-bukit, menjauhi dunia dengan alasan men-sucikan diri dan hati.

Maka datanglah sekelompok orang orang buruk, mengambil peran politik dengan penuh ambisi. Dihabiskan semua tanpa sisa sementara orang-orang baiknya hanya mengutuk dari pinggir-pinggir tak punya kekuatan dan pengaruh.

Kenapa orang-orang baik yang mewarisi sikap Abu Bakar ra, Umar Ibnul Khattab ra, Ustman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Umar bin Abdul Aziz ra tidak tampil di depan mengambil peran. Betapa indahnya jika dunia politik di huni orang-orang baik. 

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar