Melihat Borju Menghibur Diri
Cari Berita

Advertisement

Melihat Borju Menghibur Diri

Selasa, 23 Januari 2018

Salah satu pamflet Ciline Dion (sumber : tirto.id)
Indikatorbima.com - Tiket Konser Celine Dion 25 juta per-sobek laris terjual. Kita akan melihat bagaimana orang-orang kaya menghibur diri di Jakarta. Pertunjukan musik papan atas dari artis mahal. Tak gampang mendatangkan. Contoh baik untuk menghibur diri di tengah sibuk politik yang tak kunjung selesai. Agar tercipta keseimbangan diantara semua kebutuhan. Ini murni bagaimana soal cara menghibur diri menghilangkan penat.

Di kampung di mana saya tinggal, pertunjukan ludruk penuh sesak. Tua, muda berkumpul di lapangan atau halaman luas. Berkemul sarung, asap rokok dan kacang godhog. Pun di kampung lain tak jauh beda. Hiburan proletar tak kunjung padam meski harus digerus modernisasi dan globalisasi. Sandhuk, ketoprak, wayang kulit, kuda lumping, dan bantengan bagi kami kaum buruh masih belum tergantikan.

Tak ada larangan beli tiket seharga 25 juta selembar dan kita tak harus ngiri dengan mereka yang menukar penghasilan kita selama setahun dengan duduk 2 jam di balkon pertunjukan. Hidup memang misteri, tak ada jaminan bahwa mereka bisa senang dengan uang sebesar itu dan kita bisa saja tambah sengsara karena tak punya duit.

Burung tetap berkicau riang meski tak punya simpanan makanan apalagi deposit. Rasulullah memberi contoh agar kita punya hati setipis burung. Berangkat pagi dalam keadaan perut kosong pulang sore dalam keadaan kenyang. Mereka tak pernah menyimpan makanan atau perbekalan. Allah sudah menyediakan rizki pada setiap makhkuk yang diciptakan.

Kita bertawakal apapun ketetapan yang diberikan. Tidak mengeluh apalagi protes pada Tuhan. Dan tidak perlu pula ngiri pada yang kebetulan diberi kemampuan membeli tiket 25 juta untuk sebuah konser musik.

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka beritakanlah' demikian firman Allah taala dalam surah Ad Dhuha. Jangan disembunyikan apalagi berpura-pura miskin. Rasulullah saw bersabda ada empat klasifikasi keadaan manusia. Pertama, kaya di dunia miskin di akhirat. Kedua miskin di dunia kaya di akhirat. Ketiga miskin di dunia miskin pula di akhirat. Ke empat kaya di dunia kaya pula di akhirat.

Orang kaya kufur nikmat. Miskin yang sabar. Miskin yang sombong dan orang kaya bersyukur. Kita tidak tahu ada yang dimana. Maka tak ada halangan beli tiket 25 juta, koleksi harley, Jaguar, emas dan permata sebagai tanda syukur memberitakan nikmat setelah zakat dan sedekahnya juga sudah tunai. Ia bisa berhibur dengan cara yang dimaui. Mereka adalah sekelompok yang ditinggikan. Kaya di dunia kaya pula di akhirat.

Sekumpulan orang miskin datang kepada Rasulullah. Wahai Rasulullah orang-orang kaya shalat seperti kami, mereka juga puasa dan membaca Al Quran. Tapi mereka pergi haji membayar zakat dan sedekah sedang kami tidak.

Kemudian Rasulullah saw mengajarkan agar mereka membaca tasbih, takbir dan tahlil sebanyak 33 kali usai shalat agar setara dengan orang-orang kaya. Tapi kemudian orang kaya juga melakukan dengan jumlah yang sama. Orang-orang miskin mengeluh lagi kemudian Rasulullah saw menjawab itulah kelebihan yang Allah berikan kepada setiap hamba-Nya. Wallahu a'alam.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar