Matinya Lembaga Kemahasiswaan Sebagai Alat Perjuangan
Cari Berita

Advertisement

Matinya Lembaga Kemahasiswaan Sebagai Alat Perjuangan

Senin, 29 Januari 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Lembaga mahasiswa merupakan alat atau wadah perjuangan dengan mengangkat problem pokok kemahasiswaan dan kerakyatan. Konsep ini dimiliki oleh setiap dewan mahasiswa, hampir di seluruh kampus di Indonesia. Dimana kedudukan dewan mahasiswa setara dengan birokrasi kampus dalam pengambilan kebijakan, tapi hal ini sudah jarang ditemui saat sekarang ini disetiap lembaga internal kampus.

Melirik sejarah, pada tahun 1974 dewan mahasiswa dibubarkan dikarenakan hampir semua dewan mahasiswa diseluruh kampus di Indonesia mengadakan rapat akbar untuk menolak kedatangan perdana menteri Jepang "Kakue Tanaka" ke Jakarta mengenai penanaman modal asing. Dalam menyikapi penanaman modal asing itu, hampir semua mahasiswa Indonesia melakukan aksi penolakan atau yang kita kenal hari ini dengan peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI). Dengan kejadian ini, Pemerintah saat itu merasa terganggu dan membuat suatu kebijakan yang kita kenal dengan NKK/BKK dan pelarangan mendidirikan organisasi kecuali SMPT dan SMU (OSIS).

Mulai saat itu aktivitas mahasiswa kemudian dikontrol oleh penguasa lewat pihak Rektorat dan Dosen pengajar. Mahasiswa kemudian di dorong untuk melakukan kegiatan seperti seremonial, ekslusif atau mengharumkan nama almamater bahkan mengubah cara kultural dalam penyambutan mahasiswa baru.

Yang menjadi pertanyaan kenapa hari ini kurang mahasiswa yang membicarakan issu tentang dunianya sendiri (sistem pendidikan). Semua itu terjadi karena tidak ada pembasisan atau kaderisasi yang dilakukan oleh setiap lembaga intra mahasiswa, karena bisa dibilang disetiap kegiatan mahasiswa itu sudah di atur oleh pihak kampus, sehingga lembaga mahasiswa tidak lagi memiliki nilai tawar dalam kebijakan birokrat kampus, dengan hal itu kepentingan mahasiswapun tidak lagi diperjuangkan.

Hampir 80% hari ini mahasiswa malas berlembaga, ini di akibatkan dengan adanya represifitas yang dilakukan oleh pihak birokrat kampus terhadap mahasiswa, dengan metode yang sering dipakai di kampus saat ini, yaitu : 

1.Diperketat absensi kehadiran yang dimana kuantitas kehadiran 80% harus dipenuhi untuk mahasiswa bisa mengikuti ujian semester.
2. Merespresif nilai mahasiswa jika bertentangan dengan pendapat dosen atau pihak birokrat kampus.
3. Membuat perjanjian sepihak tampa berdiskusi dulu dengan mahasiswa sebelumnya, seperti pergantian jadwal mengajar dan menambah pertemuan dalam satukali pertemuan.
4. Merespresif mahasiswa yang kritis dengan metode pemanggilan untuk menghadap diruang jurusan dan bahkan mrmanggil orang tua/wali mahasiswa.
5. Menghilangkan demokratisasi ketika mahasiswa menuntut.
6. Pemecatan atau Drop Out terhadap mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di dalam kampus dan lain sebagainya.

Dengan demikian, hari ini mahasiswa secara langsung di dorong untuk cepat menyelesaikan studinya, sehingga mahasiswa hampir tidak memiliki waktu untuk mengkaji banyak hal yang berkaitan dengan sistem kampus atau utamanya sistem pendidikan yang ada di bangsa ini. Sehingga mahasiswa lupa menjawab mengapa pendidikan kian mahal dan tidak lagi ilmiah atau jauh dari nilai demokratisasi.

Tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai proses humanisasi kini tidak lagi melahirkan manusia yang utuh, melainkan melahirkan manusia-manusia setengah robot. Lembaga mahasiswa pada hakekatnya adalah lembaga yang mengabdi kepada kepentingan mahasiswa dan orang banyak, kini telah terjadi reorientasi, dimana lembaga kampus hari ini hanya melahirkan mahasiswa yang intelektualis mereka banyak mengonsumsi teori tanpa adanya aksi nyata atau keberpihakan kepada kepentingan orang banyak.

Tidak hanya intelektualis melainkan melahirkan juga aktivisme, yang dimana pada masa perkuliahan mereka selalu berpikir serta bertindak aktif dalam menyikapi problem keumatan yang terjadi pada bangsa ini, akan tetapi setelah tamat menjadi mahasiswa mereka pun menjadi penindas-penindas baru. Bukan saja intelektualis dan aktivisme melainkan juga banyak yang terjadi pada kehidupan mahasiswa saat ini, dimana mahasiswa berlembaga hanya untuk dijadikan sebagai kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Sehingga kondisi lembaga kampus tidak lagi akomodatif untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa atau aspirasi rakyat, dikarnakan lembaga mahasiswa sudah dikontrol oleh penguasa atau dalam hal ini lewat pimpinan rektorat atau yayasan. Ditambah lagi hari ini mahasiswa melakukan pergerakan itu sudah berpetak-petakan, dimana lembaga A menyikapi persoalan kampus atau persoalan ummat dengan sendirinya dan begitupun dengan lembaga B dan C, sehingga basis massa dari mahasiswa sangat kurang dan bahkan aspirasi tidak di dengar dikarnakan banyaknya tuntutan yang berbeda-beda.

Melirik sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia, dimana salah satunya adalah era reformasi atau runtuhnya rezim orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto sebagai pimpinan negara yang menjabat selama 32 tahun lamanya atau yang kerap dengan sistem diktator, persolan diatas mampu diselesaikan oleh mahasiswa dan pemuda dikarenakan basis massanya banyak, dimana setiap lembaga mahasiswa baik itu lembaga internal kampus maupun ekstra kampus bersatu dalam menyikapi setiap problem yang terjadi.

Hal-hal yang demikianlah yang sulit ditemui hari ini dalam kubu mahasiswa, dimana setiap lembaga lebih memilih mengibarkan benderanya sendiri ketimbang bergabung dengan lembaga lain dalam menyikapi persoalan internal maupun eksternal kampus. Untuk menghindari kemandekan lembaga, kita perlu mempelajari dan mengevaluasi serta melakukan perubahan-perubahan dalam sistem kelembagaan sebagai syarat mutlak suatu lembaga yang maju.

Oleh sebab itu kita perlu mempelajari bersama konsep dimana mahasiswa memiliki kedudukan yang setara dengan pihak birokrat kampus, dimana mahasiswa harus ikut serta dalam pengambilan kebijakan yang di dalamnya adalah tentang kurikulum, alokasi dana kemahasiswaan dan peraturan akademik bahkan mahasiswa dilibatkan dalam kebijakan ekonomi dan politik di ruang lingkup kampus maupun ekstra kampus.

Penulis : Abang Jebra