Melawan Feminisme Radikal dan LGBT
Cari Berita

Advertisement

Melawan Feminisme Radikal dan LGBT

Selasa, 23 Januari 2018

Ilustrasi (sumber : leblung.com)
Indikatorbima.com - Paruh pertama abad 21 ditandai dengan menguatnya gerakan feminisme liberal, radikal dan kental nuansa atheisnya. Tantangan besar bagi pergerakan perempuan semacam Aisyiyah . Feminisme adalah gerakan perempuan dengan banyak wajah. Dari Virginia Woolf, Emily Davison, Simone de Beovoire hingga Naomi Woof.

Kumpulan penggiat dan cendekiawan feminisme yang berkeras ingin setara dengan laki-laki yang dikemas dengan berbagai packaging tapi tetap saja menyiratkan ketidak puasan bahkan kebencian dengan sistem maskulin yang dianggap sebagai biang lahirnya ketidak-adilan dan ketidak-samaan.

Pembebasan dan persetujuannya atas transgender dan transeksual (LGBT) dengan alasan apapun jelas sebuah pengingkaran bahkan pembangkangan terhadap semua ajaran kitab suci agama, maka jangan heran bila kemudian ada sebagian yang menyebut feminisme adalah Atheis dengan wajah feminin, karena perlawanannya terhadap nilai-nilai religiusitas. Pergerakan feminisme mengedepankan pada perlawanan absurd karenanya tak akan pernah ada ujung-pangkalnya, seperti terlihat berlari, tapi sesungguhnya tetap stagnan di tempat, begitu terus berulang-ulang. Buah pikir radikal membahayakan. 

Untuk mencapai kesetaraan, feminisme menawarkan dekonstruksi maskulinitas meski tidak bermakna mengebiri peran laki-laki, dan soal besarnya adalah apakah kaum maskulin bersedia di-dekonstruksi ulang. Sebuah pekerjaan yang akan mendapat perlawanan dari penggiat maskulinitas termasuk saya tanpa menyebut agama.

Ikhtiar menghadirkan kembali Siti Badriyah dan Siti Mundjiah dua tokoh penggiat Aisyiyah di awal pergerakan sekaligus konseptor kongres wanita Indonesia pertama. Saya melihat ada satu kelemahan fatal dari gerakan paling fenomenal di abad 20 ini. Aisyiyah dengan jutaan pengikut yang tercerahkan dan ribuan amal berserakan di seluruh wilayah tanah air. Gagal mempublish ide dan gagasan pembaharuan seakan tenggelam pada aktifitas rutinitas yang tak layak diberitakan. Tanwir sebesar itu tak ada satu pun media elektronik maupun cetak yang menjadi media partner bahkan TV-Mu pun juga tidak.

Satu-satunya kelemahan itu adalah tidak mau 'pamer' keberhasilan. Kurang pandai memanfaatkan media sebagai sarana publikasi. Akibatnya banyak ide dan gagasan besar tenggelam begitu saja. Bahkan ada sebagian yang belum tahu karena banyak program pergerakan yang tidak masuk ruang publik.

Berbagai interpretasi tentang perempuan mereka sangatlah paham. Aisyiyah bukan sekedar kumpulan para penagih kesetaraan dan kesamaan di bidang politik, ekonomi, status sosial dan pekerjaan. Aisyiyah adalah kumpulan perempuan pejuang yang membebaskan dirinya dari ketergantungan. Mereka sadar diri dengan pemahaman dan pemikiran yang masak. Mereka memberi bukan meminta. Mereka melakukan sesuatu bukan hanya sekedar berkonsep dan bersilat kata.

Sebagai gerakan amal sudahlah tak berbanding tapi justru melemah pada gerakan pemikiran. Saya belum melihat tokoh-tokoh sekaliber Siti Mundjiah, Siti Badriyah dan Siti Badilah kembali hadir ditengah kebuntuan pergerakan di paruh pertama abad 21. Sebagai mana mereka pernah menjadi konseptor pergerakan KOWANI pertama kala itu.

Ai'syiyah menguat pada gerakan amal tapi melemah pada gerakan pemikiran. Bagaimanapun kita harus akui bahwa gerakan feminisme meski miskin amal tapi kuat di tataran konsep, mereka sangat gigih dan piawai dalam berdiskusi dan pintar memanfaatkan media untuk menggiring opini publik.

Prof Mitsuo Nakamura mengingatkan bahwa Aisyiyah seperti halnya Perkoempoelan wanita Islam lainnya cenderung permisif, bergerak eksklusif karena rutinitas birokrasi oraganisasi yang membuatnya lamban bergerak dan sering gagap merespon isu-isu aktual. Meski harus diakui bahwa Aisyiyah lebih konsern pada aspek pemberdayaan perempuan semisal ekonomi yang lebih realistis ketimbang hanya berdebat yang melelahkan. Sayangnya Aisyiyah kerap abstain pada pembahasan LGBT, perlindungan ibu dan anak, kekerasan seksual, poligami, dan isu isu aktual lainnya.

Namun juga tak selamanya bisa dibenarkan sebab mengedepankan salah satunya (gerakan pemikiran atau gerakan amal saja) akan mengakibatkan gerakan menjadi pincang, menyeimbangkan keduanya adalah sebuah keharusan agar ramalan Romo Yai Ahmad Dahlan tidak terbukti. Beliau kawatir kita hanya sibuk ngurusi organisasi melupakan gerakan pemikiran dan pembaharuan. Wallahu a'lam.

Selamat Tanwir Aisyiyah

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar