Melawan Politik Sektarian
Cari Berita

Advertisement

Melawan Politik Sektarian

Selasa, 23 Januari 2018

Ilustrasi (sumber : indoprogres.com)
Indikatorbima.com - Penolakan Pak Prabowo Soebiyanto terhadap amanat Abuya Habib Rizieq Syihab mengusung La Nyala sebagai salah satu bakal calon gubernur patut di apresiasi sebagai upaya membendung politisasi agama dan elitisme. Agar kemandirian partai politik tetap terjaga dari pengaruh sektarianisme yang membahayakan keutuhan bangsa. Bagaimanapun Parbowo adalah seorang patriot sejati yang mencintai tanah airnya. Meski Abuya Habib Rizieq Syihab juga tidak salah sebagai upaya merawat ghirah spirit gerakan aksi bela Islam 212.

Politik memang dinamis dan tak bisa di kopi dan paste. Menjadi lawan di Jakarta tapi bersahabat di Jawa Timur. Politik memang elok, tak ada teman atau lawan abadi sebab yang abadi adalah kepentingan. Maka hanya berharap pada ABI 212 untuk memenangi pertaruhan politik adalah klise.

Dengan mendukung Gus Ipul atau ibu Khofifah yang punya basis religius sangat kuat maka La Nyala dan isu agama menjadi kartu mati meski direkomendasi Abuya Habib Rizieq Syihab. Pun di Jawa Tengah pasangan Pak Ganjar Pranowo dengan salah satu putra Kyai Maimun Zubair akan mematahkan semua isu SARA dan sektarinisme. Apalagi Jawa Barat ada pak Ridwan Kamil, pak Dedy Mizwar, dan pak Sudrajad hampir semua pasangan memiliki latar belakang religius kuat meski dengan dukungan partai beragam.

Dengan konstelasi politik terbuka dan sebaran calon muslim yang beragam pada semua partai pengusung maka jagat politik Indonesia akan berubah total. Kelompok nasionalis sekuler cepat berubah setelah kekalahan di Jakarta, mereka mengakomodasi calon dari kalangan santri. Kematangan politik yang luar biasa. Sementara 212 mengalami stagnasi, pelan dan pasti mulai kehilangan momentum dan ditinggalkan. Lebih karena ephoria jumlah. Tapi kaku dan lamban membaca situasi. Semua tokohnya mulai merapuh dan berpecahan sebelum sampai di tujuan. 

Alhamdulilah dua kali saya dan keluarga menjadi bagian dari jutaan yang hadir di silang Monas sebagai ikhtiar ijtihad politik yang saya anggap baru. Memecah kebuntuan politik yang tidak kunjung terbuka. Jengah dengan kondisi status quo. Berharap ada perubahan dan Islam kembali bersatu dalam visi yang sama.

Jujur saya awam politik. Dunia yang saya anggap asing dan mungkin saya tak betah tinggal di dalamnya. Dan politik Islam memang menarik. Menariknya bukan karena prestasi dan kemenangannya, tapi justru sebaliknya. Kekalahan dan intrik justru di Negeri yang penduduknya mayoritas muslim. Sebut saja Iraq, Aljazair, Nigeria, Somalia, Afghan, Syuriah, UEA, Quwait, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, apalagi hanya Indonesia yang jauh dari Kabah.

Kita belum melihat ada negara Islam yang bisa dijadikan teladan bagi negara Islam lainnya yang bisa dijadikan standar dan rujukan. Semua sedang mengalami masalah dalam negeri. Pecahan manhaj dan idelogi terus meruak meski sama-sama mengusung Islam sebagai tujuan tapi selalu berkonflik dan berselisih.

Bukan hanya Islam yang remuk ketika dipolitisir. Hindhu kalah di India. Budha kalah di Tibet. Kresten kalah di Eropa dan Amerika. Seakan Tuhan tak merelakan agama dijadikan komoditi politik. Maka siapapun yang memperalat Tuhan untuk kepentingan politik bakal kalah' kata Buya Syafi'i Maarif meski di hujat ramai.

Entah benar ketika Nur Cholish Madjid salah seorang cendekiawan paling terkemuka mengangkat sebuah jargon : Islam Yes .. Partai Politik No. Mungkin karena Cak Nur telah melihat bagaimana Islam remuk-redam lebih karena urusan politik. Sebagaimana para sahabat juga telah saling menikam juga karena soal politik. Tapi mungkin Cak Nur juga keliru. Wallahua a'lam.

Penulis : @nurbaniyusuf Kokunitas Padhang Makhsyar